Nagabonar Jadi 2

Sangat tepat kalau dibilang film itu gudang kreativitas. Saya sendiri walaupun bukan termasuk movie freak tapi banyak belajar dari film untuk kehidupan sehari-hari termasuk untuk kerja sebagai seorang yang kreatif. Film inspirational buat saya misalnya Dead Poets Society, Jerry McGuire, People vs Larry Flint, Coyote Ugly dan The Replacement yang sering saya jadikan materi training untuk anak buah saya.

Nagabonar Jadi 2 boleh jadi menjadi contoh paling anyar bagaimana film nasional tidak melulu harus jadi film horror untuk laku. Saya berharap film ini laku terus (apalagi saat saya menulis kolom ini, animo penonton masih bagus). Film ini secara kreatif mengangkat tema cinta namun sarat dengan moralitas dan tetap menghibur. Cinta antara pria dan wanita. Cinta antara ayah dan anak. Cinta pada tanah air. Cinta pada sepak bola.

Banyak cinta yang ditampilkan di film ini secara komedi namun kuat pesannya. Senang sekali melihat film bertema cinta disajikan secara kreatif dan menjadi film berbobot dan laku. Ini type film yang membuat kita bilang ke orang yang belum nonton, “Loe harus nonton…!!”

Deddy Mizwar sebagai sutradara (dan pemain utama) berhasil meneruskan tokoh rekaan almarhum Drs. Asrul Sani secara alami dan pas dengan jaman milenium ini, dimana Bonaga – anaknya – menjadi pengusaha muda, lulusan S-2 dari Inggris, ganteng, mobil mewah dan suka party di disco tentunya. Bonaga yang diperankan sangat baik oleh Tora Sudiro layaknya ‘Mas Boy’ jaman sekarang.

Vu Ja De (Seeing the old things in the new ways) kebalikan dari De Ja Vu. Saya memang sangat suka dengan anti theory seperti ini. Ingat, program signature saya I Like Monday? Anti theory dari lagu legendaris Bob Geldoff, I Don’t Like Monday.

Kalau mau kreatif dan pelan-pelan melihat sejarah, sebenarnya banyak Vu Ja De yang bisa dilakukan. Sebut saja New VW Bettle, Sirkus Binatang menjadi Circus De Soleil (Sirkus manusia), Organizer Book menjadi PDA dan masih banyak lagi.

Salah satu yang paling hot dan sukses adalah Walkman menjadi ipod. Akhirnya Sony sebagai produsen Walkman lantas ikut-ikutan mengeluarkan Handphone Walkman, karena tidak tahan melihat keuntungan luar biasa dari bisnis ipod yang diluncurkan disaat mp3 file sharing marak di amerika. Dengan bantuan DRM (digital rights management), ipod menjadi salah satu sarana penjualan musik terbesar abad ini.

Ikut-ikutan menjadi sah-sah saja kalau kita melakukannya dengan lebih kreatif, lebih bagus quality atau memudahkan penggunanya. Sony Ericcson Walkman series tentunya membuat kita lebih praktis karena handphone dan mp3 player menjadi satu. Simple dan bisa jadi lebih hemat. Tambah seru lagi karena sebentar lagi kita akan kedatangan i-phone dari apple sebagai gabungan ipod dan handphone.

Kita tidak perlu selalu ingin menjadi innovator. Amazon.com bukan toko online yang menjual buku pertama tapi sekarang mereka menjadi yang terbesar dan terbaik. Contoh-contoh lain ada di buku “Fast Second: How Smart Companies Bypass Radical Innovation to Enter and Dominate New Markets”

Kreatif tidak harus menjadi yang pertama. Saya dulu sempat stuck beberapa lama karena selalu ingin membuat acara lain yang sifatnya innovator seperti I Like Monday, apalagi saya pemenang Indonesian Young Marketers Award – maunya bikin sesuatu yang baru terus.

Untung ada cerita amazon.com tadi yang menyadarkan saya bahwa ada saatnya kita tidak menjadi innovator tapi cukup menjadi lebih kreatif. Jadi walau Project Goliath bukan pioneer di dunia digital musik Indonesia (apalagi di dunia), namun proyek musik komersil ini memiliki misi tambahan dibanding digital musik entrepreneur lainnya. Bila berjalan lancar, mudah-mudahan bisa mengurangi pembajakan secara nyata dan mengajarkan para insan musik kita untuk belajar ber-bisnis mumpung masih produktif menghasilkan uang.

So you have plenty of opportunity out there. Vu Ja De, might lead you somewhere my friend. Be creative!

Diambil dari majalah Clear – kolom YORISSAYS every person is a creative person

2 Comments

  1. Setuju… Nagabonar Jadi 2 emang kreatif skali. Kayaknya film itu memang sengaja dibuat Deddy Mizwar sebagai sarana kritiknya terhadap kondisi sekarang. Kritik yang sangat halus tapi mengena. Saya melihatnya di beberapa adegan seperti rencana penggusuran kuburan leluhur Bonaga, penghormatan pada patung Sudirman di Jakarta, hilanganya area sepakbola bagi anak2 dan mantan kawannya yang pejuang kemerdekaan yang masuk dikancah politik

  2. Kreatif tidak harus menjadi yang pertama. Saya dulu sempat stuck beberapa lama karena selalu ingin membuat acara lain yang sifatnya innovator seperti I Like Monday, apalagi saya pemenang Indonesian Young Marketers Award – maunya bikin sesuatu yang baru terus. –>> ga usah takut jd pengikut mas, di dunia ini yg original cuma Allah koq…hehe… ^_^

Leave a Reply to Arsyad Salam Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.