Your browser (Internet Explorer 6) is out of date. It has known security flaws and may not display all features of this and other websites. Learn how to update your browser.
X
Aside

Junkies is not a Bad Word

Memang cukup berisiko, saya menciptakan brand baru untuk diri saya dengan sebutan Creative Junkies.  Maklum, kebanyakan orang tidak akan mau dikaitkan dengan dengan kata-kata Junkies.  Namun setelah saya timbang-timbang dengan Manager/Publicist saya Debbie, we decided to take the risk… we go with the name Creative Junkies dan kami akan educate pasar bahwa “Junkies is not a Bad Word”.

Junkie [junk.ie] : a person with compulsive habit or obsessive dependency on something

Berarti kalau Creative Junkie, orang yang sangat amat tergantung dengan kreativitas.  Junkie is not a bad word, kecuali drug junkie or alcohol junkie misalnya.

Saya cukup senang karena sejak peluncuran buku Creative Junkies 1 April lalu, respon dari berbagai media sangat bagus.  Bahkan beberapa brand tidak sungkan lagi untuk kerjasama dengan brand Creative Junkies 🙂

Simak kutipan liputan dari Tempo Interaktif dibawah ini:

Mazda juga meramaikan Jakarta Fashion Week dengan menghadirkan Mazda Stylish Corner. Di sini, para pengunjung bisa menuangkan kreatifitasnya seperti berkreasi dengan sketsa dari Mazda2 City Stylist Stella Rissa, nail art (cat kuku), dekorasi cover buku Creative Junkies yang merupakan buku karya Mazda2 City Stylist Yoris Sebastian.

Selain itu sejak 9 Mei 2010 hingga awal 2011 nanti, Creative Junkies keliling nusantara menyebarkan virus kreatif dalam rangkaian acara “Wanita Wirausaha BNI & Femina”

Belum lagi Creative Junkies terlibat di “Cosmopolitan Office to Office: Road to Caring Professional Award” dari Caring Colours Martha Tilaar dan ikut serta dalam Vaseline Amazing You event yang diselenggarakan di beberapa kota besar di Indonesia.

Dan untuk yang sudah membaca majalah Intisari, tentunya sudah baca rubrik tetap Creative Junkies berjudul “Creative Junkies Meet the Maestro” yang sekarang secara reguler hadir untuk para pembaca Intisari, memberikan inspirasi tentang wisdom para Maestro yang sangat amat kreatif di bidang mereka masing-masing.

Selain itu, saat ini Creative Junkies sedang mempersiapkan beberapa program Tryvertising dengan brand-brand innovative lainnya.  Tunggu berita selanjutnya di twitter @yoris

Jadi senang juga, kini masyarakat luas sudah paham Junkie is not a bad word 🙂

Berikut cuplikan dan link dari liputan yang berhasil dijaring secara online 🙂

A friend gave me this book as a present for my on-line shop launching. It’ s a story about a very creative man, Yoris Sebastian.

A very important book. I recommend this book to many of my friends since it gives many good inputs to me. I just feel that leaving my 14 years career is the best decision that I’d ever made. I’m already on the right track. There are tons things to do. I just need to move on and be persistence.

Last but not least, I really appreciate this great present.

http://www.feedagg.com/feed/221158/a-place-to-share-my-thoughts-amp-reflections

“Maybe the people who have participated in my workshops already know 80 percent of the content [of my book],” he says. “But Indonesia is so big, and of course, with a book, I am able to reach more people. I hope that my readers will be inspired.” He says that for Indonesians, one of the main factors holding back their creativity is a tendency to look outside for inspiration and just basically copy-paste other ideas.

http://www.thejakartaglobe.com/arts/new-book-offers-fix-for-creative-junkies/367652

