YORIS SEBASTIAN. thinking outside the box - execute inside the box

Archive for the ‘inspiration’ Category


Posted on August 24, 2010 - by Yoris Sebastian
Perfect Practice Makes Perfect

Saya revisi sedikit apa yang selama ini saya percayai dan bahkan saya tulis di buku Creative Junkies, “Practice Makes Perfect”.  So now I Think  Practice Doesn’t Makes Perfect.  Yang benar adalah: Perfect Practice Makes Perfect.  Inspirasi ini saya dapatkan saat nonton Balagan bulan lalu.

Walau sudah menonton beberapa pertunjukan Cirque De Soleil di Las Vegas, namun saat Balagan hadir di Jakarta dan Dyna, my assistant memberi isyarat bahwa jadwal saya masih bisa… saya langsung membeli tiket nonton Balagan.  Ada beberapa teman yang bilang, “Nggak akan sebagus Cirque De Soleil yang asli!” namun saya tetap membeli tiket.

Kenapa? karena kita harus terus belajar.  Saya malah beli tiket nonton jam 4 sore, sekalian supaya bisa melihat crowd sore seperti apa? Who knows in the future, saya yang terlibat dalam pertunjukan seperti ini.

Yang sangat menarik adalah saat menonton pertunjukannya, ternyata karena memang keliling dunia dengan waktu yang cukup pendek setiap kotanya, tentunya peralatan2nya tidak sebagus dan selengkap Cirque De Soleil akhirnya saya malah bisa melihat kehebatan yang luar biasa para talent yang terlibat di Balagan.

Saya jadi sadar, untuk bisa tampil seperti ini bukan lagi practice.  They need a perfect practice sampai kahirnya bisa mempertunjukkan sesuatu yang perfect. Kalau di pertunjukan ‘O’ misalnya yang banyak menggunakan air, saya terpukau namun tetap melihat bahwa alat bantu banyak sekali.  Nah, di Balagan dengan segala keterbatasan alat yang digunakan, saya jadi lebih menghargai keahlian mereka.  Dan lebih dari itu, memberi inspirasi buat saya bahwa alat bukan segala-galanya… artinya bukan tidak mungkin orang Indonesia membuat sebuah pertunjukan yang luar biasa seperti Balagan, all you need is a perfect practice bukan alat canggih.

Bravo Balagan! Lagi-lagi saya belajar karena saya selalu mencoba untuk think positive dan curious terhadap hal-hal berbeda yang ada di sekitar saya.


Posted on August 23, 2010 - by Yoris Sebastian
Creative Junkies versi Loose Leaf

Constantly challenge yourself to do differently.  Begitulah spirit seorang Creative Junkies.  Selain itu sebagai seorang yang strongly believe in PR, dimana seorang PR yang baik bukan hanya menyebarkan positive image of the brand or product tapi yang paling penting adalah kemampuan mendengar.

Listen to your customers.  Begitulah fungsi utama dari seorang PR di era social media ini.  Walau tidak banyak namun ada beberapa comment di twitter yang menyatakan bahwa buku Creative Junkies seharga Rp. 68.000 masih terlalu mahal untuk mereka.  Walau lebih banyak orang yang comment positive seperti @captainheru misalnya memberi komentar: “Buku berukuran 14×21cm dgn tebal 1,2cm mrpk ‘umpan’ utk memancing ‘ide segar’ yg tak terbatas ukurannya” atau @glennmars yang bukan hanya beli untuk diri sendiri saking puasnya dia: “berhasil membujuk bos-nya orang iklan untuk beli CreativeJunkies-nya @yoris buat seluruh karyawannya”

Memang betul untuk semua ilmu dan inspirasi yang mungkin bisa merubah hidup kita di masa depan, harusnya Rp. 68.000 bukanlah investasi yang mahal.  Namun semua comment harus didengar.  Mungkin saja masih banyak lagi yang tidak punya cukup uang Rp. 68.000 untuk membeli buku Creative Junkies namun tidak berani untuk bilang di twitter.

