Archive for the ‘movie’ Category
Posted on January 16, 2012 - by Yoris Sebastian
Tentunya banyak sekali yang menarik dari Golden Globe Awards 2012, namun kali ini saya sangat tertarik dengan dengan acceptance speech dari Jean Dujardin yang memenangkan Best Performance by an Actor in a Motion Picture – Comedy Or Musical untuk perannya di “The Artist”
“When I was starting out .. they said to me, ‘You’ll never do movies. Your face is too expressive. Too big” kata Dujardin
“It’s not my fault. My eyebrows are independent. No seriously, I have always followed my instincts and … fight for my dreams” lanjut Dujardin.
Seperti kata Nugie di lagu Lentera Jiwa, listen to your heart… follow you instincts… follow your Lentera Jiwa
Saya bukan anak kecil yang kreatif waktu kecil. Kakak saya jauh lebih pintar dan sering sekali ranking 1 waktu sekolah, sementara saya ranking belasan. Adik saya terkenal bandel sejak kecil, saya bandelnya biasa-biasa saja.
Kenapa saya sekarang dikenal sebagai salah satu sosok KREATIF di Indonesia? Karena saya follow my instincts… saya mengerjakan yang saya suka…. dan yang suka adalah dunia kreatif
Posted on August 21, 2011 - by Yoris Sebastian
Gara-gara membaca Kompas hari ini tentang produk placement di film “Di Bawah Lindungan Ka’bah” saya jadi keinget untuk menulis soal product placement di film.
Kalau menurut Wikipedia, Product placement, or embedded marketing,is a form of advertisement, where branded goods or services are placed in a context usually devoid of ads, such as movies, music videos, the story line of television shows, or news programs. The product placement is often not disclosed at the time that the good or service is featured. Product placement became common in the 1980s.
Titipan ini tentunya bertujuan supaya meningkatnya awareness ataupun sales dari branded goods or services yang ada di film.
Nah salah satu contoh yang paling fenomenal saat itu adalah saat film E.T. the Extra-Terrestrial dirilis tahun 1982 dimana film ini melambungkan pamor dan juga penjualan dari Reese’s Pieces hingga 65% padahal sebenarnya product placement ini ditawarkan ke M&M / Mars lebih dahulu. Reese’s Pieces sebenarnya sudah ada sejak tahun 1978 namun baru di tahun 1982 lah produk mereka meledak berkat product placement di film E.T. ini.
Sejak itu product placement di film-film mapun program televisi semakin banyak. Salah satu favorit saya sepanjang masa adalah Fedex di film Cast Away. Karena menurut saya, bukan lagi semata-mata product placement, tapi Fedex di film sudah menyatu dengan cerita tanpa kita sebagai penonton merasa terganggu.
Apalagi kalau sampai mengganggu plot cerita film yang sedang mengambil cerita tahun 1920 seperti “Di Bawah Lindungan Ka’bah”. Saya sepakat dengan harian Kompas, sayang sekali semua upaya membawa suasana 1920-an ke film seperti kereta uap, stasiun tua, pedati tua, pasar dan perkampungan Minang hingga membangun surau lengkap dengan kincir airnya, kalau akhirnya banyak product placement yang jelas-jelas di tahun tersebut belum ada.
It’s not just about the presence… it’s about meaningful presence… sehingga penonton tidak merasa terganggu dengan hadirnya ‘titipan-titipan’ dari sponsor
Posted on January 29, 2011 - by Yoris Sebastian
Salah satu inspirasi yang saya dapat saat menonton film Burlesque adalah belajar dan terus berlatih walau itu bukan job desk kita saat ini. Yup, sering sekali kita bermimpi untuk jabatan di atas kita ataupun pekerjaan impian kita namun saat ditanya apakah kita sudah berlatih? jawabannya, “Nanti saja pas saya di promote atau nanti saja saat kesempatan nya datang. Toh sekarang saya sudah cukup capek dengan pekerjaan saya saat ini”.
Kalau saja Ali Rose (yang diperankan oleh Christina Aguilera) berpikir demikian mungkin dia tidak akan sukses dan meraih impiannya sebagai leading role dan bahkan penyanyi di Burlesque tempat ia bekerja saat itu. Selain itu Ali juga persistent mengejar impiannya, satu inch demi inch dijalankannya. Mulai menjadi waiter tanpa bayaran (kalau kerjanya tidak bagus) sehingga ia bisa mempelajari setiap lagu yang dimainkan di Burlesque dan belajar melakukannya di waktu luangnya sebagai waiter. Hingga memaksa ikut audisi, dapat peran kecil hingga akhirnya secara tidak sengaja menjadi leading role.
We need to keep on creating opportunity in life. Dan saat opportunity tersebut datang, kita sudah siap. Memang ada faktor keberuntungan, namun kita tidak akan beruntung kalau tidak terus menciptakan peluang dan mempersiapkan diri kita sebaik mungkin untuk peluang tersebut.
Posted on February 16, 2010 - by Yoris Sebastian
Saat tulisan ini saya ketik, film Avatar sudah melewati rekor penjualan film tertinggi di North America dan di di dunia, yang sebelumnya dipegang oleh Titanic yang sama-sama dibuat oleh James ‘King of The World” Cameron. Avatar sampai saat ini sudah berhasil meraup 2,2 Billion US$ melewati Titanic yang selama 12 tahun tak terkalahkan dengan rekor 1,8 Billion US$.

