Archive for the ‘sport’ Category
Posted on August 21, 2010 - by Yoris Sebastian
Great Talent follow Great Coach. Mungkin itu statement yang tepat kenapa Mesut Özil lebih memilih bergabung dengan Real Madrid dibanding klub-klub besar lain yang mencoba meminangnya. Walau pelatih-pelatih lain seperti Pep Guardiola dan Sir Alex Ferguson juga merupakan sosok yang luar biasa, namun José Mourinho memiliki personal branding dan track record yang jauh lebih menarik hati para talent.
Sir Alex Ferguson memang pelatih dan manager yang luar biasa dari Manchester United, namun ia terkenal sangat amat galak. Jaman sekarang Talent sudah tidak mau ‘disemprot’ oleh pelatih seperti style Ferguson. Mungkin style Ferguson sangat relevant di masa lalu. Jaman sekarang Talent mencari kenyamanan.
Seperti José Mourinho yang dikenal sangat dekat dengan para pemainnya. Beberapa pemain FC Porto ikut dengannya ke Chelsea. Kini pun beberapa pemain Chelsea maupun Inter sebenarnya ingin bergabung dengan Mourinho juga. Namun Mourinho sangat amat disiplin dalam berlatih dan mempersiapkan para pemainnya. Disiplin tidak harus Galak
Sementara Pep Guardiola memang sosok hebat di usia muda sehingga saya sempat menulisnya sebagai salah satu contoh Young on Top. Namun masih perlu pembuktian untuk menjadi seorang José Mourinho yang selain punya berbagai prestasi dengan berbagai klub, dengan sadar sering melakukan personal branding di layar kaca saat Live coverage berlangsung. Tak heran kalau Mourinho juga kerap dikontrak oleh brand
Mesut Özil pemain muda asal Germany kelahiran 15 October 1988 yang menjadi salah satu pemain utama yang membawa Germany sukses di Piala Dunia 2010 lalu ini akan bergabung dengan José Mourinho di Real Madrid dan membantu Mourinho mencetak rekor dunia sebagai pelatih pertama di dunia yang mampu membawa 3 klub berbeda menjuarai Piala Champions.
Seperti statement saya yang dikutip oleh sahabat saya, Penulis buku Career Coach, Rene Suhardono di Kompas tanggal 14 Agustus lalu, “Let other people chase you by doing something phenomenal” just like José Mourinho… The Special One….
Posted on July 14, 2010 - by Yoris Sebastian
Setelah 5 kali selalu nonton final Piala Dunia di Hard Rock Cafe Jakarta, kali ini saya berkesempatan untuk nonton bareng di tempat lain. Seperti biasa saya mencoba membuat list tempat-tempat yang kreatif dan tidak biasa untuk kemudian saya pilih. Tahun ini ada 2 tempat nobar yang cukup unik untuk saya nonton Final Piala Dunia antara Spanyol dan Belanda.
Yang pertama adalah di Bandung dalam acara pembukaan acara Semarak Bdg. Dimana kita akan bersama-sama nonton di tepi sungai Cikapundung. Diperkirakan akan hadir sekitar 2000 orang disana. Sangat unik dan bagus untuk awareness bahwa sebenarnya di Bandung ada banyak ruang publik yang sayangnya tidak terlalu dilestarikan dan digunakan untuk warga.
Pilihan kedua adalah nobar di blitzmegaplex yang memutar Final di layar terbesar di Indonesia bersama 600 orang penonton lainnya. So far, belum pernah ada yang membuat nobar di bioskop. Tentu suasana akan sangat seru, apalagi ini ada nobar final.
Akhirnya pilihan saya jatuhkan ke blitzmegaplex karena padatnya jadwal saya dan saya cukup sering bolak-balik Bandung belakangan ini. Apalagi di musim liburan sekolah ini jalan tol menuju Bandung macet karena perbaikan jalan tol yang (anehnya, dilakukan saat arus kendaraan sedang padat) sehingga perjalanan bisa memakan waktu 4 jam.
