Archive for February, 2010
Posted on February 21, 2010 - by Yoris Sebastian
Kemarin keliling mall cari kacamata hitam baru, eh ada kacamata hitam dari CK yang lumayan kreatif. Buat yang sering kehilangan USB karena kekecilan, mungkin harus pake kacamata hitam ini. Karena USB nya attached dengan kacamatanya.
Seru juga ya

Posted on February 16, 2010 - by Yoris Sebastian
Saat tulisan ini saya ketik, film Avatar sudah melewati rekor penjualan film tertinggi di North America dan di di dunia, yang sebelumnya dipegang oleh Titanic yang sama-sama dibuat oleh James ‘King of The World” Cameron. Avatar sampai saat ini sudah berhasil meraup 2,2 Billion US$ melewati Titanic yang selama 12 tahun tak terkalahkan dengan rekor 1,8 Billion US$.

Saat nonton film ini baik di bioskop biasa maupun yang 3D, saya berulang kali berguman, “Oh My Goodness!!!” Daya imajinasi yang luar biasa dari seorang James Cameron yang mengambil setting tahun 2154. Semua dipersiapkan dengan sabar sejak naskah mulai ditulis tahun 1994 dan seharusnya langsung digarap setelah sukses dengan Titanic di tahun 1997.
Seperti biasa, saya langsung google bila mendapatkan inspirasi positif dari suatu hal. Baik itu lagu, film, iklan dan lain sebagainya. Yang menarik adalah fakta bahwa James Cameron di tahun 1977, seorang Truck Driver berusia 22 tahun, pergi nonton ke bioskop, nonton film berjudul Star Wars. Setelah itu dia memutuskan untuk quit his job dan mulai masuk ke industry film.
Wow! Kalau saya boleh berkhayal… mungkin James Cameron muda sudah punya ‘mimpi’ bikin film yang lebih hebat dari Star Wars, the minute dia selesai nonton. Namun untuk menggapai mimpinya, James Cameron tentunya harus bekerja keras, belajar kuat untuk akhirnya 32 tahun berikutnya di tahun 2009 membuat Avatar.
Film major pertama dia adalah Terminator di tahun 1984. Sudah terlihat ya, kesukaan James akan sesuatu yang sifatnya masa depan. Namun untuk cari uang, dia juga membuat Rambo: First Blood Part II. Walau tentunya tidak lepas dengan film-film seperti Aliens dan The Abyss. Sampai pada puncaknya dia membuat film Epic Titanic.
Jadi untuk mewujudkan mimpi kita, jangan takut untuk membuat sesuatu yang lain dulu yang mungkin bisa menjadi ‘modal’ untuk mewujudkan mimpi kita. Kesuksesan besar Titanic tentunya memungkinkan James konsentrasi mengerjakan Avatar dengan jangka waktu yang sangat lama. Bahkan rencana awal untuk launch film ini di tahun 1999 (2 tahun setelah Titanic) tidak jadi karena teknologi yang diperlukan belum ada.
Mundur 10 tahun tidak menjadi masalah karena keuntungan Titanic sudah cukup untuk James Cameron konsentrasi penuh pada Avatar.

Jadi inspirasinya adalah “Banyak jalan menuju Roma” Jangan takut untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai mimpi kita saat ini, bila itu bisa menjadi modal untuk kita menggapai mimpi. Asal lakukanlah dengan maksimal. Walau kadang realitas memaksa kita harus mengerjakan pekerjaan yang tidak terlalu kita sukai. Seize the Day. Manfaatkan hari-harimu semaksimal mungkin tanpa melupakan mimpi atau passion yang kita miliki.
(Seperti yang dimuat di KickAndy.com)
Posted on February 11, 2010 - by Yoris Sebastian