Be Inspired, Do not Copy Paste. Kalau di luar negri setelah premier buku dengan Hard Cover beberapa bulan kemudian versi Soft Cover akan keluar.  Do not copy paste, saya lebih baik bikin buku #CJ langsung Soft Cover supaya harganya terjangkau untuk kalangan yang luas.  Justru Hard Cover dengan bonus pencil warna baru akan saya launch nanti kalau sudah jadi best seller :)

Namun setelah sekarang sudah masuk jajaran buku laris di semua toko buku yang menjual buku #CJ, saya tidak jadi mengeluarkan Hard Cover.  Kenapa? karena saya ingat dengan satu dua komentar di atas bahwa mereka kekurangan uang untuk beli buku #CJ.  Jadi selama bisa dijawab secara positif kenapa tidak? Lagipula di luar negri kan setelah Hard Cover terbit Soft Cover…. Jadi kalau di Indonesia setelah Soft Cover terbit apa ya?

Terbit dengan versi Loose Leaf…!!!

Seru kan… sekarang Creative Junkies tidak hanya ada di toko-toko buku tapi juga ada di toko alat tulis ;)

Wah setelah Faber Castell, sekarang satu lagi brand waktu kecil yang kini bisa kerjasama… Loose Leaf :)

Selanjutnya brand apa ya yang akan kerjasama lagi dengan Creative Junkies? ikuti terus blog ini untuk updates nya ;)


Posted on August 21, 2010 - by Yoris Sebastian
Mesut Özil pilih José Mourinho

Great Talent follow Great Coach.  Mungkin itu statement yang tepat kenapa Mesut Özil lebih memilih bergabung dengan Real Madrid dibanding klub-klub besar lain yang mencoba meminangnya.  Walau pelatih-pelatih lain seperti Pep Guardiola dan Sir Alex Ferguson juga merupakan sosok yang luar biasa, namun José Mourinho memiliki personal branding dan track record yang jauh lebih menarik hati para talent.

Sir Alex Ferguson memang pelatih dan manager yang luar biasa dari Manchester United, namun ia terkenal sangat amat galak.  Jaman sekarang Talent sudah tidak mau ‘disemprot’ oleh pelatih seperti style Ferguson.  Mungkin style Ferguson sangat relevant di masa lalu.  Jaman sekarang Talent mencari kenyamanan.

Seperti José Mourinho yang dikenal sangat dekat dengan para pemainnya.  Beberapa pemain FC Porto ikut dengannya ke Chelsea.  Kini pun beberapa pemain Chelsea maupun Inter sebenarnya ingin bergabung dengan Mourinho juga.  Namun Mourinho sangat amat disiplin dalam berlatih dan mempersiapkan para pemainnya.  Disiplin tidak harus Galak ;)

Sementara Pep Guardiola memang sosok hebat di usia muda sehingga saya sempat menulisnya sebagai salah satu contoh Young on Top.  Namun masih perlu pembuktian untuk menjadi seorang José Mourinho yang selain punya berbagai prestasi dengan berbagai klub, dengan sadar sering melakukan personal branding di layar kaca saat Live coverage berlangsung.  Tak heran kalau Mourinho juga kerap dikontrak oleh brand ;)

Mesut Özil pemain muda asal Germany kelahiran 15 October 1988 yang menjadi salah satu pemain utama yang membawa Germany sukses di Piala Dunia 2010 lalu ini akan bergabung dengan José Mourinho di Real Madrid dan membantu Mourinho mencetak rekor dunia sebagai pelatih pertama di dunia yang mampu membawa 3 klub berbeda menjuarai Piala Champions.

Seperti statement saya yang dikutip oleh sahabat saya, Penulis buku Career Coach, Rene Suhardono di Kompas tanggal 14 Agustus lalu, “Let other people chase you by doing something phenomenal” just like José Mourinho… The Special One….


Posted on July 17, 2010 - by Yoris Sebastian
Back to The Future?

Creativity terkadang kembali ke masa lalu untuk dibawah dalam bentuk baru di jaman sekarang.

Lihat saja sepatu dibawah ini.

Dan sekarang menjadi seperti ini.

Bakalan hits di Indonesia? We’ll see ;)


Posted on April 30, 2010 - by Yoris Sebastian
Holycow! Steak

Setelah beberapa kali gagal menemukan waktu untuk mengunjungi Steak Hotel dan bisa mencicipi Holycowsteak yang rame dibicarakan di twitter.  Akhirnya minggu lalu saya berhasil juga berkunjung ke tempat makan ala street hawker yang berada di daerah Radio Dalam ini.  Selain saya yang memang cukup sibuk, Lucy sudah wanti-wanti agar datang kesana sekitar jam 18.  Walau Steak Hotel sendiri buka jam 18.30.