Sometimes, we can’t do our first option. Harus jaga kondisi karena Creative Junkies masih harus ke Solo dan Singapore bulan ini. What a busy yet exciting month
Ternyata nobar di blitz lebih ramai dari yang saya perkirakan. Mereka membuka 2 audi dengan kapasitas 600 orang plus ada 2 audi kecil yang tampaknya hanya untuk invitation Bank Permata. Wah blitz panen nih
Makin senang lagi karena tim yang saya dukung di Final menang
Sayangnya partai Final yang saya harapkan berjalan indah, TikiTaka vs Total Football tidak kejadian. Yang ada Belanda menjalankan sistim Full Body Contact
Untungnya di perpanjangan waktu Spanyol berhasil mencetak gol
Satu bioskop bergemuruh! Final usai. Sekarang tinggal antrian panjang untuk keluar dari Grand Indonesia yang surprisingly hanya membuka 1 loket keluar
Posted on July 2, 2010 - by Yoris Sebastian
Wah karena kesibukan yang luar biasa, saya jadi nggak sempat menulis blog
padahal banyak sekali yang bisa ditulis belakangan ini. Mungkin sudah saatnya membeli alat yang bisa menuliskan apa yang saya bacakan
World Cup 2010, misalnya serunya Vuvuzela yang seharusnya mengingatkan kita untuk selalu menggunakan sesuatu yang lokal untuk sesuatu yang sifatnya global. Piala Dunia di Afrika Selatan disambut egmpita oleh seluruh dunia dan mendadak Vuvuzela menjadi terkenal. Mereka bahkan membuat Vuvuzela plastik sesuai dengan warna masing-masing negara peserta Piala Dunia.
Banyak kejutan terjadi, mulai dari gugurnya Italy dan Prancis di babak penyisihan grup. Kedua pelatih dari tim besar ini memilih menggunakan pemain-pemain tua yang membawa Italy dan Prancis menjadi Juara dan Runner-Up Piala Dunia 2006. Prancis lebih parah lagi karena terjadi insiden ‘pemulangan Anelka dan mogok latihan para pemain’.
Tim andalan saya, Inggris juga tidak bersinar. Mereka tidak kompak dan ini sekali lagi menunjukkan bahwa sebuah tim seharusnya lebih mementingkan kekompakan dibanding banyaknya pemain bintang namun tidak ada chemistry-nya. Para pemain muda yang bukan bintang mungkin bisa diberi kesempatan. Bila Capello diberi kesempatan lagi untuk Piala Eropa 2012.
Kini saya mendukung Argentina karena saya senang akan sejarah. Maradona sukses sebagai Kapten kesebelasan dan membawa Argentina menjadi juara dunia. Kini dia memiliki kesempatan untuk menjadi Kapten yang kemudian menjadi Pelatih dan juga membawa Argentina menjadi juara dunia. Maradona meramu timnya campuran yang muda Messi, Higuain dan Tevez dengan pemain senior seperti Juan Sebastian Veron.
Maradona juga dengan santai memberikan kesempatan kepada Messi untuk menjadi Kapten di usia 22 tahun
Banyak terobosan yang dilakukan pelatih ini.
Selain itu saya suka dengan kaul Maradona yang akan lari mengelilingi Obelisk, a famous Buenos Aires landmark, bila Argentina menjadi juara dunia kali ini. Maradona memang selalu membuat kontroversi dan punya news value yang besar untuk media.
