Burlesque – Every Big Step Starts With an Inch

Salah satu inspirasi yang saya dapat saat menonton film Burlesque adalah belajar dan terus berlatih walau itu bukan job desk kita saat ini.  Yup, sering sekali kita bermimpi untuk jabatan di atas kita ataupun pekerjaan impian kita namun saat ditanya apakah kita sudah berlatih? jawabannya, “Nanti saja pas saya di promote atau nanti saja saat kesempatan nya datang.  Toh sekarang saya sudah cukup capek dengan pekerjaan saya saat ini”.

Kalau saja Ali Rose (yang diperankan oleh Christina Aguilera) berpikir demikian mungkin dia tidak akan sukses dan meraih impiannya sebagai leading role dan bahkan penyanyi di Burlesque tempat ia bekerja saat itu.  Selain itu Ali juga persistent mengejar impiannya, satu inch demi inch dijalankannya.  Mulai menjadi waiter tanpa bayaran (kalau kerjanya tidak bagus) sehingga ia bisa mempelajari setiap lagu yang dimainkan di Burlesque dan belajar melakukannya di waktu luangnya sebagai waiter.  Hingga memaksa ikut audisi, dapat peran kecil hingga akhirnya secara tidak sengaja menjadi leading role.

We need to keep on creating opportunity in life.  Dan saat opportunity tersebut datang, kita sudah siap. Memang ada faktor keberuntungan, namun kita tidak akan beruntung kalau tidak terus menciptakan peluang dan mempersiapkan diri kita sebaik mungkin untuk peluang tersebut.

16 Comments

  1. belajar dan terus berlatih walau itu bukan job desk kita saat ini!! mantap
    ni yg diperlukan aplagi sedang memulai usahnya, smw harus dilakukan smp bnr2 siap didelegasikan k orang lain 🙂

    1. yes Dwi… kalau sedang memulai usaha usahakan perhatikan karyawan yang sangat rajin berlatih walau itu bukan job desk nya… kasih terus kesempatan lebih kepada mereka2 yang mau maju

    1. Sama-sama Made… sejak buku Creative Junkies saya terbitkan bersama Gramedia, saya senang karena pengalaman pribadi saya bisa memberi banyak manfaat buat orang banyak… bahkan sudah banyak pembaca CJ yang sudah mulai mendapatkan sukses2 kecil 🙂 karena mereka kreatif

  2. Om yoris, blognya inspiring banget nih.
    Oiya mau nanya kalo menurut pandangan anda, mending jadi orang realistis atau idealis? Dua pilihan hidup ini bikin saya dan beberapa temen jadi bimbang nih, mohon sarannya yaa, thx mas

    1. Halo Aldo… what a good question… mungkin someday akan jadi judul postingan saya nih 🙂

      Jawaban saya adalah menjadi orang yang idealis namun realistis 🙂 Kalau di baca di buku saya Creative Junkies… saya sering menuliskan Happynomics. Jadi buat saya selalu lakukan yang membuat kita Happy dan seringkali yang kita happy itu yang idealis… namun kita juga harus realistis bahwa pekerjaan tersebut ada nilai ekonominya.

      Saya dulu sempat jadi band manager untuk band sekolah saya… namun walau saya suka sekali dan itu proyek idealis kami namun karena tidak ada nilai ekonominya akhirnya saya jadi wartawan majalah HAI… masih seputar musik, sesuatu yang saya suka dan saya masih bisa idealis… namun saya mengambil angle lain… di HAI walau uangnya juga tidak besar sekali namun ada nilai ekonomi disitu dan istilahnya daput bisa ngepul…

      1. Okay.. Hmm what a diplomatic answer haha
        Sekarang gini mas, kan jaman sekarang untuk dapet pekerjaan kebanyakan harus make link/channel/hubungan dg orang dalam yang ada, dan ga semua orang punya itu.
        Alternatif lain adalah dengan wirausaha, nah buat strategi marketing paling ampuh menurut anda gimana mas, merintis sebuah produk atau venue yang baru, mulai dari 0. Thx lagi mas hehe ditunggu balesannya