Saat nonton film ini baik di bioskop biasa maupun yang 3D, saya berulang kali berguman, “Oh My Goodness!!!” Daya imajinasi yang luar biasa dari seorang James Cameron yang mengambil setting tahun 2154. Semua dipersiapkan dengan sabar sejak naskah mulai ditulis tahun 1994 dan seharusnya langsung digarap setelah sukses dengan Titanic di tahun 1997.
Seperti biasa, saya langsung google bila mendapatkan inspirasi positif dari suatu hal. Baik itu lagu, film, iklan dan lain sebagainya. Yang menarik adalah fakta bahwa James Cameron di tahun 1977, seorang Truck Driver berusia 22 tahun, pergi nonton ke bioskop, nonton film berjudul Star Wars. Setelah itu dia memutuskan untuk quit his job dan mulai masuk ke industry film.
Wow! Kalau saya boleh berkhayal… mungkin James Cameron muda sudah punya ‘mimpi’ bikin film yang lebih hebat dari Star Wars, the minute dia selesai nonton. Namun untuk menggapai mimpinya, James Cameron tentunya harus bekerja keras, belajar kuat untuk akhirnya 32 tahun berikutnya di tahun 2009 membuat Avatar.
Film major pertama dia adalah Terminator di tahun 1984. Sudah terlihat ya, kesukaan James akan sesuatu yang sifatnya masa depan. Namun untuk cari uang, dia juga membuat Rambo: First Blood Part II. Walau tentunya tidak lepas dengan film-film seperti Aliens dan The Abyss. Sampai pada puncaknya dia membuat film Epic Titanic.
Jadi untuk mewujudkan mimpi kita, jangan takut untuk membuat sesuatu yang lain dulu yang mungkin bisa menjadi ‘modal’ untuk mewujudkan mimpi kita. Kesuksesan besar Titanic tentunya memungkinkan James konsentrasi mengerjakan Avatar dengan jangka waktu yang sangat lama. Bahkan rencana awal untuk launch film ini di tahun 1999 (2 tahun setelah Titanic) tidak jadi karena teknologi yang diperlukan belum ada.
Mundur 10 tahun tidak menjadi masalah karena keuntungan Titanic sudah cukup untuk James Cameron konsentrasi penuh pada Avatar.

Jadi inspirasinya adalah “Banyak jalan menuju Roma” Jangan takut untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai mimpi kita saat ini, bila itu bisa menjadi modal untuk kita menggapai mimpi. Asal lakukanlah dengan maksimal. Walau kadang realitas memaksa kita harus mengerjakan pekerjaan yang tidak terlalu kita sukai. Seize the Day. Manfaatkan hari-harimu semaksimal mungkin tanpa melupakan mimpi atau passion yang kita miliki.
(Seperti yang dimuat di KickAndy.com)
Posted on February 11, 2010 - by Yoris Sebastian