Berbicara soal Fads, seperti biasa Pepsi dengan kreatif membuat sebuah campaign berjudul, “If the coach goes naked, we will, too. Pepsi promises.” Yup, Pepsi akan jualan minuman soda mereka selama 1 minggu tanpa label bila Argentina juara dunia. Sebuah kampanye yang innovative di sebuah negara yang memang gila bola. Sekarang saya sangat berharap Argentina juara. Walau harus diakui penampilan Jerman, Spanyol dan Brasil cukup meyakinkan. Tapi kalau melihat dari hubungan pelatih dan pemain tampaknya Argentina punya kans besar untuk juara. We’ll see
Posted on February 11, 2010 - by Yoris Sebastian

Seperti diberitakan di berbagai media, Markis Kido dan Hendra Setiawan siap membela Indonesia untuk Piala Thomas yang tinggal beberapa pekan lagi namun mereka masih menunggu tanggapan PB PBSI atas surat pengunduran diri yang mereka ajukan sehingga mereka bisa mandiri dan tampil sebagai pemain profesional. Memang saat ini banyak pemain senior seperti juga Taufik Hidayat yang memilih untuk menjadi pemain non-pelatnas sehingga bila mereka bertanding, mereka bisa mendapatkan hadiah uang secara maksimal, selain juga bisa mendapatkan uang sponsor secara full.
Saya tidak tahu berapa uang sponsor yang diambil PBSI, demikian pula berapa persen hadiah dari kejuaraan yang dipotong PBSI, namun saya rasa memang sudah saatnya kita berpikir win-win untuk atlit-atlit bulutangkis kita. Kalau tidak, bukan saja gelombang pemain-pemain keluar dari pelatnas. Namun banyak juga yang pindah ke luar negri dan bahkan ada yang sampai ganti warga Negara.
Lantas bagaimana sih deal win-win yang terbaik? Saya tidak tahu karena tidak memegang angka-angka yang sekarang berjalan, namun yang harus disadari oleh PBSI adalah di era social media seperti ini sangat mudah para pemain kita berhubungan dan mengetahui apa yang dilakukan Negara lain dalam menjalankan organisasi bulutangkis di Negara mereka. Mereka bisa dengan santai chat dengan para pemain di luar negri.
Agak sulit memang untuk bertindak win-win. Apalagi dari kecil kita seringkali (tanpa sengaja) diajarkan untuk bertindak win. Contohnya, bila ada lomba untuk anak kecil coba perhatikan apa yang dilakukan orang tua mereka saat pertanyaan disampaikan? Mereka membisiki anak mereka dengan jawaban. Jadi apapun caranya, kamu harus menang.
Jadi saat dewasa agak sulit untuk kita bertindak win-win. Wong dari kecil dibiasakan untuk menang sendiri dengan cara apapun.
Padahal kalau kita bisa berpikir dan bertindak win-win, kan semua pihak diuntungkan dan kesuksesan jangka panjang lebih mungkin terjadi.
Saya ambil contoh English Premier League yang konon merupakan liga sepakbola terbaik di dunia. Pemain-pemain sepakbola terbaik yang ada di muka bumi bermain disana.
Oh, kita langsung bilang bahwa kita tidak bisa dong bandingkan sepakbola Inggris dengan Indonesia. Lho kenapa tidak bisa? Di Indonesia, penonton sepakbolanya suka rusuh. Lah di Inggris malah saking rusuhnya sampai ada yang meninggal. Ingat tragedy Heysel?
English Premier League baru dimulai tahun 1992. Sama seperti Hard Rock Café buka di Jakarta. Tiga tahun yang lalu, saya sempat me-riset hal ini karena sempat punya harapan menggarap olahraga di Indonesia lebih baik.
EPL membagi sebagian besar uang sponsor dan broadcast rights untuk semua tim yang berhasil masuk liga utama. Jadi dengan masuk liga utama saja, sebuah tim sudah bisa mendapatkan uang yang sangat besar jumlah. Belum lagi pendapatan mereka dari tiket nonton dan merchandise. Sepakbola menjadi bisnis yang saling menguntungkan. Karena klub punya uang besar saat masuk liga utama, mereka bisa membeli pemain-pemain yang baik. Bahkan pelatih terbaik juga bisa didapatkan.
Sementara kalau di tanah air, seperti sering kita baca di berbagai media. Klub sepakbola malah menggunakan dana APBD. Sayang sekali. Padahal studi kasus dari berbagai Negara lain bisa kita ambil inspirasinya. Kita punya modal penonton yang sangat cinta sepakbola.