      2. Okay.. Hmm what a diplomatic answer haha
        Sekarang gini mas, kan jaman sekarang untuk dapet pekerjaan kebanyakan harus make link/channel/hubungan dg orang dalam yang ada, dan ga semua orang punya itu.
        Alternatif lain adalah dengan wirausaha, nah buat strategi marketing paling ampuh menurut pengalaman anda gimana mas, merintis sebuah produk atau venue yang baru, mulai dari 0. Thx lagi mas hehe ditunggu balesannya

        1. Hi Aldo, Kenapa kebanyakan pekerjaan perlu link/chanel/hubungan dengan orang dalam karena kebanyakan orang tidak punya keunikan dalam cv mereka. Kebanyakan hanya punya cv akademis. Nah saat banyak sekali sarjana menganggur… akhirnya orang mulai bilang bahwa kalau tidak link akan susah diterima di perusahaan.

          Good grades mungkin membuat kita terpilih untuk interview, namun saat wawancara biasanya kita akan dilihat dari pengalaman kita selain nilai akademis. Pengalaman ber-organisasi akhirnya menjadi penting. Apalagi pengalaman pernah ikut lomba maupun event skala nasional maupun international. Mendadak nilai akademis yang bagus tidak menjadi satu-satunya penilaian.. apalagi kalau nilai kita biasa-biasa saja dan tidak punya pengalaman 🙂

          Saya sendiri lulusan SMA, DO dari kuliah namun tidak pernah kesulitan di interview pekerjaan karena saya punya segudang pengalaman… saat HRD complaint kenapa saya yang di hire padahal anak ini hanya lulusan SMA… pasti dibilang sama boss yang hire, anak ini tidak daftar… kita yang hijack dia dari perusahaan sebelumnya… jadi hiring is only procedure… tapi saya di hire bukan karena saya punya link tapi karena saya punya cv yang bagus 🙂 Hampir semua tempat saya kerja tidak ada link or channel… semuanya karena CV 😉

          Nah soal wirausaha… banyak trik nya… dan sudah banyak yang saya tulis di blog ini… salah satunya holycow steak, yang awalnya kenal melalui salah satu workshop yang saya buat. silahkan dibaca dan diambil inspirasinya…

          Intinya merintis bisnis baru juga bukan masalah dana… tapi bikin lah usaha yang HAPPYNOMICS… sesuatu yang bikin kita happy… kita suka sekali atau passionate about… tapi ada nilai ekonominya… unsur happy harus lebih di depan… baru unsur ekonomi… namun harus bernilai ekonomi karena kalau tidak itu project idealis… namun kalau hanya memikirkan uangnya saja… jarang ada bisnis yang sukses kalo di drive sekedar ingin kaya…

          Good luck Aldo….

  3. mas Yoris, saya sekarang mengajar di Kolese di kota Solo. disamping kesibukan sebagai pengajar saya punya kegiatan lain sebagai ketua Muda-Mudi. menurut mas Yoris gimana cara untuk menjadikan kegiatan muda-mudi itu lebih fun (lebih banyak orang yang tertaik untuk terlibat) tanpa mengganggu pekerjaan utama saya. terus mungkin nggak sih unsur HAPPYNOMICS diterapkan dalam organisasi ini?

    1. Hi Leonardo…

      Dulu saya kebetulan malah Putra Altar. Dan kebetulan waktu itu Pastur saya dari Jerman dan sangat menyenangkan untuk anak2. Mungkin buat saya jadi Happynomics juga walau waktu itu lebih banyak happy nya ya… Pastur saya selalu membuat pelajaran agama terasa menyenangkan.

      Kenapa Pastur tersebut sangat banyak meluangkan waktunya untuk anak2 di Gereja karena dia sangat Passionate terhadap anak kecil. Sehingga tidak pernah ada rasa capek.

