Archive for the ‘inspiration’ Category
Posted on February 16, 2010 - by Yoris Sebastian
Saat tulisan ini saya ketik, film Avatar sudah melewati rekor penjualan film tertinggi di North America dan di di dunia, yang sebelumnya dipegang oleh Titanic yang sama-sama dibuat oleh James ‘King of The World” Cameron. Avatar sampai saat ini sudah berhasil meraup 2,2 Billion US$ melewati Titanic yang selama 12 tahun tak terkalahkan dengan rekor 1,8 Billion US$.

Saat nonton film ini baik di bioskop biasa maupun yang 3D, saya berulang kali berguman, “Oh My Goodness!!!” Daya imajinasi yang luar biasa dari seorang James Cameron yang mengambil setting tahun 2154. Semua dipersiapkan dengan sabar sejak naskah mulai ditulis tahun 1994 dan seharusnya langsung digarap setelah sukses dengan Titanic di tahun 1997.
Seperti biasa, saya langsung google bila mendapatkan inspirasi positif dari suatu hal. Baik itu lagu, film, iklan dan lain sebagainya. Yang menarik adalah fakta bahwa James Cameron di tahun 1977, seorang Truck Driver berusia 22 tahun, pergi nonton ke bioskop, nonton film berjudul Star Wars. Setelah itu dia memutuskan untuk quit his job dan mulai masuk ke industry film.
Wow! Kalau saya boleh berkhayal… mungkin James Cameron muda sudah punya ‘mimpi’ bikin film yang lebih hebat dari Star Wars, the minute dia selesai nonton. Namun untuk menggapai mimpinya, James Cameron tentunya harus bekerja keras, belajar kuat untuk akhirnya 32 tahun berikutnya di tahun 2009 membuat Avatar.
Film major pertama dia adalah Terminator di tahun 1984. Sudah terlihat ya, kesukaan James akan sesuatu yang sifatnya masa depan. Namun untuk cari uang, dia juga membuat Rambo: First Blood Part II. Walau tentunya tidak lepas dengan film-film seperti Aliens dan The Abyss. Sampai pada puncaknya dia membuat film Epic Titanic.
Jadi untuk mewujudkan mimpi kita, jangan takut untuk membuat sesuatu yang lain dulu yang mungkin bisa menjadi ‘modal’ untuk mewujudkan mimpi kita. Kesuksesan besar Titanic tentunya memungkinkan James konsentrasi mengerjakan Avatar dengan jangka waktu yang sangat lama. Bahkan rencana awal untuk launch film ini di tahun 1999 (2 tahun setelah Titanic) tidak jadi karena teknologi yang diperlukan belum ada.
Mundur 10 tahun tidak menjadi masalah karena keuntungan Titanic sudah cukup untuk James Cameron konsentrasi penuh pada Avatar.

Jadi inspirasinya adalah “Banyak jalan menuju Roma” Jangan takut untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai mimpi kita saat ini, bila itu bisa menjadi modal untuk kita menggapai mimpi. Asal lakukanlah dengan maksimal. Walau kadang realitas memaksa kita harus mengerjakan pekerjaan yang tidak terlalu kita sukai. Seize the Day. Manfaatkan hari-harimu semaksimal mungkin tanpa melupakan mimpi atau passion yang kita miliki.
(Seperti yang dimuat di KickAndy.com)
Posted on January 26, 2010 - by Yoris Sebastian

Untuk yang mengikuti saya di Twitter @yoris tentu sudah tau bahwa memasuki tahun 2010, saya membeli clicker baru. Selain supaya lebih semangat kerja, lebih semangat kasih seminar dan workshop tentunya. Selain itu, ada fungsi tambahan dari clicker ini yaitu fungsi sebagai mouse. Kenapa saya butuh ini? karena terkadang saat memutar video, saya perlu untuk pause sejenak menjelaskan sesuatu sebelum lanjut lagi dengan adegan berikutnya di video yang sama.
Selama ini hal tersebut tidak bisa saya lakukan dengan clicker saya yang lama. Apalagi clicker yang baru ini harganya hanya setengah dari clicker saya yang lama. I love new technology yang selalu makin affordable
Walau tentunya clicker yang lama tetap saya simpan. Maklum, sangat banyak sejarah yang sudah ditorehkan. Termasuk membawa saya menang di london tahun 2006 saat saya ikut International Young Creative Entrepreneur.
So, jangan lupa untuk terus ‘memperbaharui’ sesuatu yang lama. Biar lebih dinamis. Pekerjaan boleh sama, namun dengan beberapa initiative, kita bisa lebih semangat. Semangat baru – pekerjaan lama
Posted on December 7, 2009 - by Yoris Sebastian
Sungguh membanggakan melihat rekaman acara CNN Heroes 2009 yang diselenggarakan di Kodak Theatre akhir November lalu bertepatan dengan perayaan Thanksgiving di America. Budi Soehardi terpilih sebagai salah satu dari sepuluh penerima award.