Amazingly, sekitar jam 18an saya sampai disana dan memang Steak Hotel sudah penuh dengan pengunjung walau lampu masih mati.  Kenapa sih orang bela-belain datang sepagi itu? Well, mereka semua mau mencicipi Steak buatan Chef Afit, lebih tepatnya Wagyu Steak yang dijual hanya Rp. 90.000 saja.

Walau harga sangat terjangkau, kualitas dari Wagyu yang dijual, menurut saya tetap terjaga.  Berbeda dengan beberapa tempat yang juga menjual steak murah, biasanya mereka menjual steak dengan kualitas yang rendah juga.  Apalagi dengan traffic yang bagus setiap harinya (konon Wagyu steak selalu dalam waktu singkat setiap harinya) sehingga mereka bisa terus menjual steak yang baru daily.

Usaha ini dijalankan oleh 2 pasang suami istri.  Afit dan Lucy Wiryono serta Wanda dan Winda.  Afit dan Winda lebih ke operations sementara Lucy dan Wanda lebih ke Marketing and others.  Ini foto mereka sebelum buka Steak Hotel (walau Lucy nggak ada nih…)

Wanda & Wynda and Afit. (Lucy absen)

Yang bikin saya senang, karena berawal dari Workshop Word of Mouth Marketing yang kami selenggarakan bersama Mavens.  Lalu saya berkenalan dengan Afit.  Tak lama setelah itu, Afit dan saya sempat ngobrol2 santai di sebuah restoran di Setiabudi One.  Membicarakan Passion, Creativity dan tentunya Word of Mouth.

Jadi pada dasarnya, walau kita sudah menemukan passion kita, misalnya Afit di bidang F&B bukan berarti Afit langsung resign dari kerja kantorannya dan langsung memulai usaha F&B.  Tapi sebaiknya, dikerjakan di waktu luangnya. Ingat pendapatan bulanan bikin dapur ngepul ;)   Baru setelah bisnisnya lancar, kita tinggalkan pekerjaan kita yang sekarang.

Senang melihat Afit, Lucy, Winda dan Wanda bisa sukses dengan Holycowsteak mereka.  Follow your passion!  Saya berharap bisnis mereka bisa sustain dan terus berkembang ke depannya.  Minggu ini, ke Steak Hotel lagi ah ;)


Posted on April 16, 2010 - by Yoris Sebastian
Puma Clever Little Bag

Paling senang liat hal yang kreatif.  Apalagi sekarang memang sedang deman Go Green.  Kemarin kita baru saja merayakan Earth Hour.  Sayang kalau lagi-lagi hanya merupakan program ceremonial tanpa langkah-langkah nyata.  Untuk orang kantoran, mematikan komputer waktu pergi break makan siang atau saat meninggalkan office lebih dari 1 jam untuk meeting.  Banyak lho yang bisa dihemat.

Yang baru saya liat, adalah inovasi dari Puma bekerja sama Yves Behar yang selama ini kita kenal lewat FuseProject nya.  Kolaborasi dari sebuah brand yang terkenal creative dengan designer yang memang juga creative menghasilkan inovasi yang simple namun punya impact yang sangat luar biasa.

Jadi mereka merubah kotak sepatu yang biasa mereka gunakan dengan design  baru yang lebih menghemat penggunaan kertas karton yang tentunya punya impact ke penghematan shipping cost ;)

Jadi mereka ber-evolusi dari kotak sepatu legendaris mereka, Red Shoebox menjadi Clever Little Bag.  Yup, sekarang tidak bisa disebut box lagi karena sekarang mereka hanya fokus ke fungsinya. Bener juga ya, kan kita tidak perlu box tersebut ya?

Mereka berhasil menghemat 65% penggunaan karton yang tentu berimbas ke penghematan listrik untuk membuatnya ;)

Seru ya kalo perusahaan mau kolaborasi dengan orang kreatif untuk menghasilkan sesuatu yang tidak biasa namun menghasilkan hal yang luar biasa.  Congrats Puma! Congrats FuseProject!