I really like this movie! Sebuah film yang bercerita tentang Lentera Jiwa. As usual saya tidak akan me-review jalan cerita or sinopsisnya. Kasian buat yang belum nonton. Bandung sebentar lagi akan kebagian di Paris Van Java.
Yang sangat menarik bagaimana the power of Word of Mouth did it again! and now from the form of twitter! Saya sendiri pertama kali baca di twitter VeHandojo. Lalu dari beberapa teman di twitter juga mulai membicarakan. Sampai Raditya Dika dan Tika Panggabean yang bela-belain mau nonton di BlitzMegaplex MOI (Mall of Indonesia). Saya juga pengen sih tapi Kelapa Gading kejauhan buat saya. Apalagi cuma ditayangkan 1x sehari yaitu jam 21.30 sementara filmnya 3 jam artinya saya baru selesai pukul 00.30 dan harus naik mobil lagi pulang ke rumah saya di Kebayoran Baru dari Kelapa Gading.
Untungnya saya kenal Pak David Hilman, boss Blitzmegaplex dan saya email dia twitter dari Tika Panggabean yang berbunyi seperti ini:
From: @TikaPanggabean
Sent: Jan 17, 2010 14:29
Oo I know hrsnya begini: #dearSBY plis suruh Blitzmegaplex perpanjang #3idiots di PP dan teraskota, Eymen!
sent via UberTwitter
Sayang kan, film ini ramai dibicarakan orang-orang di Twitter karena bagus namun sedikit yang nonton. Walau tidak berani berjanji akan putar di PP dan Teraskota, Pak David berjanji akan forward ke programming sebagai input.
Akhirnya (setelah tunggu dan menunggu) input disambut baik oleh pihak Blitzmegaplex, 3 Idiots kembali diputar di PP hanya untuk 2 hari (Rabu 3 Feb dan Kamis 4 Feb) dan hanya untuk 2 show 18.30 dan 21.45 minggu lalu. Karena sudah ada meeting malam pukul 19.00, akhirnya saya paksakan nonton tgl 3 Feb jam 21.45 dan it was worth it!
Ceritanya bagus banget.
Well, sama seperti di seminar Food & Beverage yang sering saya hadiri, saya selalu bilang restaurant kalau mau laku ya makanannya harus enak. Film kalau mau laku ya ceritanya harus bagus.
Dan 3 Idiots ceritanya bagus sekali!

Gara-gara 2 hari sold out, film ini akhirnya diteruskan sampai Selasa 9 Feb dengan 4x pemutaran per hari (demikian pesan di twitter blitzmegaplex) dan hari ini (Rabu) saya liat di website blitz ternyata 3 Idiots masih diputar…. Wow tampaknya Bandung harus bersabar menunggu copy film ini sampai ke Paris Van Java
The power of twitter has proven! Let’s wait for another success story from Mobile Marketing
twitter is mobile right? or online? apapun itu… twitter sudah membuktikan mampu menjadi tools untuk spreading the good news (and bad news too)
Mau nonton 3 Idiots lagi ah weekend ini
Posted on October 30, 2009 - by Yoris Sebastian
Thanks to the technology, tanpa harus menunggu film Eat, Pray, Love selesai. Julia Roberts sudah mulai mempromosikan Bali to the world.
Melalui situs pribadi Julia Roberts di aboutjulia.com people from all over the world bisa melihat cuplikan shooting yang sekarang masih berlangsung di Bali. Apalagi Julia merayakan ulang tahunnya di Bali yang erkenal dengan julukan Island of God ini.
Semoga semakin banyak orang yang tertarik untuk datang ke Ubud khususnya dan Bali pada umumnya, apalagi setelah filmnya nanti rilis di seluruh belahan dunia. Dan semoga semakin banyak producer yang tertarik untuk ke Indonesia melakukan shooting film international.

Posted on September 21, 2009 - by Yoris Sebastian
Sudah banyak film box office yang diangkat dari novel sukses. Laskar Pelangi misalnya, diambil dari kisah hidup penulisnya Andrea Hirata. Kalau di luar negri, ada Erin Brockovich yang mengambil cerita sang penulis melawan perusahaan energy sangat besar bernama PG&E (Pacific Gas and Electric Company), kebetulan film laris tersebut diperankan oleh Julia Roberts.