Dengan buku, kita bisa membantu orang banyak, dan giving is the new taking. Benar saja, dalam seminar-seminar bersama OMG Consulting, it feels so good bisa melihat orang terinspirasi dan berhasil dari yang kita sampaikan. Saya ingin suatu hari ada yang mengatakan, “Karena Creative Junkies, saya bisa sukses.” Itu terasa jauh lebih worth-it dibanding apa pun yang saya lakukan. Buku ini menjawab pertanyaan yang kerap kali dilontarkan para pekerja kantoran di workshop kami, yaitu cara menjadi orang yang kreatif.

http://areamagz.com/article/read/2010/05/14/yoris-sebastian

Yang paling lucu dan saya merasa sangat betul adalah ketika Yoris bilang bahwa membeli kasur yang paling bagus adalah hal yang harus dilakukan sewaktu kita punya uang. Karena istirahat dengan nyaman adalah langkah awal kreativitas. Dengan istirahat yang nyaman kita akan lebih fresh hingga kreativitas lebih mudah muncul, bukan?

http://donidankiki.blogspot.com/2010/05/review-buku-oh-my-goodness-buku-pintar.html

Di buku ini, seperti yang tercantum pada judulnya, “Buku Pintar Seorang Creative Junkies“, bisa jadi semacam panduan untuk seseorang mencoba mendobrak dan mencari jalan untuk menjadi kreatif. Rutinitas, insecure, bermain safe, adalah beberapa hal yang membuat seseorang terkungkung dan tidak bisa berpikir keluar dari jalur “mainstream. Yoris menuliskan buku ini seperti orang berbicara lisan sehingga mudah untuk dicerna serta ditambah dengan aktivitas-aktivitas untuk merangsang kreativitas.

http://female.kompas.com/read/xml/2010/04/02/08154950/Panduan.Menjadi.Seorang.Pecandu

Beberapa minggu yang lalu saya dan Hanzky datang ke peluncuran bukunya yang berjudul “Oh My Goodness: Buku Pintar Seorang Creative Junkies”. Acara yang diadakan tanggal 1 April ini sempat membuat tamu kaget karena salah satu wartawan yang datang, yang sebelumnya diberi tahu bahwa ia memenangkan sebuah Apple iPad, tiba-tiba mendapat ‘surprise’ April Mop. Cerita lengkapnya baca di sini aja ya. Yang jelas pas menyaksikan kejadian itu saya cuma bisa berkomentar “Yoris banget sih ini!”

http://fashionesedaily.com/blog/2010/04/28/yoris-sebastian-a-creative-junkie/

Kalo ditanya siapa icon creative di Indonesia? yg pertama kali muncul dibenakku adalah sosok tinggi si creative junkies Yoris Sebastian.  Pertama kenal @yoris at my former-office MarkPlus, sangat jauh dari kesan sombong, padahal dia sudah benar-benar menjadi celebritis dunia kreatif. Seorang yg supel, ramah dan tipe pekerja keras yg handal.

http://blog.caturpw.com/2010/04/03/buku-pintar-seorang-creative-junkies.html

“Buku Pintar Seorang Creative Junkies” was the first masterpiece of Yoris Sebastian, the man who I find it identical with the corporate brand Hard Rock. The book title -Handbook of a Creative Junkies- is  just as appropriate, giving superrr detailed guidance for the readers how to be creative. Though I read this book two months ago to kill my time in jobless period, I still remember what messages the book have, sticking on my head.

http://disinimira.blogspot.com/2010/07/creative-junkies-oleh-yoris-sebastian_18.html

Melihat dari sebagian judulnya ada kata Junkies membuat saya bertanya dalam hati lagi… kok junkies? Sebodoh-bodohnya saya bahasa Inggris saya juga tahu bahwa tambahan huruf ‘s’ itu berarti jamak jumlahnya… sedangkan  ini kan membicarakan seseorang..jadi yang benarnya Junkie… Menurut Longman Active Study Dictionary salah satu arti Junkie adalah seorang yang menyukai sesuatu dengan sangat dan tidak bisa berhenti melakukannya.   Ternyata Yoris sengaja menggunakan judul yang keliru. Itu yang tertulis sebelum mulai membaca halaman demi halaman yang tidak mempunyai nomor halaman 🙂