IMHO, This is a HEADLINE material for our newspaper
Saya merinding saat melihat Budi Soehardi from Indonesia menerima award dari Kate Hudson (Aktris International yang juga aktif di Wild Aid), yang sebelumnya membacakan narasi tentang Budi Soehardi. Untuk yang belum melihat bisa klik ke http://www.youtube.com/watch?v=8piacipZ5wU
Lebih terharu lagi saat mendengar Budi menjelaskan, “Heroes sebenarnya adalah istri dan 3 anak saya, mereka mengorbankan liburan mereka selama ini, walau sebenarnya bisa travel dengan fasilitas first class yang saya dapatkan dari fasilitas jabatan sebagai pilot. Tapi mereka memilih budget liburan dipakai untuk membantu Roslin Oprhanage”. Betul juga ya, kalau keluarga Budi tidak setuju toh biasanya ayah tidak bisa memaksakan kehendak. Rumah yatim piatu ini bisa besar karena support dari semua anggota keluarga.
Berawal dari tahun 1999, saat mereka sekeluarga yang tinggal di Singapore menonton berita soal East Timor. Awalnya hanya ingin melakukan hal yang berbeda untuk liburan kali itu. Sebernarnya setelah kesana memberikan sumbangan, pakaian dan makanan mereka bisa saja pulang dan berkata “We’ve done enough in our capacity” Namun Budi sekeluarga akhirnya tergerak untuk membangun rumah yatim piatu bernama Roslin Orphanage.
Yang menarik disini mereka tidak menamakannya Soehardi Orphanage, tapi Roslin Orphanage yang diambil dari sepasang yatim piatu pertama yang mereka Bantu saat itu. Saya jadi ingat dengan Taman Baca dan Poligigi gratis di Batu, Jawa Timur yang juga dinamakan Amin bukan dengan nama pendirinya.
Sejak tahun 1999 itulah, budget liburan mereka selalu dipakai untuk rumah yatim piatu yang mereka miliki di East Timor hingga sekarang. Jadi mereka practically selalu liburan ke East Timor, walau punya privileged untuk travel around the world karena merupakan anak seorang Pilot di Singapore Airline.
Mungkin kita memang harus merasakan dulu nikmatnya berbuat baik dan akhirnya ketagihan. Saya sendiri pernah merasakan nikmatnya melihat buah kebaikan kita berhasil, walau masih sangat amat jauh kalau dibandingkan dengan apa yang dilakukan Budi Soehardi sekeluarga.