Jadi kalau ditanya apakah Bulutangkis atau Sepakbola kita punya harapan? Jawabanya sangat punya. Tergantung apakah kita mau sedikit kreatif dan belajar dari apa yang terjadi out there. Dan tentunya menjalankan prinsip win-win untuk semua stakeholder dari olahraga tersebut.
(Seperti dimuat di website Kick Andy!)
Posted on December 29, 2009 - by Yoris Sebastian
Pagi ini, saya membaca laporan akhir tahun Kompas yang berjudul “Jakarta Ruwet Jakarta Stress”. Ada benarnya juga. Dalam setahun ini terjadi banyak sekali kejadian yang berhubungan dengan stress.
Mungkin sudah saatnya Jakarta berbenah diri dan memberi lingkungan yang kondusif untuk warganya. Satu hal yang sudah mulai terlihat sejak kepemimpinan Bang Foke alias Pak Fauzi Bowo adalah mulai banyaknya taman yang dibangun menjadi ruang publik. Salut for this!
Selain itu menurut saya, Jakarta perlu lebih banyak fasilitas olahraga. Semua orang tau dengan rutin berolahraga, resiko stress akan lebih kecil. Namun tidak semua orang suka olahraga. Ada ide lain? Sebenarnya kalau saya mengambil inspirasi dari UK dan US, mereka disana secara sistimatik menggunakan olahraga sebagai salah satu sarana pelampiasan stress secara positif.
Di US, kita semua tau dengan kompetisi basket ball bernama NBA. Disana kita bisa nonton basket, sambil memberi semangat dan sesekali memarahi pemain pujaan kita kalau salah. Demikian pula di UK yang kita kenal dengan EPL alias English Premier League. Saya beruntung pernah nonton pertandingan sepak bola disana. Emosi tersalurkan secara positif disana… bahkan walaupun kita sering maki-maki pemain namun suara kita tenggelam diantara riuhnya stadion.

Sementara di Jakarta, karena kita tidak punya sarana penyaluran positif emosi kita… kita akhirnya memarahi supir kita untuk masalah kecil. Memarahi staff kita dan bahkan berantem dengan pasangan untuk masalah yang tidak besar. Ujung-ujungnya kita menjadi stress.
So, untuk Jakarta apakah kita harus bikin lebih banyak Stadion Bola? atau Hall Basket? As usual, Thinking out of the box – Execute Inside the Box tidak mau copy paste yang terjadi di luar. Kita punya sesuatu yang Indonesia banget, tidak pernah berantem (not that i know) dan sangat membanggakan.
Apalagi kalau bukan Badminton. Salah satu dari sedikit olahraga kita yang tingkat dunia!!! Saya bermimpi nanti akan ada King Smash Hall, Rudy Hartono Hall atau Alan – Susi Hall… nggak papa kan… toh banyak mimpi-mimpi saya yang kemudian menjadi kejadian. Kalau mengambil quote dari film sang Pemimpi, “Bermimpilah… maka Tuhan akan memeluk mimpimu”
Posted on August 9, 2009 - by Yoris Sebastian

Sabtu kemarin, 8.8.9 Black Innovation Awards (BIA) 2009 sudah mengumumkan nama para pemenang. Saya sebagai juri cukup puas bukan saja karena secara kuantitatif jumlah karya yang layak dinilai juri tahun ini meningkat 10 kali lipat. Tahun lalu para juri menilai 80 karya untuk dipilih 50 semi-finalist, sementara tahun ini ada 800 karya yang harus dipilih menjadi 50 semifinalist.
Karya-karya yang masuk semi-final juga harus ‘tahan banting’ dari komentar-komentar BIA Enthusiast yang tahun ini bisa memberikan komentar mengenai orisinalitas dan kreativitas para karya.
Tahun ini, para juri juga bisa tatap muka dengan para inovator yang masuk final 20 besar sehingga dalam menentukan pemenang, kami bisa memberi nilai tambah untuk mereka yang punya good reason di balik produk temuan mereka.