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=16770

Sayangnya ya, Gramedia mengeluarkan buku ini dengan kualitas kertas yang kurang baik, kayak kertas burem, kertas yang kayak gini mudah sobek dan cepet rusak gitu dibandingkan kertas putih tebal (saya ga tau sih namanya, mungkin kertas HVS ya)

http://nike.rasyid.net/2010/04/review-buku-oh-my-goodness-buku-pintar-seorang-creative-junkies.html

 

Positioning sebagai sebuah “tools” pemasaran secara ampuh diterapkan oleh para tokoh-tokoh figur publik kita untuk membangun dan mengembangkan personal brand-nya. Mereka cerdas sekali menciptakan kategori, kemudian menghegemoni kategori tersebut untuk kemudian dijadikan elemen utama positioning mereka. Dengan cerdas mereka menjadi “the first in the customer’s mind” dan dari situlah reputasi merek dibangun.

Dengan cerdas Hermawan Kartajaya menjadi the first in the customer’s mind untuk “marketing”; Andri Wongso untuk “motivator no.1 di Indonesia”; Safir Senduk untuk “financial planning”; Aa Gym untuk “manajemen qolbu”; Ary Ginanjar dengan “ESQ”, dan seterusnya. Dan saya kira, Yoris Sebastian dengan cantik melakukan hal yang sama untuk “creativity”

http://www.yuswohady.com/2010/04/27/yoris-creative-junkies-brand-building/

Belum baca bukunya, Yoris telah berhasil membuat calon pembeli (sekaligus calon pembaca) mengerutkan kening.

“Kok covernya putih melompong sih? Bahannya juga kok gini?”

Ternyata, Yoris memang sengaja mendesain cover bukunya dengan gambar saja, tanpa warna, genius menurut saya. Pertama, dapat menekan harga (keuntungan bagi penulis dan penerbit), Kedua, eye catching, unik. Paduan yang win-win solution dan mengundang decak kagum “Oh My Goodness!!” 🙂

http://laksmisatiti.multiply.com/reviews

Yoris yang disebut-sebut sebagai pakar kreativitas Indonesia dalam buku terbarunya ini mengemukakan macam-macam tips dan trik untuk jadi lebih kreatif di setiap situasi. Segala yang ada dalam buku ini ditulis berdasarkan pengalaman Yoris sendiri; saat mengerjakan suatu proyek kreatif atau ketika menjadi konsultan sejumlah brand. Jadi, ya, praktiknya bisa jadi mudah dan tidak perlu diragukan lagi. Tak hanya teori, Oh My Goodness juga dilengkapi kuisioner yang bisa mengukur kadar kreativitas Anda, soundtrack di tiap-tiap bab, dan ilustrasi yang menarik. Menarik, menurut saya. Mungkin juga buat Anda.

http://areamagz.com/area_recommends/read/books/2010/04/26/oh-my-goodness-buku-pintar

Kreatifitas seakan menjadi barang langka yang hanya dimiliki mereka yang punya bakat kreatif. Padahal, sesungguhnya setiap orang kreatif. Meskipun beberapa orang tampaknya lebih kreatif dibanding dengan orang lain, namun semua orang pada dasarnya mampu melahirkan ide-ide kreatif. Kreatifitas seseorang tidak tergantung IQ, tapi tergantung pada sejauh mana ia mampu membuka diri dan bersikap open minded terhadap apa yang ia lihat dan rasakan.

http://hiburan.kompasiana.com/buku/2010/07/14/tips-praktis-menjadi-creative-junkies/

Di buku ini, Yoris menggunakan bahasa yang santai dan tidak terkesan menggurui. Anda akan dibimbing untuk melakukan brainstorming, mencari berbagai hal baru yang bisa Anda lakukan untuk mengasah jiwa kreatif Anda. Buku ini sangat cocok untuk Anda yang selalu haus ilmu dan wawasan. Serunya, Anda tidak perlu duduk di bangku kursus pengembangan diri. Anda hanya perlu membuka buku ini dan membacanya halaman demi halaman.

