YORIS SEBASTIAN. thinking outside the box - execute inside the box

Archive for the ‘indonesia’ Category


Posted on January 14, 2012 - by
Mobil Esemka

Belakangan ini kita dilanda demam mobil Esemka.  Lagi-lagi berawal dari sebuah iklan namun sebuah langkah WOM (Word of Mouth) saat mobil Esemka rakitan para siswa SMK Negeri 2 Solo dijadikan mobil dinas oleh walikota Solo yang visioner, Joko Widodo.  WOM makin membesar lantaran Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo bukannya mendukung tapi malah menilai Jokowi sembrono.

Mungkin, kalau Gubernur tidak berkomentar negatif, mobil Esemka tidak akan seheboh ini.  Dan itulah Word of Mouth bergulir dengan cepatnya, apalagi di era social media seperti ini.  Padahal mobil Esemka ini konon sudah ada sejak 2 tahun yang lalu.

Namun yang mau saya angkat justru soal nasionalisme dalam menggunakan mobil Esemka ini bukan soal WOM.  Di berbagai pertemuan secara langsung, baik itu seminar maupun meeting, saya selalu ditanya seputar hal ini.  Seperti yang saya pernah tweet, sungguh bagus dan elok rasanya melihat abdi masyarakat seperti Joko Widodo menggunakan mobil Esemka karya anak bangsa.  Malah akan senang sekali kalau para wakil rakyat pun bisa ikut-ikutan mengganti mobil dinas mereka.

Kenapa? Karena mereka ada abdi masyarakat & wakil rakyat dan sekarang ini keadaan masyarakat kita secara luas belum sepenuhnya makmur. Masih banyak dana yang diperlukan untuk membuat negara ini semakin maju.  Jadi tidak salah tentunya untuk menghemat uang rakyat dengan menggunakan mobil dinas yang budgetnya lebih terjangkau.

Lalu bagaimana dengan industri mobil di tanah air? Menurut saya sama sekali tidak akan terpengaruh.  Masing-masing mobil akan punya marketnya sendiri.  Para pengusaha sukses sah-sah saja untuk tetap membeli mobil buatan Jepang atau Jerman.  Perusahaan multinasional juga tentu punya budget masing-masing untuk para karyawan yang layak untuk punya kendaraan dinas.

Banyak kok negara yang punya mobil nasional dan berjalan dengan selaras bersama mobil-mobil terkemuka dari manca negara.

So, menurut saya nasionalisme bukan berarti anti produk luar negri :)


Posted on August 15, 2011 - by
Dirgahayu Republik Indonesia ke-66

Minggu lalu saya ikut Kick Andy off-air di ITB, Bandung. Seperti biasa kalau tema Lentera Jiwa biasanya saya, Nugie dan Wahyu Aditya yang tampil bersama Bang Andy Noya.  Yang tidak biasa, adalah presentasi Wahyu Aditya kali ini menampilkan logo HUT RI yang menyadarkan kita semua bahwa sudah 7 tahun berturut-turut logonya sama saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sayang sekali ya, negri yang dipenuhi oleh banyak orang kreatif dan negara sudah mencanangkan industri kreatif sebagai salah satu pilar ekonominya, namun ternyata tidak kreatif untuk logo HUT Kemerdekaan sendiri.  Semoga tahun depan kita semua sudah punya logo HUT Kemerdekaan yang bisa dibanggakan.

Untuk cerita lengkapnya bisa mampir ke blog Wahyu Aditya ini: http://menteridesainindonesia.blogspot.com/2011/07/logo-hut-66-ri-versi-kdri.html

 


Posted on January 1, 2011 - by
Upah Minimum Propinsi

Membaca di beberapa koran di bulan Desember kemarin, saya mendapat kabar bahwa Upah Minimum Propinsi DKI Jakarta mulai 2011 ditetapkan sebasar Rp 1.290.000 atau naik sebesar 15,38 persen dari UMP Jakarta tahun 2010 sebesar 1.118.009 rupiah.