Dan, inilah wajah para pemenangnya:

Bharoto Yekti, Muhammad Rois Abidin, Arif Kurianto
Yang pertama disebut malam itu adalah Arif Kurianto sang inovator pembuat Blind Gaple. Dengan blind gaple, para tuna netra dapat saling bermain gaple tidak hanya dengan sesama tuna netra tapi juga bisa dilakukan dengan orang normal.
Lalu juri memanggil pemenang berikutnya, Muhammad Rois Abidin dengan produk Bagcamp, dimana tenda dan tas menjadi satu dalam rancangan yang apik.
Pemenang berikutnya adalah produk Templast Sampah yang dirancang oleh Bharoto Yekti S.Ds. Simple namun berguna. Bharoto membuat design tempat sampah yang bisa digabungkan dengan berbagai kantong plastik yang beredar di pasaran, mulai dari yang kecil sampai kantong plastik besar.
Pemenang keempat, sungguh mengejutkan karena ternyata juga dimenangkan oleh Muhammad Rois Abidin. Kali ini dengan produk Cankingz. Satu ide yang sederhana namun dikemas menarik dengan suatu alat yang mampu mempermudah membawa durian agar lebih aman dan nyaman. Bukan saja untuk naik pesawat namun saat ini banyak mobil yang tidak lagi memiliki trunk terpisah, sehingga produk ini akan sangat bermanfaat.
Seperti biasa, kalau para pemenang hadiah utama mendapatkan hadiah masing-masing @ Rp. 25.000.000. Kita juga memiliki 1 hadiah favorit pilihan BIA Enthusiast yang tahun ini jatuh ke E.B.I (Economic Bath Installation) karya Dika Gusti Nugraha.
Yang tidak biasa tahun ini, panitia memberikan grand prize untuk karya yang mendapatkan nilai tertinggi dari dewan juri untuk berangkat ke Sydney, Australia untuk menghadiri shooting program “New Inventors” dari program televisi ABC dan melihat tempat-tempat dan hal-hal yang inovatif yang ada disana. Well, selamat untuk Bharoto Yekti S.Ds yang unggul di total nilai dari seluruh dewan juri. Semoga trip ke Sydney nanti semakin membuka wawasan sebagai seorang innovator.
Posted on July 17, 2009 - by Yoris Sebastian

Cristiano Ronaldo diperkenalkan ke publik Madrid yang memenuhi Stadion Bernabeu. Di hadapan sekitar 80.000 fans ini menjadi rekor terbaru acara penyambutan seorang pemain. Sebelumnya rekor dipegang oleh sang maestro Diego Maradona di Napoli, Juli 1984 dengan angka 75.000
Seperti yang kita ketahui, Cristiano Ronaldo juga memecahkan rekor transfer sebesar 80 juta Poundsterling (1 Pound = Rp. 16.600) dari Manchester United ke Real Madrid dan menjadi pemain termahal di dunia dengan bayaran konon 13 juta Euro (sekitar Rp 182 Milyar) semusim.

Dengan nomor punggung 9, kini Cristiano Ronaldo siap dengan panggilan baru CR9. Maklum penerus no keramat 7 di Manchester United ini tidak bisa menggunakan no 7 di Real Madrid lantaran dipakai oleh sang kapten, Raul. Sebelumnya no 7 identik dengan pemain legendaris MU, George Best, Bryan Robson, Eric Cantona dan David Beckham. Apakah no 7 akan diberikan kepada Michael Owen? atau justru ke Wayne Rooney sehingga no 10 dipakai oleh Michael Owen.
Gila ya…. di luar sana, no pemain pun menjadi berita untuk wartawan dan menjadi investasi untuk penggemar. Di ebay, ada yang menjual baju bekas Eric Cantona di MU dengan nomor legendaris tadi sebesar US$ 159.
Kenapa klub bisa membayar seorang pemain semahal itu? Karena penerimaan dari liga yang demikian besar karena pembagian iklan, belum lagi tv rights, belum lagi penerimaan dari liga champions, belum lagi dari penonton yang bayar tiket masuk, F&B dan tentunya merchandise.