Seperti diberitakan di berbagai media, Markis Kido dan Hendra Setiawan siap membela Indonesia untuk Piala Thomas yang tinggal beberapa pekan lagi namun mereka masih menunggu tanggapan PB PBSI atas surat pengunduran diri yang mereka ajukan sehingga mereka bisa mandiri dan tampil sebagai pemain profesional. Memang saat ini banyak pemain senior seperti juga Taufik Hidayat yang memilih untuk menjadi pemain non-pelatnas sehingga bila mereka bertanding, mereka bisa mendapatkan hadiah uang secara maksimal, selain juga bisa mendapatkan uang sponsor secara full.
Saya tidak tahu berapa uang sponsor yang diambil PBSI, demikian pula berapa persen hadiah dari kejuaraan yang dipotong PBSI, namun saya rasa memang sudah saatnya kita berpikir win-win untuk atlit-atlit bulutangkis kita. Kalau tidak, bukan saja gelombang pemain-pemain keluar dari pelatnas. Namun banyak juga yang pindah ke luar negri dan bahkan ada yang sampai ganti warga Negara.
Lantas bagaimana sih deal win-win yang terbaik? Saya tidak tahu karena tidak memegang angka-angka yang sekarang berjalan, namun yang harus disadari oleh PBSI adalah di era social media seperti ini sangat mudah para pemain kita berhubungan dan mengetahui apa yang dilakukan Negara lain dalam menjalankan organisasi bulutangkis di Negara mereka. Mereka bisa dengan santai chat dengan para pemain di luar negri.
Agak sulit memang untuk bertindak win-win. Apalagi dari kecil kita seringkali (tanpa sengaja) diajarkan untuk bertindak win. Contohnya, bila ada lomba untuk anak kecil coba perhatikan apa yang dilakukan orang tua mereka saat pertanyaan disampaikan? Mereka membisiki anak mereka dengan jawaban. Jadi apapun caranya, kamu harus menang.
Jadi saat dewasa agak sulit untuk kita bertindak win-win. Wong dari kecil dibiasakan untuk menang sendiri dengan cara apapun.
Padahal kalau kita bisa berpikir dan bertindak win-win, kan semua pihak diuntungkan dan kesuksesan jangka panjang lebih mungkin terjadi.
Saya ambil contoh English Premier League yang konon merupakan liga sepakbola terbaik di dunia. Pemain-pemain sepakbola terbaik yang ada di muka bumi bermain disana.
Oh, kita langsung bilang bahwa kita tidak bisa dong bandingkan sepakbola Inggris dengan Indonesia. Lho kenapa tidak bisa? Di Indonesia, penonton sepakbolanya suka rusuh. Lah di Inggris malah saking rusuhnya sampai ada yang meninggal. Ingat tragedy Heysel?
English Premier League baru dimulai tahun 1992. Sama seperti Hard Rock Café buka di Jakarta. Tiga tahun yang lalu, saya sempat me-riset hal ini karena sempat punya harapan menggarap olahraga di Indonesia lebih baik.
EPL membagi sebagian besar uang sponsor dan broadcast rights untuk semua tim yang berhasil masuk liga utama. Jadi dengan masuk liga utama saja, sebuah tim sudah bisa mendapatkan uang yang sangat besar jumlah. Belum lagi pendapatan mereka dari tiket nonton dan merchandise. Sepakbola menjadi bisnis yang saling menguntungkan. Karena klub punya uang besar saat masuk liga utama, mereka bisa membeli pemain-pemain yang baik. Bahkan pelatih terbaik juga bisa didapatkan.
Sementara kalau di tanah air, seperti sering kita baca di berbagai media. Klub sepakbola malah menggunakan dana APBD. Sayang sekali. Padahal studi kasus dari berbagai Negara lain bisa kita ambil inspirasinya. Kita punya modal penonton yang sangat cinta sepakbola.
Jadi kalau ditanya apakah Bulutangkis atau Sepakbola kita punya harapan? Jawabanya sangat punya. Tergantung apakah kita mau sedikit kreatif dan belajar dari apa yang terjadi out there. Dan tentunya menjalankan prinsip win-win untuk semua stakeholder dari olahraga tersebut.
(Seperti dimuat di website Kick Andy!)
Posted on February 11, 2010 - by Yoris Sebastian