Dulu jaman saya fotografer, saya sering cetak foto di Rapico Melawai. Disana saya sering bertemu dengan seorang penjual Koran dan majalah bernama Nardi. Ada banyak penjual majalah yang berkeliaran di kawasan melawai, namun saya selalu beli dan sesekali memberi uang kepada Nardi. Kenapa? Karena Nardi selalu belajar sambil berjualan majalah dan Koran. Jadi pagi hingga siang Nardi sekolah, sore dan malam berjualan. Dia punya semanagt untuk maju yang luar biasa.
Sampai suatu ketika saya bekerja di Hard Rock Café dan melihat ada peluang untuk Nardi hanya kerja part time 4 jam di cleaning service namun bisa mendapatkan uang yang jauh lebih besar daripada menjual Koran dan majalah. Jadi selain mendapat uang yang lebih besar, Nardi punya waktu lebih banyak untuk belajar tentunya.
Setelah itu saya sudah lupa dengan kisah Nardi ini. Hingga beberapa bulan lalu, saya mendapat message di wall Facebook saya. “Halo ini Nardi tukang majalah yang dulu… senang sekali bisa menemukan Yoris di FB, sekarang saya sudah jadi arsitek… saya lulus S1”
Wow, perasaaan senang yang tiada taranya membaca seorang Nardi sudah lulus sarjana. Bayangkan seorang tukang penjual Koran dan majalah, bukan saja survive untuk hidup namun bisa menjadi seorang sarjana.
Feeling rewarding adalah sebuah perasaan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Saya yakin setiap orang bisa menjadi Hero dengan kapasitas yang mereka miliki masing-masing. Lalu mungkin ada yang lantas berguman, “Yoris kan sudah sukses jadi bisa charity, Budi Soehardi kan Pilot sehingga bukan dana lebih untuk charity”. Namun saya tekankan disini, charity bukan berdasarkan berapa besar yang kita berikan, namun seberapa ikhlas kita lakukan.
Budi Soehardi sekeluarga hanya membantu 47 orang orphanage di East Timor, tidak ada apa-apanya dibanding apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Namun saya merinding dan terharu, karena mereka mengorbankan liburan mereka sekeluarga untuk kepentingan yatim piatu yang jumlah makin berkembang setiap tahunnya. Jadi lakukan sesuai kemampuan kita namun punya positive impact untuk penerimanya.
Malah saya mendapat inspirasi baru dari kisah Budi Soehardi, dibanding kebanyakan CSR yang saya tahu, kita terbiasa hanya memberikan charity kepada yang kurang mampu. Sementara apa yang dilakukan Roslin Orphanage adalah memberi rumah dan sawah untuk anak-anak ini. Hasil panen sawah digunakan untuk makan dan lebihnya bisa dijual untuk hasilnya nanti dipakai untuk kebutuhan yang lain.
Saya mengajak perusahaan-perusahaan untuk sedikit lebih kreatif dalam mengeluarkan budget CSR mereka. Dalam berbagai penjurian yang saya hadiri, banyak perusahaan yang memaparkan program CSR mereka, yang kalau dicermati lagi sifatnya baru sekedar charity. Harus bedakan charity dengan CSR, dan upayakan supaya kita memberi mereka ‘pancing’ instead of hanya memberikan ‘ikan’ karena dengan pancing dan ikan, lama-lama mereka bisa mandiri dan tidak memerlukan ‘ikan’ lagi dan kita bisa menolong orang lainnya lagi. Begitulah terus berkesinambungan seperti kisah Budi Soehardi…
(Sesuai dengan postingan Yoris Sebastian untuk www.kickandy.com)
Kalau ada yang ingin ikut membantu Pak Budi, please visit http://www.roslinorphanage.org
Posted on November 24, 2009 - by Yoris Sebastian

