Archive for December, 2009
Posted on December 29, 2009 - by Yoris Sebastian
Pagi ini, saya membaca laporan akhir tahun Kompas yang berjudul “Jakarta Ruwet Jakarta Stress”. Ada benarnya juga. Dalam setahun ini terjadi banyak sekali kejadian yang berhubungan dengan stress.
Mungkin sudah saatnya Jakarta berbenah diri dan memberi lingkungan yang kondusif untuk warganya. Satu hal yang sudah mulai terlihat sejak kepemimpinan Bang Foke alias Pak Fauzi Bowo adalah mulai banyaknya taman yang dibangun menjadi ruang publik. Salut for this!
Selain itu menurut saya, Jakarta perlu lebih banyak fasilitas olahraga. Semua orang tau dengan rutin berolahraga, resiko stress akan lebih kecil. Namun tidak semua orang suka olahraga. Ada ide lain? Sebenarnya kalau saya mengambil inspirasi dari UK dan US, mereka disana secara sistimatik menggunakan olahraga sebagai salah satu sarana pelampiasan stress secara positif.
Di US, kita semua tau dengan kompetisi basket ball bernama NBA. Disana kita bisa nonton basket, sambil memberi semangat dan sesekali memarahi pemain pujaan kita kalau salah. Demikian pula di UK yang kita kenal dengan EPL alias English Premier League. Saya beruntung pernah nonton pertandingan sepak bola disana. Emosi tersalurkan secara positif disana… bahkan walaupun kita sering maki-maki pemain namun suara kita tenggelam diantara riuhnya stadion.

Sementara di Jakarta, karena kita tidak punya sarana penyaluran positif emosi kita… kita akhirnya memarahi supir kita untuk masalah kecil. Memarahi staff kita dan bahkan berantem dengan pasangan untuk masalah yang tidak besar. Ujung-ujungnya kita menjadi stress.
So, untuk Jakarta apakah kita harus bikin lebih banyak Stadion Bola? atau Hall Basket? As usual, Thinking out of the box – Execute Inside the Box tidak mau copy paste yang terjadi di luar. Kita punya sesuatu yang Indonesia banget, tidak pernah berantem (not that i know) dan sangat membanggakan.
Apalagi kalau bukan Badminton. Salah satu dari sedikit olahraga kita yang tingkat dunia!!! Saya bermimpi nanti akan ada King Smash Hall, Rudy Hartono Hall atau Alan – Susi Hall… nggak papa kan… toh banyak mimpi-mimpi saya yang kemudian menjadi kejadian. Kalau mengambil quote dari film sang Pemimpi, “Bermimpilah… maka Tuhan akan memeluk mimpimu”
Posted on December 17, 2009 - by Yoris Sebastian
Masih ingat kehadiran iPod di tahun 1999? iPod hadir disaat industri musik sedang mengalami penurunan pesat lantaran hadirnya Napster dan file sharing portal lainnya yang membuat penjualan CD menurun dengan cepat. iPod datang dan berhasil menjadi salah satu penyelamat revenue industri musik. 9 September 2009, iPod sudah berhasil menjual 220 juta unit di seluruh dunia
Lantas di dekade sekarang ada masalah apa lagi di America? bisnis media cetak mengalami penurunan pesat. Berita bisa didapat dengan cepat di internet. Banyak sekali majalah besar yang kini terbit sangat tipis. Majalah kesukaan saya Business 2.0 malah sudah tidak terbit lagi

Apa yang dilakukan oleh Apple? Konon di Macworld Conference awal tahun depan mereka akan meluncurkan Macbook Touch atau iTablet yang tentunya sekali lagi akan membuat kita semua berdecak kagum. Salah satu contentnya akan bekerjasama dengan Time Inc. yang nantinya akan berjualan digital magazine. Tapi banyak yang mungkin akan bilang, kan nggak enak baca majalah secara digital, enakan baca majalah secara fisik.
Seeing is Believing. Take a look at this new edition of 2010 Sport Illustrated
Just click this youtube link.
Bagaimana? Seru? Mau?
Posted on December 7, 2009 - by Yoris Sebastian
Sungguh membanggakan melihat rekaman acara CNN Heroes 2009 yang diselenggarakan di Kodak Theatre akhir November lalu bertepatan dengan perayaan Thanksgiving di America. Budi Soehardi terpilih sebagai salah satu dari sepuluh penerima award.