Julia Roberts kembali akan memerankan film based on true story yang yang diangkat dari novel laris berjudul Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert Film ini tidak terlalu sulit untuk dibuat karena memang novelnya berdasarkan perjalanan sang penulis di tahun 2006. Bahkan biaya travel selama hampir setahun ini dibiayai dari advance royalty yang diterima Elizabeth.

Sungguh beruntung dunia pariwisata kita, karena bila film ini juga meledak di seluruh dunia berarti menjadi sarana promosi yang sangat bagus buat Indonesia, khususnya pulau Bali. Apalagi konon sekitar 1/3 dari film ini memang menceritakan pengalaman Elizabeth di Bali, khususnya Ubud.
Sesuai judul bukunya, Elizabeth mengawali perjalanan dengan mengunjungi Italia yang memang terkenal dengan makanannya. Tak heran bila ia lantas naik berat badan setelah 4 bulanmenikmati hidup dan makanan (EAT) tentunya. Setelah itu Elizabeth menghabiskan 4 bulan di India dimana dia mencari ketenangan spiritual (PRAY) dengan belajar ber-devosi disana. Nah, 4 bulan sisanya dia habis di Indonesia, tepatnya Pulau Bali untuk mencari the true meaning of life dan cinta (LOVE) tentunya.
Buat yang suka baca novel, bisa langsung beli buku deh.
Buat saya, saya sangat berharap hal ini bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh Indonesia. Pastinya akan ada pemain-pemain lokal yang ikut main dan wajahnya akan tampil di layar cinema berbagai belahan dunia termasuk America. Saya sih percaya kalau mas Tino Saroengallo – yang konon membantu produksi lokal film ini – pasti akan memanfaatkan secara maksimal cast-cast lokal terbaik yang kita miliki.
Lokasi-lokasi yang terpilih untuk masuk ke dalam film juga sebaiknya lebih disiapkan lagi oleh dinas pariwisata, sehingga bisa dimaksimalkan setelah film ini nantinya premier. Contoh saja, Suckling Pig Ibu Oka yang menurut Anthony Bourdain, “The Best Suckling Pig in the World” dalam program tv nya “No Reservation”. Namun kita manfaatkan secara maksimal, saat saya cerita ke teman-teman saya yang tinggal di Bali, mereka baru tahu bahwa Ibu Oka sampai direkomendasi seperti itu. Mereka sih sering kesana, namun tidak tahu soal program tv milik Travel Channel tersebut.
Mungkin banyak yang tidak nonton No Reservation di Travel Channel, maka dari itu untuk Film Eat, Pray, Love ini mudah-mudahan promosinya saat launch nanti akan dilakukan lebih special supaya masyarakat kita secara luas juga tahu dan bisa lebih memaksimalkan manfaat film ini.
Titik-titik pariwisata yang diangkat di film ini, dipersiapkan infra-structurenya lebih baik lagi. Sehingga bila ada gelombang turis yang datang ingin melihat tempat-tempat yang dikunjungi Elizabeth Gilbert sesuai novel dan filmnya, kita sudah siap.
Belum lagi paket bundling, mumpung mereka sudah travel all the wayto Bali, mungkin ditawarkan ke Yogyakarta sekalian?
Wah list nya bisa panjang sekali untuk postingan ini. Yang pasti, let’s Pray that everybody will LOVE this movie
Posted on September 17, 2009 - by Yoris Sebastian
“Bagi yang td pagi baca Jawa Pos, iya gue bakal main film ama miyabi: http://pendek.in/00ajb.” demikian tulisan di twitter Raditya Dika beberapa hari yang lalu. Namun baru semalam saya sempat membaca link tersebut.