Foto di atas adalah foto saat saya bersama para panitia Annual Conference of Economics Forum ( ALCOFE ) 2009 yang diselenggarakan di Universitas Sebelas Maret Solo. Disana saya tampil memberikan presentasi soal industri kreatif bersama Ibu Hesti dari Kementrian Dep. Perdagangan. Minggu lalu saya juga hadir bersama Ridwan Kamil di UGM untuk Management Event dengan tema yang serupa seputar entrepreneurship dan industri kreatif.
Di UGM bahkan saya bertemu dengan beberapa anak yang juga terlibat sebagai panitia saat saya datang tahun lalu untuk seminar yang diadakan Yamaha dan Majalah Marketing. Saya jadi ingat saat saya dulu juga aktif berorganisasi dan menggelar berbagai acara saat saya SMA dulu. Jadi sebenarnya kesuksesan saya saat ini juga banyak karena saya dulu aktif.
Bahkan semakin banyak contoh dimana orang dengan IP atau nilai menengah namun rajin berorganisasi dan aktif ikut jadi panitia di berbagai acara saat sekolah dulu. Sekarang jadi sukses dibanding mereka yang hanya tinggi nilainya tapi tidak ikut organisasi. Tentunya lebih baik lagi kalau nilai tinggi dan juga rajin ikut organisasi
Salah satunya adalah Pak Rhenald Kasali yang mengaku hanya punya IP 2,49 sewaktu kuliah dulu.
Posted on November 4, 2009 - by Yoris Sebastian
Itu yang selama ini saya yakini dan hari ini dikonfirmasi lagi oleh Dr. Joseph Michelli dalam seminar sehari “Lessons From The Legends” yang diadakan oleh Result Asia dan BrandI.
Mungkin banyak yang langsung bilang Ritz Carlton kan bisa kasih extra service karena memang harganya sangat premium. Bahkan setiap employee punya otoritas sebesar $2000 tanpa approval selama hal yang dia lakukan demi kenyamanan tamu. Well, itu karena Ritz Carlton memang punya strategy seperti itu, namun dibalik semua itu mereka simply hanya berusaha untuk melakukan service dengan konsep “Create The Home of a Loving Parent”. As simple as that. Apakah seorang ibu akan minta approval dulu kalau anaknya ada yang sakit? dan masih banyak lagi kisah yang diceritakan Dr. Michelli yang memang adalah pengarang buku “The New Gold Standard” yang memang mengupas cara-cara Ritz Carlton menjalankan customer service mereka.
Belum lagi bagaimana Starbucks yang memang fokus menciptakan customer instead of fokus pada profit making. Starbucks menciptakan suasana yang luar biasa berbeda sehingga orang mau membeli coffee dengan harga premium. Dengan customer service yang bagus tak heran bila banyak orang memegang cup starbucks dengan posisi logo keluar karena bangga dengan brand starbucks.
Memang sulit kalau bekerja di tempat yang karyawannya sendiri tidak bangga akan perusahaan tersebut, bagaimana pelanggannya juga mau bangga?
Kembali ke soal budget, hari ini Dr. Michelli juga bercerita bagaimana dia disambut di kamarnya semalam dengan ‘unique welcome notes’ from the GM. Biasanya kan hanya kartu, kali ini dia mendapatkan 3 bukunya dibingkai lengkap dengan welcome notes dari GM Ritz Carlton Jakarta.
Saat makan siang saya bertanya apakah dia mendapatkan hal yang serupa di Singapore or Kuala Lumpur dalam rangkaian tour asia dia kali ini? Ternyata tidak, namun dia sangat impress dengan pemberian welcome notes ini. Dia pasti akan menggantungnya sebagai memorabilia di rumahnya nanti.
So customer service is not only about the budget but about the love and your creativity

Punya pengalaman customer service yang bagus di Indonesia? boleh di share ya…
Posted on October 29, 2009 - by Yoris Sebastian
Berawal dari sebuah kado ulang tahun. Yup, kado ulang tahun buat Ibu Fatmah cukup unik… hanya sebuah milis http://groups.yahoo.com/group/naturalcookingclub namun berawal dari milis inilah sebuah community yang powerful lahir dan tak lama setelah milis ini berkembang dan sukses, Ibu Fatmah bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai sekertaris direksi sebuah perusahaan.

Photo: Kompas Minggu
Pendapatan dari memasak di rumah bisa menopang pendapatannya jauh diatas gaji bulanan yang biasa dia terima. Inilah contoh nyata dari sebuah statement “GIVING IS THE NEW TAKING”. Jadi kalau dulu orang merahasiakan resep masakan, kini melalui milis dan web Natural Cooking Club mereka sharing resep masakan sehingga saat ada yang mau membeli, order bisa di sub ke teman lain yang bisa membuat masakan yang sama.
Kini member NCC sudah mencapai 6000 orang dan saya yakin akan terus berkembang. The Power of community…!!! Anda punya community juga?
Posted on September 28, 2009 - by Yoris Sebastian
Berhubung waktu saya menjadi narasumber untuk Kick Andy dalam episode Young On Top tidak sempat ada re-run karena tepat hari Minggu ada deklarasi Capres-cawapres Megawati-Prabowo. Banyak sekali yang bertanya di blog ini, maupun di www.kickandy.com
Akhirnya saya dapat juga copy nya. Enjoy.
Posted on September 18, 2009 - by Yoris Sebastian