http://www.jagatreview.com/2010/08/oh-my-goodness-buku-pintar-seorang-creative-junkies/

Rupanya, ketrampilannya agar bagaimana selalu kreatif tidak disimpan sendiri, melainkan rela dibagi ilmunya. Lahirlah buku pertama Yoris Sebastian berjudul “Oh My Goodness. Buku Pintar Seorang Creative Junkies”. Dari sampulnya saja, sudah terasa kreatifnya buku ini. Sebab desainnya sendiri juga berangkat dari ide penulisnya yang memberikan kesan “Oh My Goodness.”

http://www.books.web.id/21650723

Yoris menyebut dirinya sebagai ‘creative junkie’ (kecanduan oleh hal kreatif).
Dia menerapkan kreativitas dalam banyak detail kehidupan, misal sengaja
mengenakan arloji di tangan kanan, berlawanan dengan kebiasaan umum yang
mengenakan di tangan kiri. Buku ini pun menanggung akibat salah satu keputusan
kreatifnya, yaitu sengaja tanpa nomor halaman.

http://groups.yahoo.com/group/buku-islam/message/9322

Entrepreneur Yoris Sebastian will talk about his book ‘Oh My Goodness: Buku Pintar Seorang Creative Junkies’ at the Aksara Book Party, accompanying him is musician Leonardo Ringo who will perform songs from his latest album ‘The Sun’

http://www.timeoutjakarta.com/books/article/1192/aksara-book-party.html

Di dalam bukunya berjudul Oh My Goodness: Buku Pintar Seorang Creative Junkies, Yoris mengemukakan bahwa menjadi kreatif, tak hanya terbuka untuk segala umur dan jenis kelamin, tetapi juga tidak melihat lokasi dan kalangan tertentu. Setiap orang bisa menjadi kreatif, tidak peduli ia berada di mana pun, dengan keadaan apa pun.

http://www.suarapembaruan.co.cc/index.php?detail=News&id=17624

Anak-anak muda sukses seusia Yoris biasanya memilih membeli rumah di kawasan permukiman yang terletak lebih ke pinggir Jakarta, seperti di Kemang, Pejaten, Cipete, atau bahkan Bintaro.

Namun, ternyata dugaan awal tadi salah. Dan itu wajar karena memang bukan Yoris Sang ”Creative Junkie” kalau sekadar meniru langkah orang lain. ”Saya memang sengaja membeli rumah di sini karena lokasinya. Ke mana-mana dekat,”

http://properti.kompas.com/read/2010/06/13/0737432/Rumah.Biasa.yang.Tak.Biasa

 

Hot Book: Oh My Goodness: Buku Pintar Seorang Creative Junkies
Belum banyak buku tentang kreativitas di Indonesia yang dengan begitu jelinya mengupas cara-cara untuk menjadi lebih kreatif. Buku ini menawarkan hal itu.

http://www.rollingstone.co.id/read/2010/06/28/767/9/2/The-Hot-List-2010

Dari pemilihan judul, “Buku pintar seorang creative junkies” sengaja dibuat salah penulisan (yg benar adalah: Buku pintar seorang creative junkie…) biar ketauan kalo ada orang lain yang ikut2an memakai istilah creative junkies, karena mereka ikut2an salah.

http://thinksofia.blogspot.com/2010/04/oh-my-goodness-buku-pintar-seorang.html

Dan masih banyak lagi interview tentang Creative Junkies di berbagai media di Indonesia seperti Warta Ekonomi, Majalah Idea, Golf Digest, Men’s Health, Majalah Elshinta, Majalah Eve, Majalah ME, Reader’s Digest, Fortune Indonesia dan masih banyak lagi namun tidak semuanya punya web link 🙂

Yes, Junkies is not a bad word anymore… malah mulai banyak yang menggunakan terminologi Junkies sekarang 😉

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment