Posted on June 26, 2009 - by Yoris Sebastian

Saya masih ingat bagaimana saya waktu kecil tidak pernah melewatkan siaran langsung pertandingan bulutangkis. Malah kami sekeluarga selalu nonton ramai-ramai dan setelah itu saya bersama kakak dan adik saya langsung bermain bulutangkis. Di film juga diperlihatkan bagaimana orang sekampung menonton pertandingan bulutangkis secara langsung di depan rumah Guntur, tokoh utama film ini.
Bulutangkis memang sangat digemari di Indonesia dan merupakan salah satu olahraga tingkat dunia yang sempat didominasi oleh Indonesia. Medali emas pertama Olimpiade juga kita raih dari olahraga ini. Saya sangat terharu saat melihat Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya berkibar di olimpiade dan emas pertama diraih.
Apabila film bagus produksi Alenia Productions ini sukses dan mampu menciptakan deman badminton lagi sehingga banyak bakat-bakat baru yang masuk ke klub bulutangkis. Belum lagi hari ini sudah terlihat iklan seleksi beasiswa Djarum untuk para pemain bulutangkis cilik berbakat.
Nah, yang menggelitik pikiran saya adalah bila sudah banyak pemain berbakat dan calon penerus Liem Swie King dan kini era Taufik Hidayat, apakah mereka akan langgeng menjadi atlet Indonesia?


Seperti kita tau banyak pemain dan pelatih kita yang hijrah ke luar negri lantaran fasilitas dan tentunya pendapatan yang lebih baik disana. Bahkan juara tunggal putri Indonesia Open lalu, Saina Nehwal dari India dilatih oleh mantan pelatih pelatnas kita, Atik Jauhari.
Di Indonesia Open kemarin, lagi-lagi Indonesia tidak mendapat gelar sama sekali di kandang, walau dukungan luar biasa dari penonton tuan rumah.
Walau saya setuju nasionalisme penting, namun sudah saatnya kita secara kreatif memikirkan sistim bisnis para pemain dan pelatih yang lebih baik sehingga mereka tidak hijrah ke luar negri terus. Pemain dan pelatih juga perlu mendapatkan pendapatan dan fasilitas yang bersaing dengan negara lain.
Bagaimana kita mengelola sponsorship yang diterima dan bagaimana kita mengelola kejuaran atau liga bulutangkis menjadi suatu bisnis yang menjual seperti liga sepakbola di Inggris maupun liga basket di Amerika. Sport bila dikemas menjadi showbusiness akan menjadi suatu kesempatan bisnis yang besar.
Saya yakin kalau bulutangkis bisa menggabungkan unsur nasionalisme dan showbusiness pasti akan lebih menarik. Bagaimana bila Oscar Lawalata membuat design seragam team bulutangkis seperti layaknya pakaian Maria Saraphova di dunia tennis. Lebih seru kan nontonnya?

Bagaimana kalau ada lomba King Smash? Atau lomba Smash tercepat untuk dapat MURI? Banyak sekali hal kreatif yang bisa kita garap.
Belum lagi bila kita bisa punya gedung bulutangkis yang bertaraf international dan sistim air-conditionernya tidak mengganggu shuttle-cock saat bertanding. Gedung merangkap musium bulutangkis yang saat tidak ada pertandingan bisa dijadikan exhibition hall secara komersil.
Film King sebagai film badminton pertama di dunia sudah membuka jalan. Mudah-mudahan makin banyak film bulutangkis yang diproduksi di Indonesia maupun di dunia. Semoga PBSI bisa semakin kreatif dalam memajukan bulutangkis kita. Salah satu olahraga yang bisa kita banggakan di tingkat dunia.
artikel ini sudah pernah diposting di www.kickandy.com
• Love to hear yours!
Here's your chance to speak.


Visit My Website
June 27, 2009
Permalink
Suara Anda said:
Kalo diliat-liat inti cerita film ini hampir sama dengan garuda didadaku. yaitu semangat untuk menjadi yeng terbaik dengan bantuan teman2-nya.
saya sangat suka dengan film ini. tapi saya cukup kecewa dengan Komnas Anak yang terlalu membesar-besarkan keterlibatan PT Djarum dalam film ini..
Visit My Website
June 27, 2009
Permalink
Yoris Sebastian said:
setuju Ade, saya juga suka sekali dengan film King dan Garuda di Dadaku… dan IMHO, Djarum Corporate kan memang dari dulu support bulutangkis… bayangkan kalau tidak ada PB Djarum?
Menurut saya, semua kembali ke orangnya… saya sendiri tidak merokok walau dari kecil nonton bulutangkis dan sepakbola yang selalu ada rokok sebagai sponsor
Visit My Website
June 27, 2009
Permalink
Fenty said:
Pengen liat juga kalau ada waktu
Visit My Website
June 27, 2009
Permalink
Yoris Sebastian said:
harus disempetin… sebelum nanti nggak di bioskop lagi lho… hari ini aja saya nonton Garuda Di Dadaku, another good movie for kids and family tapi sudah di theatre kecil.
Visit My Website
June 28, 2009
Permalink
titiw said:
Wah… I couldn’t more agree with your opinion, mas yoris. Coba kalo bulutangkis dipulas lebih cantik.. misalnya kayak yg ide desainer bikin baju bultangkis.. dan juga sarana untuk mengakomodir olahraga yg satu ini diperbaiki. Kalo saya jadi atlet, ya emang sih saya cinta sama Indonesia, tapi kalo gak ada masa depan juga untuk apa..?
Anyway saya baru buat review film ini juga di blog saya, dan mau nyari gambarnya, kebetulan ketemu blog ini. Sekalian minta ijin minjem gambarnya ya mas,, Thanks.
Titiw
Visit My Website
June 29, 2009
Permalink
Yoris Sebastian said:
saya gambarnya juga ambil dari internet kok
Visit My Website
June 28, 2009
Permalink
oment said:
pengen banget ada film perang tentang perjuangan kemerdekaan indonesia.tapi ngemasnya yg keren..kapan ya?
Visit My Website
June 29, 2009
Permalink
Yoris Sebastian said:
karena saya berkecimpung sebagai sponsorship consultant untuk beberapa film, setau saya sudah ada beberapa producer yang mempersiapkan film tersebut namun karena perlu riset yang panjang dan biaya yang besar, mungkin belum saat ini produksinya. Doain aja industri film semakin maju sehingga kita bisa bikin film perjuangan kemerdekaan yang bagus
Visit My Website
July 15, 2009
Permalink
Marvin said:
Film anak dengan sponsor rokok. Only in Indonesia…