Perfect Practice (From Great Coach) Makes Perfect – Greysia/Nitya

Sungguh luar biasa. Pasangan ganda putri Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari berhasil menyabet medali emas di Asian Games tahun ini. Sungguh luar biasa karena selain tidak diunggulkan, terakhir ganda putri Indonesia meraih emas di ajang yang sama adalah di tahun 1978 lewat pasangan legendaris Verawati Fajrin dan Imelda Wiguna.

Greysia dan Nitya sebenarnya sudah 10 tahun menyandang predikat pemain nasional. Namun bisa dibilang mereka tidak pernah menonjol dalam prestasi. Sempat berpasangan pada 2008-2010 lalu mereka dipisahkan dan baru berpasangan lagi di tahun 2013 lalu.

Lalu apa faktor pembeda sehingga mereka berdua bisa meraih medali emas dan mengalahkan pasangan ganda unggulan dari Jepang di final serta ganda dari Tiongkok di semifinal?

Ternyata sejak Maret 2014, mereka dilatih oleh Eng Hian yang dulunya pemain Ganda Putra yang biasa berpasangan dengan Flandy. Peraih medali perunggu Olimpiade ini pulang kampung ke Indonesia setelah sebelumnya menetap di Singapura.

Sebuah tantangan buat Eng Hian mengingat pemain ganda putri pada umumnya tidak punya target pribadi. “Keberadaan mereka di pelatnas sekedar kewajiban. Latihan pagi, istirahat, latihan sore, selesai. Mereka tidak punya motivasi dan target untuk apa berada di pelatnas. Ini yang saya coba benahi, membangkitkan motivasi karena secara teknis dan intelektual, ganda putri Indonesia tidak kalah dari negara lain.”

Salah satu cara yang saya suka adalah Eng Hian menurunkan derajat turnamen yang diikuti oleh Greysia dan Nitra. Sebagai atlet ‘senior’ 10 tahun di pelatnas seharusnya tampil di Super Series. Eng Hian mengirim mereka ke Grand Prix Gold. “Dengan menjadi juara, mental mereka naik” ujar Eng Hian.

Sebagai mantan pemain, Eng Hian tahu betul soal mental. Ini yang selalu kami bincangkan saat kami sering bertemu di Hard Rock Cafe kala Eng Hian masih bertanding. Pada saat pertandingan, semua latihan teknis akan kalah dengan yang namanya mental. Semua perhitungan harus dipilih dalam hitungan detik per detik.

Setelah membenahi mental dan menanamkan prinsip bahwa tidak ada pemain yang tidak terkalahkan, hasilnya bisa kita lihat sendiri dengan kemenangan Greysia dan Nitya di Asian Games 2014. Saya merinding saat melihat mereka berpelukan dengan Eng Hian sang pelatih. Impossible is Nothing!

Sekali lagi saya menemukan contoh, bukan sekedar berapa lama kita sudah berlatih. Tapi siapa pelatihnya juga memegang peranan penting. Sama seperti kehidupan sehari-hari, bukan sekedar sudah berapa lama kita bekerja? tapi apakah atasan kita senantiasa mengembangkan diri kita? Practice not makes perfect. Perfect practice makes perfect.

Perfect Practice Makes Perfect Greysia Nitya

14 Comments

  1. Mas Yoris selalu bisa menulis tulisan yang ringan tapi selalu punya nilai lebih. Merinding bacanya saya.

  2. Makasih buat tulisannya mas Yoris. Ringan, tetapi selalu penuh pelajaran. Boleh saya sharing tulisan atau sekedar quote dari Mas Yoris untuk facebook perusahaan kami? Terima kasih

  3. Tulisan yang sempurna… Ringan tp penuh makna. Apapun peristiwanya selalu saja bisa dijadikan bahan tulisan yg penuh dg makna dan motivasi. Trima ksh bang Yoris atas inspirasinya.

    1. Terima kasih wawan sudah mampir dan memberikan comment di blog saya, jadi makin semangat nulis blog terus 🙂

  4. New quote nih Practice not makes perfect. Perfect practice makes perfect. Udah lama enggak mampir blog has Yoris. Tulisannya sederhana tapi meaningfull. Salut, semoga bisa ketularan nulis keren kayak gini 🙂

    1. Amin… mudah2an bisa Nisa 🙂 membaca adalah salah satu langkah awal 😉 stay in touch ya Nisa… kabarin kelanjutan dari segenggam cerita 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.