Melihat produk-produk yang ada di supermarket menjelang Lebaran, jadi kepikiran… kenapa ya Lebaran selalu diisi dengan perang discount? Kenapa tidak diciptakan produk-produk baru yang hanya dijual di Jakarta dan diluncurkan menjelang Lebaran sehingga orang-orang yang pulkam alias mudik bisa membawa produk-produk tersebut sebagai oleh-oleh dari Jakarta.
Jadi by design, produk-produk baru tersebut hanya di jual di Jakarta sehingga kalau dibawa pulang menjadi ’sesuatu’ untuk mereka yang di daerah. Harga bisa sedikit premium khusus menjelang Lebaran dan perlahan setelah Lebaran harga menjadi normal karena sudah disebarkan di seluruh Indonesia. Hitung-hitung ‘Launch’ duluan di Jakarta
Sama seperti uang Rp. 2000 baru yang mungkin akan jadi primadona tahun ini hehehe… di daerah sudah ada belum sih uang pecahan Rp. 2000?
Posted on August 26, 2009 - by Yoris Sebastian
Lagi-lagi saya menemukan fakta yang provocative di ted.com yang sebenarnya cukup lama tidak saya kunjungi. Maklum akhir-akhir ini sedang sibuk sekali.

Kali ini TED Talks dari Daniel H. Pink, salah satu pengarang buku favorite saya. Bukunya sudah pernah saya post di blog ini, tentang The Adventure of Johnny Bunko. Disini Daniel yang ternyata sekolah hukum namun akhirnya tidak pernah jadi pengacara mengangkat fakta penting dari beberapa research yang ada, bahwa reward hanya perlu untuk performance atau pekerjaan yang benar-benar mudah.
Malah semakin besar reward mungkin akan menjerumuskan kita ke performance yang semakin buruk. More details silahkan diresapi di rekaman TED Talks berikut ini http://www.ted.com/talks/dan_pink_on_motivation.html
Aneh tapi nyata. Saya setuju, kita harus semakin creative memilih reward untuk karyawan kita supaya mereka semakin ter-motivasi untuk bekerja. Sejak dulu, saya selalu percaya dengan result oriented rather than time spend in the office. Apalagi saya sendiri sangat passionate dengan pekerjaan saya, sehingga hours of working tidak perlu dipertanyakan lagi. Jadi pada saat ada yang mengusulkan soal disiplin waktu kerja… saya pribadi kurang setuju ya. Saya lebih senang dengan disiplin hasil kerja
lebih lagi… hasil kerja yang kreatif dan efektif
Time has changed. Setuju?
Posted on August 10, 2009 - by Yoris Sebastian
Dulu waktu saya kecil, saya tidak terlalu suka baca. Paling langganan Donald Bebek dan majalah HAI. Buku-buku serius dan koran tidak terlalu menarik buat saya. Sampai satu hari saya nonton Drama Keluarga “Rumah Masa Depan” dalam episode Sangaji.
Sangaji adalah seorang anak tukang koran yang selalu membaca koran bekas dan majalah yang tidak terjual. Namun karena dia sangat rajin membaca, saat ikut lomba cerdas cermat, Sangaji menang. Kurang lebih demikian ceritanya. Sejak itu saya sadar, dengan berbekal pengetahuan yang kita dapat dari membaca, kita bisa unggul dibanding orang lain yang tidak gemar membaca.
Pagi tadi, saya nonton Kuis Siapa Lebih Berani yang dipandu Helmi Yahya dan Alya Rohali. Episode kali ini menampilkan musisi dan penyanyi antara lain RAN, Neo, Maliq & D’essential, 21st Knight dan Saykoji. Senang sekali melihat Saykoji yang sedang naik daun dengan lagunya berjudul Online membuktikan bahwa tidak sia-sia Igor rajin online karena dia dengan lebih berani melahap berbagai pengetahuan umum yang ditanyakan.

Bahkan saat menjawab pertanyaan terakhir dengan nilai 10 juta rupiah, Igor langsung dengan gagah berani menjawab, “Betul..!!!” Helmi dan Alya bertanya kenapa Igor sangat yakin? “Jawabannya santai… saya pernah lihat di satu thread di Kaskus… Jadi saya yakin betul”
Helmi sampai berujar, “Jangan under-estimate musisi, mereka menunjukkan bahwa mereka juga mampu”
Jadi pepatah Rajin Membaca Pangkal Pandai memang benar. Mau membaca secara tradisional maupun sekarang secara online….