Sebentar lagi saya akan penjurian Black Innovation Award 2010… mudah-mudahan semakin banyak karya seperti ini.  Karena kalau kita peka melihat sekeliling kita, sangat banyak peluang untuk melakukan perubahan yang punya impact positif untuk sekitar kita.  Yuk kita coba…


Posted on February 16, 2010 - by Yoris Sebastian
Banyak Jalan Menuju Roma

Saat tulisan ini saya ketik, film Avatar sudah melewati rekor penjualan film tertinggi di North America dan di di dunia, yang sebelumnya dipegang oleh Titanic yang sama-sama dibuat oleh James ‘King of The World” Cameron.  Avatar sampai saat ini sudah berhasil meraup 2,2 Billion US$ melewati Titanic yang selama 12 tahun tak terkalahkan dengan rekor 1,8 Billion US$.

Movie Avatar-Teaser-Poster Movie Titanic_poster

Saat nonton film ini baik di bioskop biasa maupun yang 3D, saya berulang kali berguman, “Oh My Goodness!!!” Daya imajinasi yang luar biasa dari seorang James Cameron yang mengambil setting tahun 2154.  Semua dipersiapkan dengan sabar sejak naskah mulai ditulis tahun 1994 dan seharusnya langsung digarap setelah sukses dengan Titanic di tahun 1997.

Seperti biasa, saya langsung google bila mendapatkan inspirasi positif dari suatu hal. Baik itu lagu, film, iklan dan lain sebagainya.  Yang menarik adalah fakta bahwa James Cameron di tahun 1977, seorang Truck Driver berusia 22 tahun, pergi nonton ke bioskop, nonton film berjudul Star Wars.  Setelah itu dia memutuskan untuk quit his job dan mulai masuk ke industry film.

Wow! Kalau saya boleh berkhayal… mungkin James Cameron muda sudah punya ‘mimpi’ bikin film yang lebih hebat dari Star Wars, the minute dia selesai nonton.  Namun untuk menggapai mimpinya, James Cameron tentunya harus bekerja keras, belajar kuat untuk akhirnya 32 tahun berikutnya di tahun 2009 membuat Avatar.

Film major pertama dia adalah Terminator di tahun 1984.  Sudah terlihat ya, kesukaan James akan sesuatu yang sifatnya masa depan.  Namun untuk cari uang, dia juga membuat Rambo: First Blood Part II.  Walau tentunya tidak lepas dengan film-film seperti Aliens dan The Abyss.  Sampai pada puncaknya dia membuat film Epic Titanic.

Jadi untuk mewujudkan mimpi kita, jangan takut untuk membuat sesuatu yang lain dulu yang mungkin bisa menjadi ‘modal’ untuk mewujudkan mimpi kita.  Kesuksesan besar Titanic tentunya memungkinkan James konsentrasi mengerjakan Avatar dengan jangka waktu yang sangat lama.  Bahkan rencana awal untuk launch film ini di tahun 1999 (2 tahun setelah Titanic) tidak jadi karena teknologi yang diperlukan belum ada.

Mundur 10 tahun tidak menjadi masalah karena keuntungan Titanic sudah cukup untuk James Cameron konsentrasi penuh pada Avatar.

James Cameron BW

Jadi inspirasinya adalah “Banyak jalan menuju Roma” Jangan takut untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai mimpi kita saat ini, bila itu bisa menjadi modal untuk kita menggapai mimpi.  Asal lakukanlah dengan maksimal.  Walau kadang realitas memaksa kita harus mengerjakan pekerjaan yang tidak terlalu kita sukai.  Seize the Day.  Manfaatkan hari-harimu semaksimal mungkin tanpa melupakan mimpi atau passion yang kita miliki.

(Seperti yang dimuat di KickAndy.com)


Posted on January 26, 2010 - by Yoris Sebastian
Something New in 2010

my new presenter for 2010

Untuk yang mengikuti saya di Twitter @yoris tentu sudah tau bahwa memasuki tahun 2010, saya membeli clicker baru.  Selain supaya lebih semangat kerja, lebih semangat kasih seminar dan workshop tentunya.  Selain itu, ada fungsi tambahan dari clicker ini yaitu fungsi sebagai mouse.  Kenapa saya butuh ini? karena terkadang saat memutar video, saya perlu untuk pause sejenak menjelaskan sesuatu sebelum lanjut lagi dengan adegan berikutnya di video yang sama.

Selama ini hal tersebut tidak bisa saya lakukan dengan clicker saya yang lama.  Apalagi clicker yang baru ini harganya hanya setengah dari clicker saya yang lama. I love new technology yang selalu makin affordable :) Walau tentunya clicker yang lama tetap saya simpan.  Maklum, sangat banyak sejarah yang sudah ditorehkan.  Termasuk membawa saya menang di london tahun 2006 saat saya ikut International Young Creative Entrepreneur.