      Nah kalau jaman sekarang mau terapkan Happynomics di kegiatan muda-mudi sebenarnya bisa mulai bikin program magang di perusahaan2 milik umat di paroki yang sama. Magang selain dapat sedikit uang juga dapat kesempatan menimba ilmu 😉 Nantinya ada sharing session dari yang sudah selesai magang, supaya next time better… dan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan secara fun namun ada nilai ekonominya.

  4. hi yoris
    saya kebetulan sangat suka sekali dgn film burlesque dan dpt inspirasi utk bs lbh kreatif dan terus belajar.

    Saya juga mulai terisnpirasi utk usaha sendiri sejak mengal Anda di Seminar tahun 2006 dan terlebih lagi sejak membaca buku creative junkies 🙂
    thanks so much

    1. Wah Astrid sudah nonton juga ya… iya saya juga suka sekali dengan film ini… terima kasih sudah ikut seminar saya dan tentunya naca buku Creative Junkies 🙂

  5. setuju Yoris! kita harus tetap berlatih agar saat kesempatan itu datang, kita udah siap. aku jg mau sharing nih.. setelah aku perhatikan, banyak dari teman2ku yg bisa sukses karena dia tekun melakoni hobinya. contohnya, ada temenku yg hobi belanja baju2 bekas, ehh akhirnya dia skrg uda buka usaha berjualan baju bekas.. ga jauh beda juga dgn Ali Rose, mereka sama2 tekun melakukan apa yg dicintainya. aku sendiri jg hobi menonton film. dan I hope someday, aku pnya kolom sendiri di majalah untuk resensi film hehe ;P

  6. Om Yoris, bagaimana jika sangat passionate mewujudkan project idealis kita yg menjadi impian dan mimpi indah kita sejak lama… dimana pada awalnya kita tidak memikirkan terlalu jauh tentang Happynomics.
    Semisal kayak Mark Zuckerberg dengan fesbuknya yg pada awalnya diciptakan tidak menjadikannya sebagai bisnis / mesin uang, karena fesbuk pada awal mulanya hanya situs social network lokal kecil di kampus harvard dgn segelintir saja membernya dan tujuan utamanya untuk mencuri data2 informasi rahasia penghuni kampus.
    Namun idealisnya si Mark Zuckerberg yg tidak memikirkan terlalu jauh kedepannya ttg Happynomics malah mampu mentranformasi idealisnya sebagai senjata bisnis yg mematikan. Bukan dari pengambilan keputusan untuk memilih berbagai pilihan bisnis/usaha yg harus membawa dampak nilai ekonomi besar.
    Apakah menurut om Yoris kita juga dibenarkan mengambil choices idealis kita yg pada awalnya dikerjakan belum tampak nilai ekonominya namun setelah kita fokus disitu akhirnya idealis itu bisa menjadi mesin uang trengginas?

    1. Hello Kidzer, Kalau sempat baca buku saya Creative Junkies… disitu saya sempat sebutkan sedikit soal komposisi 70:20:10 yang saya gunakan sejak awal I Like Monday belasan tahun yang lalu.

      Kalau boleh saya gunakan kasus Zuckerberg ini ke frame work 70:20:10 adalah 70% dari waktunya dia gunakan sebagai mahasiswa dan masih ada sisa 20% dan 10% waktu luang yang dia gunakan untuk mengerjakan Facebook.

      Yang pasti karena Facebook merupakan sesuatu yang dia sangat sukai, waktu tidak terasa… dan lahir karya yang walau awalnya tidak jelas uangnya namun semua orang di Amerika tau kalau bikin social media yang sukses pasti akan menghasilkan uang yang besar seperti Friendster, Myspace dlsb.

      Dan Facebook juga selaras dengan yang saya bilang… start small… every big step starts with an inch. Mimpi boleh besar… namun start small… semua perlu proses 🙂

Leave a Reply to Yoris Sebastian Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.