I really like this movie! Sebuah film yang bercerita tentang Lentera Jiwa. As usual saya tidak akan me-review jalan cerita or sinopsisnya. Kasian buat yang belum nonton. Bandung sebentar lagi akan kebagian di Paris Van Java.
Yang sangat menarik bagaimana the power of Word of Mouth did it again! and now from the form of twitter! Saya sendiri pertama kali baca di twitter VeHandojo. Lalu dari beberapa teman di twitter juga mulai membicarakan. Sampai Raditya Dika dan Tika Panggabean yang bela-belain mau nonton di BlitzMegaplex MOI (Mall of Indonesia). Saya juga pengen sih tapi Kelapa Gading kejauhan buat saya. Apalagi cuma ditayangkan 1x sehari yaitu jam 21.30 sementara filmnya 3 jam artinya saya baru selesai pukul 00.30 dan harus naik mobil lagi pulang ke rumah saya di Kebayoran Baru dari Kelapa Gading.
Untungnya saya kenal Pak David Hilman, boss Blitzmegaplex dan saya email dia twitter dari Tika Panggabean yang berbunyi seperti ini:
From: @TikaPanggabean
Sent: Jan 17, 2010 14:29
Oo I know hrsnya begini: #dearSBY plis suruh Blitzmegaplex perpanjang #3idiots di PP dan teraskota, Eymen!
sent via UberTwitter
Sayang kan, film ini ramai dibicarakan orang-orang di Twitter karena bagus namun sedikit yang nonton. Walau tidak berani berjanji akan putar di PP dan Teraskota, Pak David berjanji akan forward ke programming sebagai input.
Akhirnya (setelah tunggu dan menunggu) input disambut baik oleh pihak Blitzmegaplex, 3 Idiots kembali diputar di PP hanya untuk 2 hari (Rabu 3 Feb dan Kamis 4 Feb) dan hanya untuk 2 show 18.30 dan 21.45 minggu lalu. Karena sudah ada meeting malam pukul 19.00, akhirnya saya paksakan nonton tgl 3 Feb jam 21.45 dan it was worth it!
Ceritanya bagus banget.
Well, sama seperti di seminar Food & Beverage yang sering saya hadiri, saya selalu bilang restaurant kalau mau laku ya makanannya harus enak. Film kalau mau laku ya ceritanya harus bagus.
Dan 3 Idiots ceritanya bagus sekali!

Gara-gara 2 hari sold out, film ini akhirnya diteruskan sampai Selasa 9 Feb dengan 4x pemutaran per hari (demikian pesan di twitter blitzmegaplex) dan hari ini (Rabu) saya liat di website blitz ternyata 3 Idiots masih diputar…. Wow tampaknya Bandung harus bersabar menunggu copy film ini sampai ke Paris Van Java
The power of twitter has proven! Let’s wait for another success story from Mobile Marketing
twitter is mobile right? or online? apapun itu… twitter sudah membuktikan mampu menjadi tools untuk spreading the good news (and bad news too)
Mau nonton 3 Idiots lagi ah weekend ini
Posted on February 1, 2010 - by Yoris Sebastian
Saya senang mengamati perkembangan para market leader yang inovatif. Mereka tidak pernah berhenti melakukan terobosan. Seperti tadi siang, saya baru sadar bahwa Nike Sportwear kita tidak semuanya masih menggunakan the iconic swoosh logo lagi. Ternyata Nike Sportwear punya banyak collection dengan logo-logo baru. Salah satunya Polo Shirt super keren dibawah ini.

Tag masih Nike namun di dada sudah bukan swoosh logo lagi. Apakah inovasi ini akan berhasil atau tidak? We’ll see in the future. Tapi menurut saya, ini merupakan langkah yang tepat untuk peremajaan brand Nike. Brand ini akan tetap legendaris, namun we might need new icon as well
Dengan harga yang sama-sama Premium, kira-kira lebih laku Polo dengan logo Swoosh yang iconic atau dengan logo baru ini ya?