So, jangan lupa untuk terus ‘memperbaharui’ sesuatu yang lama.  Biar lebih dinamis.  Pekerjaan boleh sama, namun dengan beberapa initiative, kita bisa lebih semangat. Semangat baru – pekerjaan lama :)


Posted on December 7, 2009 - by Yoris Sebastian
Budi Soehardi – CNN Heroes 2009 dan Inspirasi untuk CSR

Sungguh membanggakan melihat rekaman acara CNN Heroes 2009 yang diselenggarakan di Kodak Theatre akhir November lalu bertepatan dengan perayaan Thanksgiving di America.  Budi Soehardi terpilih sebagai salah satu dari sepuluh penerima award.

IMHO, This is a HEADLINE material for our newspaper

IMHO, This is a HEADLINE material for our newspaper

Saya merinding saat melihat Budi Soehardi from Indonesia menerima award dari Kate Hudson (Aktris International yang juga aktif di Wild Aid), yang sebelumnya membacakan narasi tentang Budi Soehardi.  Untuk yang belum melihat bisa klik ke http://www.youtube.com/watch?v=8piacipZ5wU

Lebih terharu lagi saat mendengar Budi menjelaskan, “Heroes sebenarnya adalah istri dan 3 anak saya, mereka mengorbankan liburan mereka selama ini, walau sebenarnya bisa travel dengan fasilitas first class yang saya dapatkan dari fasilitas jabatan sebagai pilot.  Tapi mereka memilih budget liburan dipakai untuk membantu Roslin Oprhanage”.  Betul juga ya, kalau keluarga Budi tidak setuju toh biasanya ayah tidak bisa memaksakan kehendak.  Rumah yatim piatu ini bisa besar karena support dari semua anggota keluarga.

Berawal dari tahun 1999, saat mereka sekeluarga yang tinggal di Singapore menonton berita soal East Timor.  Awalnya hanya ingin melakukan hal yang berbeda untuk liburan kali itu.  Sebernarnya setelah kesana memberikan sumbangan, pakaian dan makanan mereka bisa saja pulang dan berkata “We’ve done enough in our capacity” Namun Budi sekeluarga akhirnya tergerak untuk membangun rumah yatim piatu bernama Roslin Orphanage.

Yang menarik disini mereka tidak menamakannya Soehardi Orphanage, tapi Roslin Orphanage yang diambil dari sepasang yatim piatu pertama yang mereka Bantu saat itu. Saya jadi ingat dengan Taman Baca dan Poligigi gratis di Batu, Jawa Timur yang juga dinamakan Amin bukan dengan nama pendirinya.

Sejak tahun 1999 itulah, budget liburan mereka selalu dipakai untuk rumah yatim piatu yang mereka miliki di East Timor hingga sekarang.  Jadi mereka practically selalu liburan ke East Timor, walau punya privileged untuk travel around the world karena merupakan anak seorang Pilot di Singapore Airline.

Mungkin kita memang harus merasakan dulu nikmatnya berbuat baik dan akhirnya ketagihan.  Saya sendiri pernah merasakan nikmatnya melihat buah kebaikan kita berhasil, walau masih sangat amat jauh kalau dibandingkan dengan apa yang dilakukan Budi Soehardi sekeluarga.

Picture 16

Dulu jaman saya fotografer, saya sering cetak foto di Rapico Melawai.  Disana saya sering bertemu dengan seorang penjual Koran dan majalah bernama Nardi.  Ada banyak penjual majalah yang berkeliaran di kawasan melawai, namun saya selalu beli dan sesekali memberi uang kepada Nardi.  Kenapa? Karena Nardi selalu belajar sambil berjualan majalah dan Koran. Jadi pagi hingga siang Nardi sekolah, sore dan malam berjualan.  Dia punya semanagt untuk maju yang luar biasa.
Sampai suatu ketika saya bekerja di Hard Rock Café dan melihat ada peluang untuk Nardi hanya kerja part time 4 jam di cleaning service namun bisa mendapatkan uang yang jauh lebih besar daripada menjual Koran dan majalah.  Jadi selain mendapat uang yang lebih besar, Nardi punya waktu lebih banyak untuk belajar tentunya.

