Amazon Digital Advertising

Sebelum ke Amerika bulan depan, saya kerap membeli DVD lama di Amazon.com dan mengirimkan ke rumah teman saya di kota yang akan saya kunjungi.  Maklum belum ada standarisasi dari PT. POS kita, kapan kena tax dan kapan tidak kena tax.

Namun ada hal lain yang menarik dari halaman web yang saya buka,  sekarang ada iklannya.  Kalau kita lihat di sebelah kanan, tampaknya Amazon mulai memasang iklan sesuai dengan habit dan kebiasaan kita.

Lalu saya coba browsing dan ternyata diramalkan akan menambah revenue mereka sekitar $ 500 Million dalam setahun.  Yang menarik, Amazon memberi sebuah fakta menarik soal kelebihan beriklan di Amazon dibanding Google dan Facebook yang sudah lebih dulu menguasai pasar digital advertising revenue. Begini faktanya: “Google knows what people are searching for. Facebook knows what people like and who their friends are. Amazon knows you searched last week for running shoes, but also that you bought a pair a year ago. That kind of information has advertisers salivating.”

Tidak heran kalau pada saat diluncurkan, penerimaan iklannya langsung naik pesat.  Ini salah satu contoh Corporate Entrepreneurship yang dilakukan sebuah korporasi besar dalam menambah revenue mereka.  Tidak sekedar menambah pundi-pundi revenue, tapi benar-benar punya unique selling proposition dan berguna untuk komunitas mereka serta impactful untuk para pemasang iklan.

Banyak perusahaan terjebak sekedar ingin menambah revenue dari apa yang mereka sudah ada, tanpa memikirkan komunitas mereka plus di pemasang iklan.  Lebih parah lagi, karena sudah ditargetkan besar, terlanjur spend marketing budget besar eh ternyata tidak ada yang tertarik.  Dulu kami di Hard Rock Cafe Jakarta tudak spend besar saat memulai membuat Hard Rock FM.  Setelah sukses, baru kami spend besar-besaran.

8 Comments

  1. Zalora juga begitu mas..iklan yang tampil mengambil referensi dari habit kita, dan bukan hanya dari barang apa saja yang sudah kita beli di Zalora, tapi barang apa saja yang sempat kita lihat (tanpa beli)..:)

  2. mas yoris, apakah ada cara atau metode yang powerful untuk mengetahui plan marketing kita bakal ngena target pasar dan banyak yang tertarik sebelum kita spend?

    1. Marketing is always mysterious. Sama seperti orang2 Sony Music tidak pernah tau bahwa Sheila On 7 akan meledak. Yang harus kita lakukan ada spend dengan konsep 70:20:10 seperti yang ada di buku saya Creative Junkies

  3. Halo, Mas. Postingan lama yang baru saya temui dan baru sekarang bisa saya baca. Ada yang ingin ditanyakan, dalam marketing, apa pertimbangan penting dan yang utama ketika tidak spend besar besaran saat memulai tapi justru melakukan itu setelah sukses?

    1. In every new product or service yang kami tangani di OMG, we always start small… we always use PR and or Word of Mouth to start. Iklan nantinya baru dipakai setelah produk dikenal dengan baik. Besaran budget selalu by percentage dan tentunya makin lama makin besar 🙂

  4. jujur dulu saya udah baca tulisan ini, tapi enggak begitu paham hehe. Sekarang pas kuliah komunikasi, baru ngeh. hehe. Bener2 berguna tulisannya 🙂 emang bener langkah awal yg tepat untuk belajar adalah membaca dulu baru bertanya. Sangat berterimakasih utk tulisan2nya, ini ngebantu banget buat membuka pikiran saya ttg marketing . maaf jdi panjang gini komentarnya

    1. wah terima kasih untuk komennya… seneng tulisan2 ringan disini bisa membuka pikiran nisa 🙂 jadi tambah semangat nulis blog yang kayaknya mulai jarang dilakukan banyak teman

Leave a Reply to Fahmy Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.