Menurut saya cukup kreatif, pihak produser (Maxima) berhasil mendapatkan Maria Ozawa yang memang sudah sangat terkenal untuk main di film ‘nonbiru’ berjudul Menculik Miyabi. Di tengah maraknya film dengan cerita seks komedi di bioskop Indonesia, kehadiran Miyabi akan membawa ‘angin’ lain tentunya. Semoga script yang ditulis oleh Raditya Dika ini bisa membuat film ini goes regional juga, bukan hanya di Indonesia edarnya.
Jadi film ini sebenarnya juga bisa dipakai untuk mempromosikan tempat-tempat seru di Jakarta tempat shooting berlangsung. Kalau memang diputar di region Asia, bisa jadi akan hadir turis-turis ke tempat shooting tersebut. Seperti Serendipity, dessert place di New York yang dipakai untuk film dengan judul yang sama. Walau hanya menjual dessert namun lantaran film international tersebut, tempat ini selalu antri. Dan dessert nya memang enak, jadi bukan sekedar tempat shooting
Mudah-mudahan saat shooting Oktober nanti, Maria Ozawa akan dibawa juga melihat places of interest di Indonesia, kalau saya bekerja di majalah FHM saya akan kasih paket liburan ke Bali sambil pemotretan di salah satu villa di Bali. Atau justru dibawa ke Bangka Belitung, sehingga hasil pemotretannya juga dimuat di FHM luar untuk promosi Bangka Belitung.
Wah masih ada sejuta ide untuk menyambut kedatangan Miyabi eh Maria Ozawa ke Jakarta untuk shooting Oktober mendatang
Posted on April 10, 2009 - by Yoris Sebastian

Saya sengaja menunggu film Red Cliff 2 tidak diputar di bioskop, baru saya turunkan postingan ini. Selain merekomen film ini untuk ditonton bila ingin mendapat inspirasi soal strategi, ada satu moment yang menurut saya sangat kreatif dan menunjukkan bahwa kecil tidak menjadi masalah kalau kita kreatif.
Saya sangat senang melihat kreativitas Zhuge Liang yang menjanjikan ‘membuat’ 100.000 anak panah dalam waktu 3 hari. Semua orang tidak habis pikir bagaimana caranya ia membuat anak panah sebanyak itu.
Zhuge Liang, menggunakan keahliannya melihat cuaca dan dalam kegelapan membuat pasukan musuh menembaki kapal-kapal kosong yang sebenarnya di ‘design’ untuk ‘meminjam’ 100.000 anak panah dari pasukan musuh…!!! Begitu kapal-kapal tersebut penuh dengan anak panah, mereka pulang ke pangkalan. Bayangkan… how creative that can be

Posted on March 22, 2009 - by Yoris Sebastian

Semalam baru saja menonton “Confession of a Shopaholic” seperti biasa saya tidak ingin menceritakan sinopsisnya karena menurut saya tidak seru lagi kalau film yang masih diputar di bioskop sudah diceritakan di media or di blog lantaran penulisnya sudah menonton.
Yang menarik saya angkat adalah kolom “The Girl in The Green Scarf” yang secara berani diangkat oleh Luke Brandon seorang Editor majalah “Successful Saving” yang berpikir ‘out of the box’ melawan artikel-artikel ‘biasa’ yang sangat dalam dan sifatnya ‘keuangan’ sekali.
Sama seperti ‘Soto Gebrak’ di bilangan Setiabudi dekat SMA 3. Simply hanya karena sotonya digebrak. Tempatnya tidak pernah sepi.
Seperti penamaan perusahaan saya sendiri “OMG Consulting” yang merupakan singkatan dari Oh My Goodness… simply karena kalau dilihat-lihat apa yang saya kerjakan dahulu rata-rata memang tidak lazim dan mengundang orang berdecak…. Oh My Goodness! Senin kok berani-beraninya bikin event rutin… Kok buka bar hanya buka 2 kali seminggu? yang buka setiap hari aja rugi gimana yang cuma buka dua kali seminggu??? atau Mana mau orang jalan-jalan ke suatu tempat yang kita tidak tau??
Kembali ke soal artikel. Banyak majalah yang seringkali bingung bagaimana membuat majalahnya laku. Ya kalau menurut saya simply by having a unique and interesting kolom or rubric. Itu yang nomer satu. Setelah itu baru marketing, distribusi dan lain sebagainya.
Dulu saya bekerja di majalah HAI, masih ingat dengan rubrik ‘Menulis itu Gampang’ atau cerita Lupus? dan masih banyak lagi rubrik yang menarik kita di jaman itu. Semua itulah yang membuat orang berlangganan majalah HAI. Awalnya malah orang penasaran Lupus itu benar-benar ada atau tidak?
Well, biasakan berpikir out of the box… biasanya hasilnya lebih baik daripada terus-terusan jadi mediocre