Saya senang karena berarti rata-rata pekerja di DKI Jakarta akan membawa pulang ke rumah hampir 1,3 juta rupiah per bulan.  Berarti ada peningkatan kualitas hidup bagi para pekerja di ibukota.

Namun saya jadi kepikiran dengan para pengusaha di DKI yang punya banyak karyawan, mungkin kenaikan 15,38% persen akan berdampak berat.  Kenaikan ini mungkin saja menimbulkan kenaikan harga jual produk atau jasa dari perusahaan.  Kalau mereka tidak kuat, maka akan ada efisiensi karyawan.  Jadi akan ada domino efek dari kenaikan UMP ini.

Kalau kita study banding (tanpa harus langsung ke luar negri ya… toh ada google) ke Manila, pemerintah disana terus menambah lini pekerjaan yang berpenghasilan tinggi untuk warganya.  Salah satunya yang sudah sukses adalah pekerjaan di Call Centre.  Seperti yang saya baca di Business Week terbitan 6 Desember 2010, pemerintah Philippines mempermudah approval untuk mereka yang mau membuka Call Centre Business di Manila, mereka memberikan tax breaks, quick clearance for building permits dan exemption from import duties on computer & telecom gears yang diperlukan untuk Call Centre.  Sekitar 40.000 pelajar disponsori oleh pemerintah untuk memperbaiki bahasa Inggris mereka dan tentunya communication skill.

Hasilnya? para pekerja muda ini sekarang mendapatkan penghasilan sekitar 300.000 pesos (US$ 6.850) setiap tahunnya.  Di negara yang annual GDP nya sekitar 83.000 pesos (US$ 1.900).  Sekedar perbandingan saat ini annual GDP Indonesia adalah US$ 2.963.  Jadi bayangkan pendapatan US$ 6.850 per tahun ini sebenarnya juga menggiurkan untuk Jakarta sekalipun.

Lagipula, domino efek dengan tingginya pendapatan para pekerja muda itu adalah mulai dibangunnya Mall, Bar, Cinema dan Cafe di sekitar kantor-kantor Call Centre tersebut. Padahal sudah pasti kantor Call Centre dibuka di daerah yang tidak prime tentunya.  Sama-sama domino efek namun yang ini sifatnya bagus untuk perekonomian ;)

Genius? Tidak juga… Pemerintah Philippines sebenarnya hanya belajar dari kesuksesan India yang waktu itu sangat terkenal dengan Call Centre Business di Bangalore.  Mereka mendapatkan bisnis yang begitu besar dari outsourcing Call Centre dari US, Europe dan Australia.  Sekarang Bangalore bersaing ketat dalam business outsourcing ini dengan Manila dan kalau tidak salah sedang diarahkan juga ke Cebu.

So, in my humble opinion… selain menaikkan UMP sebaiknya pemerintah juga memikirkan bagaimana menambah lini pekerjaan yang mendatangkan pendapatan yang besar untuk warganya sehingga punya efek domino yang positif untuk orang banyak.  Contoh diatas menurut saya belum merupakan contoh yang kreatif, baru contoh yang baik dan benar.

Dan saya yakin masih banyak peluang lini pekerjaan yang perlu dikembangkan di Indonesia, khususnya di kota-kota sekitar Jakarta sehingga bisa benar-benar menjadi kota mandiri.  Jangan penduduknya tinggal disana, namun tetap bekerja di Jakarta.  Selain pemborosan bensin untuk transportasi juga pemborosan waktu, sehingga rendahnya kualitas hidup.  Saya berharap, akan ada kota mandiri yang secara sistematis memilih beberapa lini pekerjaan baru yang penghasilannya tinggi untuk warganya, sehingga mereka tidak perlu bekerja di Jakarta lagi.