Saat ini saya hanya bisa belajar dari kreativitas mereka di luar sana menggarap Sporteconomy. Someday saya berharap Indonesia juga bisa…
Posted on June 26, 2009 - by Yoris Sebastian

Saya masih ingat bagaimana saya waktu kecil tidak pernah melewatkan siaran langsung pertandingan bulutangkis. Malah kami sekeluarga selalu nonton ramai-ramai dan setelah itu saya bersama kakak dan adik saya langsung bermain bulutangkis. Di film juga diperlihatkan bagaimana orang sekampung menonton pertandingan bulutangkis secara langsung di depan rumah Guntur, tokoh utama film ini.
Bulutangkis memang sangat digemari di Indonesia dan merupakan salah satu olahraga tingkat dunia yang sempat didominasi oleh Indonesia. Medali emas pertama Olimpiade juga kita raih dari olahraga ini. Saya sangat terharu saat melihat Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya berkibar di olimpiade dan emas pertama diraih.
Apabila film bagus produksi Alenia Productions ini sukses dan mampu menciptakan deman badminton lagi sehingga banyak bakat-bakat baru yang masuk ke klub bulutangkis. Belum lagi hari ini sudah terlihat iklan seleksi beasiswa Djarum untuk para pemain bulutangkis cilik berbakat.
Nah, yang menggelitik pikiran saya adalah bila sudah banyak pemain berbakat dan calon penerus Liem Swie King dan kini era Taufik Hidayat, apakah mereka akan langgeng menjadi atlet Indonesia?


Seperti kita tau banyak pemain dan pelatih kita yang hijrah ke luar negri lantaran fasilitas dan tentunya pendapatan yang lebih baik disana. Bahkan juara tunggal putri Indonesia Open lalu, Saina Nehwal dari India dilatih oleh mantan pelatih pelatnas kita, Atik Jauhari.
Di Indonesia Open kemarin, lagi-lagi Indonesia tidak mendapat gelar sama sekali di kandang, walau dukungan luar biasa dari penonton tuan rumah.
Walau saya setuju nasionalisme penting, namun sudah saatnya kita secara kreatif memikirkan sistim bisnis para pemain dan pelatih yang lebih baik sehingga mereka tidak hijrah ke luar negri terus. Pemain dan pelatih juga perlu mendapatkan pendapatan dan fasilitas yang bersaing dengan negara lain.
Bagaimana kita mengelola sponsorship yang diterima dan bagaimana kita mengelola kejuaran atau liga bulutangkis menjadi suatu bisnis yang menjual seperti liga sepakbola di Inggris maupun liga basket di Amerika. Sport bila dikemas menjadi showbusiness akan menjadi suatu kesempatan bisnis yang besar.
Saya yakin kalau bulutangkis bisa menggabungkan unsur nasionalisme dan showbusiness pasti akan lebih menarik. Bagaimana bila Oscar Lawalata membuat design seragam team bulutangkis seperti layaknya pakaian Maria Saraphova di dunia tennis. Lebih seru kan nontonnya?

Bagaimana kalau ada lomba King Smash? Atau lomba Smash tercepat untuk dapat MURI? Banyak sekali hal kreatif yang bisa kita garap.
Belum lagi bila kita bisa punya gedung bulutangkis yang bertaraf international dan sistim air-conditionernya tidak mengganggu shuttle-cock saat bertanding. Gedung merangkap musium bulutangkis yang saat tidak ada pertandingan bisa dijadikan exhibition hall secara komersil.
Film King sebagai film badminton pertama di dunia sudah membuka jalan. Mudah-mudahan makin banyak film bulutangkis yang diproduksi di Indonesia maupun di dunia. Semoga PBSI bisa semakin kreatif dalam memajukan bulutangkis kita. Salah satu olahraga yang bisa kita banggakan di tingkat dunia.
artikel ini sudah pernah diposting di www.kickandy.com
Posted on June 8, 2009 - by Yoris Sebastian
Sungguh senang melihat iklan 3, dalam rangka kedatangan grup favorit saya Manchester United ke Jakarta. Senang karena Wayne Rooney cs. menggunakan batik dalam iklan tersebut. Mudah-mudahan nanti waktu mereka datang, mereka juga diberikan batik-batik modern buatan designer muda Indonesia.