IMHO, This is a HEADLINE material for our newspaper
Saya merinding saat melihat Budi Soehardi from Indonesia menerima award dari Kate Hudson (Aktris International yang juga aktif di Wild Aid), yang sebelumnya membacakan narasi tentang Budi Soehardi. Untuk yang belum melihat bisa klik ke http://www.youtube.com/watch?v=8piacipZ5wU
Lebih terharu lagi saat mendengar Budi menjelaskan, “Heroes sebenarnya adalah istri dan 3 anak saya, mereka mengorbankan liburan mereka selama ini, walau sebenarnya bisa travel dengan fasilitas first class yang saya dapatkan dari fasilitas jabatan sebagai pilot. Tapi mereka memilih budget liburan dipakai untuk membantu Roslin Oprhanage”. Betul juga ya, kalau keluarga Budi tidak setuju toh biasanya ayah tidak bisa memaksakan kehendak. Rumah yatim piatu ini bisa besar karena support dari semua anggota keluarga.
Berawal dari tahun 1999, saat mereka sekeluarga yang tinggal di Singapore menonton berita soal East Timor. Awalnya hanya ingin melakukan hal yang berbeda untuk liburan kali itu. Sebernarnya setelah kesana memberikan sumbangan, pakaian dan makanan mereka bisa saja pulang dan berkata “We’ve done enough in our capacity” Namun Budi sekeluarga akhirnya tergerak untuk membangun rumah yatim piatu bernama Roslin Orphanage.
Yang menarik disini mereka tidak menamakannya Soehardi Orphanage, tapi Roslin Orphanage yang diambil dari sepasang yatim piatu pertama yang mereka Bantu saat itu. Saya jadi ingat dengan Taman Baca dan Poligigi gratis di Batu, Jawa Timur yang juga dinamakan Amin bukan dengan nama pendirinya.
Sejak tahun 1999 itulah, budget liburan mereka selalu dipakai untuk rumah yatim piatu yang mereka miliki di East Timor hingga sekarang. Jadi mereka practically selalu liburan ke East Timor, walau punya privileged untuk travel around the world karena merupakan anak seorang Pilot di Singapore Airline.
Mungkin kita memang harus merasakan dulu nikmatnya berbuat baik dan akhirnya ketagihan. Saya sendiri pernah merasakan nikmatnya melihat buah kebaikan kita berhasil, walau masih sangat amat jauh kalau dibandingkan dengan apa yang dilakukan Budi Soehardi sekeluarga.

Dulu jaman saya fotografer, saya sering cetak foto di Rapico Melawai. Disana saya sering bertemu dengan seorang penjual Koran dan majalah bernama Nardi. Ada banyak penjual majalah yang berkeliaran di kawasan melawai, namun saya selalu beli dan sesekali memberi uang kepada Nardi. Kenapa? Karena Nardi selalu belajar sambil berjualan majalah dan Koran. Jadi pagi hingga siang Nardi sekolah, sore dan malam berjualan. Dia punya semanagt untuk maju yang luar biasa.
Sampai suatu ketika saya bekerja di Hard Rock Café dan melihat ada peluang untuk Nardi hanya kerja part time 4 jam di cleaning service namun bisa mendapatkan uang yang jauh lebih besar daripada menjual Koran dan majalah. Jadi selain mendapat uang yang lebih besar, Nardi punya waktu lebih banyak untuk belajar tentunya.
Setelah itu saya sudah lupa dengan kisah Nardi ini. Hingga beberapa bulan lalu, saya mendapat message di wall Facebook saya. “Halo ini Nardi tukang majalah yang dulu… senang sekali bisa menemukan Yoris di FB, sekarang saya sudah jadi arsitek… saya lulus S1”
Wow, perasaaan senang yang tiada taranya membaca seorang Nardi sudah lulus sarjana. Bayangkan seorang tukang penjual Koran dan majalah, bukan saja survive untuk hidup namun bisa menjadi seorang sarjana.
Feeling rewarding adalah sebuah perasaan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Saya yakin setiap orang bisa menjadi Hero dengan kapasitas yang mereka miliki masing-masing. Lalu mungkin ada yang lantas berguman, “Yoris kan sudah sukses jadi bisa charity, Budi Soehardi kan Pilot sehingga bukan dana lebih untuk charity”. Namun saya tekankan disini, charity bukan berdasarkan berapa besar yang kita berikan, namun seberapa ikhlas kita lakukan.
Budi Soehardi sekeluarga hanya membantu 47 orang orphanage di East Timor, tidak ada apa-apanya dibanding apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Namun saya merinding dan terharu, karena mereka mengorbankan liburan mereka sekeluarga untuk kepentingan yatim piatu yang jumlah makin berkembang setiap tahunnya. Jadi lakukan sesuai kemampuan kita namun punya positive impact untuk penerimanya.
Malah saya mendapat inspirasi baru dari kisah Budi Soehardi, dibanding kebanyakan CSR yang saya tahu, kita terbiasa hanya memberikan charity kepada yang kurang mampu. Sementara apa yang dilakukan Roslin Orphanage adalah memberi rumah dan sawah untuk anak-anak ini. Hasil panen sawah digunakan untuk makan dan lebihnya bisa dijual untuk hasilnya nanti dipakai untuk kebutuhan yang lain.
Saya mengajak perusahaan-perusahaan untuk sedikit lebih kreatif dalam mengeluarkan budget CSR mereka. Dalam berbagai penjurian yang saya hadiri, banyak perusahaan yang memaparkan program CSR mereka, yang kalau dicermati lagi sifatnya baru sekedar charity. Harus bedakan charity dengan CSR, dan upayakan supaya kita memberi mereka ‘pancing’ instead of hanya memberikan ‘ikan’ karena dengan pancing dan ikan, lama-lama mereka bisa mandiri dan tidak memerlukan ‘ikan’ lagi dan kita bisa menolong orang lainnya lagi. Begitulah terus berkesinambungan seperti kisah Budi Soehardi…
(Sesuai dengan postingan Yoris Sebastian untuk www.kickandy.com)
Kalau ada yang ingin ikut membantu Pak Budi, please visit http://www.roslinorphanage.org