Posted on February 11, 2010 - by
Think Win-Win

markis-hendra1

Seperti diberitakan di berbagai media, Markis Kido dan Hendra Setiawan siap membela Indonesia untuk Piala Thomas yang tinggal beberapa pekan lagi namun mereka masih menunggu tanggapan PB PBSI atas surat pengunduran diri yang mereka ajukan sehingga mereka bisa mandiri dan tampil sebagai pemain profesional. Memang saat ini banyak pemain senior seperti juga Taufik Hidayat yang memilih untuk menjadi pemain non-pelatnas sehingga bila mereka bertanding, mereka bisa mendapatkan hadiah uang secara maksimal, selain juga bisa mendapatkan uang sponsor secara full.

Saya tidak tahu berapa uang sponsor yang diambil PBSI, demikian pula berapa persen hadiah dari kejuaraan yang dipotong PBSI, namun saya rasa memang sudah saatnya kita berpikir win-win untuk atlit-atlit bulutangkis kita. Kalau tidak, bukan saja gelombang pemain-pemain keluar dari pelatnas. Namun banyak juga yang pindah ke luar negri dan bahkan ada yang sampai ganti warga Negara.

Lantas bagaimana sih deal win-win yang terbaik? Saya tidak tahu karena tidak memegang angka-angka yang sekarang berjalan, namun yang harus disadari oleh PBSI adalah di era social media seperti ini sangat mudah para pemain kita berhubungan dan mengetahui apa yang dilakukan Negara lain dalam menjalankan organisasi bulutangkis di Negara mereka. Mereka bisa dengan santai chat dengan para pemain di luar negri.

Agak sulit memang untuk bertindak win-win. Apalagi dari kecil kita seringkali (tanpa sengaja) diajarkan untuk bertindak win. Contohnya, bila ada lomba untuk anak kecil coba perhatikan apa yang dilakukan orang tua mereka saat pertanyaan disampaikan? Mereka membisiki anak mereka dengan jawaban. Jadi apapun caranya, kamu harus menang.

Jadi saat dewasa agak sulit untuk kita bertindak win-win. Wong dari kecil dibiasakan untuk menang sendiri dengan cara apapun.

Padahal kalau kita bisa berpikir dan bertindak win-win, kan semua pihak diuntungkan dan kesuksesan jangka panjang lebih mungkin terjadi.

Saya ambil contoh English Premier League yang konon merupakan liga sepakbola terbaik di dunia. Pemain-pemain sepakbola terbaik yang ada di muka bumi bermain disana.

Oh, kita langsung bilang bahwa kita tidak bisa dong bandingkan sepakbola Inggris dengan Indonesia. Lho kenapa tidak bisa? Di Indonesia, penonton sepakbolanya suka rusuh. Lah di Inggris malah saking rusuhnya sampai ada yang meninggal. Ingat tragedy Heysel?

English Premier League baru dimulai tahun 1992. Sama seperti Hard Rock Café buka di Jakarta. Tiga tahun yang lalu, saya sempat me-riset hal ini karena sempat punya harapan menggarap olahraga di Indonesia lebih baik.

EPL membagi sebagian besar uang sponsor dan broadcast rights untuk semua tim yang berhasil masuk liga utama. Jadi dengan masuk liga utama saja, sebuah tim sudah bisa mendapatkan uang yang sangat besar jumlah. Belum lagi pendapatan mereka dari tiket nonton dan merchandise. Sepakbola menjadi bisnis yang saling menguntungkan. Karena klub punya uang besar saat masuk liga utama, mereka bisa membeli pemain-pemain yang baik. Bahkan pelatih terbaik juga bisa didapatkan.

Sementara kalau di tanah air, seperti sering kita baca di berbagai media. Klub sepakbola malah menggunakan dana APBD. Sayang sekali. Padahal studi kasus dari berbagai Negara lain bisa kita ambil inspirasinya. Kita punya modal penonton yang sangat cinta sepakbola.