Semakin sering exposure batik ke dunia international, bukan tidak mungkin batik menembus dunia international
Selain itu 3 Indonesia menandatangani 3,5 tahun kontrak dengan klub asal Inggris ini. Sebuah langkah yang tepat, karena kalau 3 Indonesia hanya sponsor untuk one-time event saja, takutnya tidak akan ber-efek jangka panjang buat mereka.
Sadar tidak sadar kita seringkali terjebak sponsor sebuah event besar namun hanya sekali saja sehingga dampaknya hanya sebatas awareness saja. Kalaupun ada akuisisi, namun sifatnya benar-benar jangka pendek.
Liat saja para sponsor Java Jazz yang sudah mulai kontrak 3 tahun seperti Dji Sam Soe, Telkomsel (walau akhirnya lepas juga ke Axis), BNI 46 dll. mereka mengerti bahwa sponsorship one time event efeknya tidak akan bagus untuk brand building mereka. Proses activation bisa berjalan sepanjang tahun kalau mereka mengikat sepanjang minimal 3 tahun.
Semoga semakin banyak brand yang mengikuti jalan ini

Posted on May 28, 2009 - by Yoris Sebastian


Tahun ini Final UEFA Champions League dilaksanakan di Stadion Olimpico Roma. Tempat yang saya paling sukai kalau sedang main Winning Eleven.
Dua kesebelasan yang menjuarai liga di masing-masing negara akan bertarung memperebutkan gelar kesebelasan paling hebat seantero Eropa. Manchester United dari Inggris melawan Barcelona dari Spanyol.
Ajang seperti ini karena diatur dengan benar, bisa mendatangkan efek ekonomi yang bagus ke banyak pihak. Stadion dengan kapasitas 67.000 tentunya menarik banyak turis yang dari Manchester dan Barcelona.
Masing-masing klub mendapat jatah 20.000 tiket, 10.000 tiket untuk penonton netral dan sisanya sudah dijatahkan untuk sponsor dan partner event.
Tahun lalu, pada final di Moskwa para pendukung MU dan Chelsea rata membelanjakan 600 Poundsterling (Hampir Rp. 10 Juta) per orang. Kalau tahun ini mereka spend sama berarti akan ada setidaknya 400 Milyar rupiah dikeluarkan di Roma. Mulai dari spending ke Hotel, Makanan, Merhandise dan lain sebagainya. Tak heran bila banyak kota yang antri untuk jadi tuan rumah.
Para klub yang bertanding juga akan mendapatkan angka sangat tinggi karena selain penjualan tiket, pendapatan dari sponsor dan hak siar juga luar biasa. Menguntungkan bukan?
Keuntungan juga dirasakan banyak tempat yang menggelar nonton bareng. Semua meja rata-rata sudah habis terjual jauh-jauh hari. Sungguh menyenangkan membayangkan sales hari ini

Begitulah bila olahraga dikelola dengan baik sehingga membawa efek ekonomi terhadap sebuah kota dan bahkan negara. Lihat saja Liga Inggris yang tahun ini mendominasi 3 klub di semifinal Champions League. Liga Premier yang baru mulai di tahun 1992 ini menjadi liga paling populer di muka bumi.
Jadi kalau dilihat tidak terlalu lama ya, tapi sudah sangat sukses saat ini. Kenapa sukses? Karena pembagian penerimaan dilakukan dengan sangat fair sehingga para klub berlomba-lomba agar masuk ke liga premier. Kalau tergelincir dan degradasi, alhasil pundi-pundi klub akan merosot tajam.
Tidak ada kata terlambat. Penonton di Inggris juga cukup brutal, ingat tragedy Heysel? Lebih parah dari penonton bola kita di tanah air.
Semoga ke depannya sport selain membanggakan bisa membawa pengaruh ekonomi bagi negri ini.