Setelah itu saya sudah lupa dengan kisah Nardi ini.  Hingga beberapa bulan lalu, saya mendapat message di wall Facebook saya.  “Halo ini Nardi tukang majalah yang dulu… senang sekali bisa menemukan Yoris di FB, sekarang saya sudah jadi arsitek… saya lulus S1”

Wow, perasaaan senang yang tiada taranya membaca seorang Nardi sudah lulus sarjana.  Bayangkan seorang tukang penjual Koran dan majalah, bukan saja survive untuk hidup namun bisa menjadi seorang sarjana.

Feeling rewarding adalah sebuah perasaan yang tidak bisa dinilai dengan uang.  Saya yakin setiap orang bisa menjadi Hero dengan kapasitas yang mereka miliki masing-masing.  Lalu mungkin ada yang lantas berguman, “Yoris kan sudah sukses jadi bisa charity, Budi Soehardi kan Pilot sehingga bukan dana lebih untuk charity”.  Namun saya tekankan disini, charity bukan berdasarkan berapa besar yang kita berikan, namun seberapa ikhlas kita lakukan.

Budi Soehardi sekeluarga hanya membantu 47 orang orphanage di East Timor, tidak ada apa-apanya dibanding apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.  Namun saya merinding dan terharu, karena mereka mengorbankan liburan mereka sekeluarga untuk kepentingan yatim piatu yang jumlah makin berkembang setiap tahunnya.  Jadi lakukan sesuai kemampuan kita namun punya positive impact untuk penerimanya.

Malah saya mendapat inspirasi baru dari kisah Budi Soehardi, dibanding kebanyakan CSR yang saya tahu, kita terbiasa hanya memberikan charity kepada yang kurang mampu.  Sementara apa yang dilakukan Roslin Orphanage adalah memberi rumah dan sawah untuk anak-anak ini.  Hasil panen sawah digunakan untuk makan dan lebihnya bisa dijual untuk hasilnya nanti dipakai untuk kebutuhan yang lain.

Saya mengajak perusahaan-perusahaan untuk sedikit lebih kreatif dalam mengeluarkan budget CSR mereka.  Dalam berbagai penjurian yang saya hadiri, banyak perusahaan yang memaparkan program CSR mereka, yang kalau dicermati lagi sifatnya baru sekedar charity.  Harus bedakan charity dengan CSR, dan upayakan supaya kita memberi mereka ‘pancing’ instead of hanya memberikan ‘ikan’ karena dengan pancing dan ikan, lama-lama mereka bisa mandiri dan tidak memerlukan ‘ikan’ lagi dan kita bisa menolong orang lainnya lagi.  Begitulah terus berkesinambungan seperti kisah Budi Soehardi…

(Sesuai dengan postingan Yoris Sebastian untuk www.kickandy.com)

Kalau ada yang ingin ikut membantu Pak Budi, please visit http://www.roslinorphanage.org


Posted on November 24, 2009 - by Yoris Sebastian
Aktif Saat Kuliah / Sekolah

Yoris Sebastian di UNS Solo

Foto di atas adalah foto saat saya bersama para panitia Annual Conference of Economics Forum ( ALCOFE ) 2009 yang diselenggarakan di Universitas Sebelas Maret Solo. Disana saya tampil memberikan presentasi soal industri kreatif bersama Ibu Hesti dari Kementrian Dep. Perdagangan.  Minggu lalu saya juga hadir bersama Ridwan Kamil di UGM untuk Management Event dengan tema yang serupa seputar entrepreneurship dan industri kreatif.

Di UGM bahkan saya bertemu dengan beberapa anak yang juga terlibat sebagai panitia saat saya datang tahun lalu untuk seminar yang diadakan Yamaha dan Majalah Marketing.  Saya jadi ingat saat saya dulu juga aktif berorganisasi dan menggelar berbagai acara saat saya SMA dulu.  Jadi sebenarnya kesuksesan saya saat ini juga banyak karena saya dulu aktif.

Bahkan semakin banyak contoh dimana orang dengan IP atau nilai menengah namun rajin berorganisasi dan aktif ikut jadi panitia di berbagai acara saat sekolah dulu.  Sekarang jadi sukses dibanding mereka yang hanya tinggi nilainya tapi tidak ikut organisasi.  Tentunya lebih baik lagi kalau nilai tinggi dan juga rajin ikut organisasi ;)   Salah satunya adalah Pak Rhenald Kasali yang mengaku hanya punya IP 2,49 sewaktu kuliah dulu.