Jadi kalau ditanya apakah Bulutangkis atau Sepakbola kita punya harapan? Jawabanya sangat punya. Tergantung apakah kita mau sedikit kreatif dan belajar dari apa yang terjadi out there. Dan tentunya menjalankan prinsip win-win untuk semua stakeholder dari olahraga tersebut.

(Seperti dimuat di website Kick Andy!)


Posted on December 7, 2009 - by
Budi Soehardi – CNN Heroes 2009 dan Inspirasi untuk CSR

Sungguh membanggakan melihat rekaman acara CNN Heroes 2009 yang diselenggarakan di Kodak Theatre akhir November lalu bertepatan dengan perayaan Thanksgiving di America.  Budi Soehardi terpilih sebagai salah satu dari sepuluh penerima award.

IMHO, This is a HEADLINE material for our newspaper

IMHO, This is a HEADLINE material for our newspaper

Saya merinding saat melihat Budi Soehardi from Indonesia menerima award dari Kate Hudson (Aktris International yang juga aktif di Wild Aid), yang sebelumnya membacakan narasi tentang Budi Soehardi.  Untuk yang belum melihat bisa klik ke http://www.youtube.com/watch?v=8piacipZ5wU

Lebih terharu lagi saat mendengar Budi menjelaskan, “Heroes sebenarnya adalah istri dan 3 anak saya, mereka mengorbankan liburan mereka selama ini, walau sebenarnya bisa travel dengan fasilitas first class yang saya dapatkan dari fasilitas jabatan sebagai pilot.  Tapi mereka memilih budget liburan dipakai untuk membantu Roslin Oprhanage”.  Betul juga ya, kalau keluarga Budi tidak setuju toh biasanya ayah tidak bisa memaksakan kehendak.  Rumah yatim piatu ini bisa besar karena support dari semua anggota keluarga.

Berawal dari tahun 1999, saat mereka sekeluarga yang tinggal di Singapore menonton berita soal East Timor.  Awalnya hanya ingin melakukan hal yang berbeda untuk liburan kali itu.  Sebernarnya setelah kesana memberikan sumbangan, pakaian dan makanan mereka bisa saja pulang dan berkata “We’ve done enough in our capacity” Namun Budi sekeluarga akhirnya tergerak untuk membangun rumah yatim piatu bernama Roslin Orphanage.

Yang menarik disini mereka tidak menamakannya Soehardi Orphanage, tapi Roslin Orphanage yang diambil dari sepasang yatim piatu pertama yang mereka Bantu saat itu. Saya jadi ingat dengan Taman Baca dan Poligigi gratis di Batu, Jawa Timur yang juga dinamakan Amin bukan dengan nama pendirinya.

Sejak tahun 1999 itulah, budget liburan mereka selalu dipakai untuk rumah yatim piatu yang mereka miliki di East Timor hingga sekarang.  Jadi mereka practically selalu liburan ke East Timor, walau punya privileged untuk travel around the world karena merupakan anak seorang Pilot di Singapore Airline.

Mungkin kita memang harus merasakan dulu nikmatnya berbuat baik dan akhirnya ketagihan.  Saya sendiri pernah merasakan nikmatnya melihat buah kebaikan kita berhasil, walau masih sangat amat jauh kalau dibandingkan dengan apa yang dilakukan Budi Soehardi sekeluarga.

Picture 16

Dulu jaman saya fotografer, saya sering cetak foto di Rapico Melawai.  Disana saya sering bertemu dengan seorang penjual Koran dan majalah bernama Nardi.  Ada banyak penjual majalah yang berkeliaran di kawasan melawai, namun saya selalu beli dan sesekali memberi uang kepada Nardi.  Kenapa? Karena Nardi selalu belajar sambil berjualan majalah dan Koran. Jadi pagi hingga siang Nardi sekolah, sore dan malam berjualan.  Dia punya semanagt untuk maju yang luar biasa.
Sampai suatu ketika saya bekerja di Hard Rock Café dan melihat ada peluang untuk Nardi hanya kerja part time 4 jam di cleaning service namun bisa mendapatkan uang yang jauh lebih besar daripada menjual Koran dan majalah.  Jadi selain mendapat uang yang lebih besar, Nardi punya waktu lebih banyak untuk belajar tentunya.

Setelah itu saya sudah lupa dengan kisah Nardi ini.  Hingga beberapa bulan lalu, saya mendapat message di wall Facebook saya.  “Halo ini Nardi tukang majalah yang dulu… senang sekali bisa menemukan Yoris di FB, sekarang saya sudah jadi arsitek… saya lulus S1”

Wow, perasaaan senang yang tiada taranya membaca seorang Nardi sudah lulus sarjana.  Bayangkan seorang tukang penjual Koran dan majalah, bukan saja survive untuk hidup namun bisa menjadi seorang sarjana.

Feeling rewarding adalah sebuah perasaan yang tidak bisa dinilai dengan uang.  Saya yakin setiap orang bisa menjadi Hero dengan kapasitas yang mereka miliki masing-masing.  Lalu mungkin ada yang lantas berguman, “Yoris kan sudah sukses jadi bisa charity, Budi Soehardi kan Pilot sehingga bukan dana lebih untuk charity”.  Namun saya tekankan disini, charity bukan berdasarkan berapa besar yang kita berikan, namun seberapa ikhlas kita lakukan.

Budi Soehardi sekeluarga hanya membantu 47 orang orphanage di East Timor, tidak ada apa-apanya dibanding apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.  Namun saya merinding dan terharu, karena mereka mengorbankan liburan mereka sekeluarga untuk kepentingan yatim piatu yang jumlah makin berkembang setiap tahunnya.  Jadi lakukan sesuai kemampuan kita namun punya positive impact untuk penerimanya.

Malah saya mendapat inspirasi baru dari kisah Budi Soehardi, dibanding kebanyakan CSR yang saya tahu, kita terbiasa hanya memberikan charity kepada yang kurang mampu.  Sementara apa yang dilakukan Roslin Orphanage adalah memberi rumah dan sawah untuk anak-anak ini.  Hasil panen sawah digunakan untuk makan dan lebihnya bisa dijual untuk hasilnya nanti dipakai untuk kebutuhan yang lain.

Saya mengajak perusahaan-perusahaan untuk sedikit lebih kreatif dalam mengeluarkan budget CSR mereka.  Dalam berbagai penjurian yang saya hadiri, banyak perusahaan yang memaparkan program CSR mereka, yang kalau dicermati lagi sifatnya baru sekedar charity.  Harus bedakan charity dengan CSR, dan upayakan supaya kita memberi mereka ‘pancing’ instead of hanya memberikan ‘ikan’ karena dengan pancing dan ikan, lama-lama mereka bisa mandiri dan tidak memerlukan ‘ikan’ lagi dan kita bisa menolong orang lainnya lagi.  Begitulah terus berkesinambungan seperti kisah Budi Soehardi…

(Sesuai dengan postingan Yoris Sebastian untuk www.kickandy.com)

Kalau ada yang ingin ikut membantu Pak Budi, please visit http://www.roslinorphanage.org


Posted on November 17, 2009 - by
Malioboro Mural Night Competition 2009

Seperti biasa kalau sehabis mampir ke sebuah kota, ada saja yang bisa saya serap.  Apalagi kalau ke kota Yogyakarta, kota yang selalu memberi aura kreativitas untuk saya.  Kemarin saya mendapat kehormatan untuk berbicara soal industri kreatif atas undangan mahasiswa management UGM (Mudah-mudahan presentasi saya bisa memberi inspirasi para mahasiswa Yogya yang memang kreatif-kreatif)

Malioboro Mural Night Competition logo

Sayang sekali malamnya saya sudah harus pulang ke Jakarta karena saya baru tahu bahwa akan ada Malioboro Mural Night Competition tepat jam 12 midnight.  Beruntung saya mendapatkan foto-foto dari Aurelia Claresta Utomo (salah satu peserta seminar pagi hari di UGM).  Ini salah satu contoh dimana penerimaan rekor MURI yang cukup tepat dan memiliki relevansi dengan penerima award yaitu pemerintah kota Yogyakarta.  Semoga acara ini bisa terus dilakukan setiap tahun, tentunya dengan kualitas yang terus meningkat.

Malioboro Mural Night Competition5

Malioboro Mural Night Competition

Malioboro Mural Night Competition2

Malioboro Mural Night Competition3

Malioboro Mural Night Competition4


Posted on November 11, 2009 - by
Pahlawan Nasional HR Rasuna Said

Baru saja saya selesai shooting live talkshow di Jak TV bersama Oscar Lawalata, Sakti Parantean dan Wahyu Aditya dalam rangka Hari Pahlawan.  Bisa jadi kami dipilih menjadi narasumber karena kami membawa harum nama Indonesia di tingkat dunia dalam ajang International Young Creative Entrepreneur Award.  Sejak 2006 (saya), 2007 (Waditya), 2008 (Sakti) dan 2009 (Oscar) Indonesia selalu menang di tingkat International.  Prestasi yang tidak bisa diraih negara lain manapun saat ini.

Yang menarik dari talkshow ini adalah saat Ade Herlina dan Bayu Oktara mengadakan quiz tebak wajah 5 Pahlawan Nasional.  Menarik bukan karena saya dan Sakti bisa menbak semua dengan benar, tapi karena saya jadi kepikiran… harusnya di setiap jalan utama harusnya ada gambar dari Pahlawan Nasional yang diabadikan menjadi nama jalan.  Jadi pas di lampu merah, masyrakat bisa tau dan ingat wajah para Pahlawan Nasional.

Selain itu, comments di Facebook saya ketauan bahwa banyak yang tidak tau bahwa HR Rasuna Said itu adalah Pahlawan wanita.  That’s why saya tampilkan fotonya di bawah ini.  Ayo sudah pada tau belum HR Rasuna Said wanita?

rasuna said

H.R. Rasuna Said adalah seorang muda yang mempunyai kemauan yang keras dan berpandangan luas. Awal perjuangan beliau dimulai dengan beraktifitas di Sarekat Rakyat sebagai Sekretaris cabang dan kemudian menjadi anggota Persatuan Muslim Indonesia (PERMI).

Beliau sangat mahir dalam berpidato yang isinya mengecam secara tajam ketidak adilan pemerintah Belanda, sehingga beliau sempat ditangkap dan dipenjara pada tahun 1932 di Semarang.

Pada masa pendudukan Jepang, beliau ikut serta sebagai pendiri organisasi pemuda Nippon Raya di Padang yang kemudian dibubarkan oleh Pemerintah Jepang.

H.R. Rasuna Said duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan, diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS), kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sejak 1959 sampai akhir hayat beliau.

H.R. Rasuna diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974.


Posted on November 3, 2009 - by
Cicak vs Buaya is the new David vs Goliath

the creator of Cicak vs buaya

Akhirnya kita memiliki terms lokal untuk istilah “David vs Goliath”.  Tak lain dan tak bukan adalah “Cicak vs Buaya” yang beberapa saat terakhir ini semakin mencuat gara-gara Markas Besar Polri resmi menahan dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah pada Kamis 29 Oktober 2009.

Saat saya menulis postingan ini, sudah 567.059 member bergabung di “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto dan saya yakin akan terus bertambah.  Terlepas dari apakah Bersalah atau Tidak kita yang berada diluar Sistem mungkin merasa terganggu dengan kejadian demi kejadian yang menimpa Chandra dan Bibit, Bukan tidak mungkin kasus semacam ini seperti gunung ES, sesungguhnya mungkin banyak Chandra dan Bibit yang lain yang juga mengalami nasib yang sama.  Padahal saat ini KPK mendapat sambutan positif dari berbagai pihak termasuk pihak luar negri. Sayang sekali bila akhirnya KPK tidak bergigi lagi.

David vs Goliath memang selalu menjadi tema favorit untuk word of mouth.  Masih segar di ingatan kita kasus Prita vs RS. Omni International. Atau bahkan waktu SBY vs Taufik Kiemas kala SBY mencalonkan diri menjadi Presiden.  Selama yang lemah ditindas, issue ini akan menarik dan sangat cepat tersebar bak virus.  Apalagi saat ini, era social media membuat pergerakan berita menjadi lebih cepat lagi.

Kalau dulu kita harus mencari berita. Kini berita yang mendatangi kita ;) So perlu sekali kita memahani word of mouth method ini supaya kita tidak seperti Buaya or RS. Omni :)


Posted on October 30, 2009 - by
Julia Roberts terus beritakan Bali saat shooting

Thanks to the technology, tanpa harus menunggu film Eat, Pray, Love selesai.  Julia Roberts sudah mulai mempromosikan Bali to the world.

Melalui situs pribadi Julia Roberts di aboutjulia.com people from all over the world bisa melihat cuplikan shooting yang sekarang masih berlangsung di Bali.  Apalagi Julia merayakan ulang tahunnya di Bali yang erkenal dengan julukan Island of God ini.

Semoga semakin banyak orang yang tertarik untuk datang ke Ubud khususnya dan Bali pada umumnya, apalagi setelah filmnya nanti rilis di seluruh belahan dunia.  Dan semoga semakin banyak producer yang tertarik untuk ke Indonesia melakukan shooting film international.

Julia Roberts 091026-bali


Posted on October 19, 2009 - by
Bakmi GM 50 tahun

Yup, tanggal 20 Oktober ini Bakmi GM memasuki tahun emas mereka 50 tahun.  Wow perjalanan panjang sebuah brand lokal yang tidak lekang dimakan waktu.  Oh iya, buat yang belum tau, Bakmi GM merupakan kependekan dari Bakmi Gajah Mada.

Dari kecil saya makan bakmi GM tidak pernah bosan, saking seringnya kami makan atau beli bungkus di GM, sampai-sampai saya dan keluarga dapat diskon dari pemilik bakmi GM :) Waktu SMA di Pangudi Luhur, saya selalu diajak kalau teman saya ulang tahun dan mau traktir di GM karena saya dapat diskon.  Diskon nya tidak besar  hanya 10% namun ada semacam kebanggaan untuk datang, dikenal dan dapat diskon.

Sekarang skema tersebut dijalankan di Coffee Club.  Tanpa kartu membership, mereka juga memberi diskon based on Face ID saya hehehe

Selain itu saya tidak pernah lupa dengan gebrakan Bakmi GM saat buka di area Thamrin, kami sebagai pelanggan tetap diundang untuk datang di hari pembukaan untuk makan.  Serunya lagi, undangan tersebut ternyata bebas makan apa saja yang kita mau tanpa batas.

Hari ini saya makan disana dan tersenyum melihat promo ulang tahun Bakmi GM, mereka juga punya Facebook dan Twitter.  Ini salah satu contoh bagaimana brand tua yang senantiasa mengikuti perkembangan jaman tanpa menghilangkan heritage-heritage tertentu.  Saya ingat melihat nama orang dari Bakmi GM kerap ikut seminar atau workshop yang berhubungan dengan hal-hal baru.

GM 50 anni png

Beberapa hal yang tidak pernah berubah adalah mereka tidak terima kartu kredit :) mungkin walau anak-anak mereka sekolah tinggi di luar negri, hal ini tetap tidak dirubah.  Generasi baru GM sukses meluncurkan delivery service tentunya.

Sama satu lagi…. mereka tidak buka cabang di luar Jakarta.  Selamat ulang tahun yang ke 50 Bakmi GM, senang melihat ada Iconic Brand di Jakarta :) semoga lebih banyak lagi brand yang bisa melegenda seperti Bakmi Gajah Mada.