Archive for the ‘marketing’ Category
Posted on February 11, 2010 - by Yoris Sebastian

I really like this movie! Sebuah film yang bercerita tentang Lentera Jiwa. As usual saya tidak akan me-review jalan cerita or sinopsisnya. Kasian buat yang belum nonton. Bandung sebentar lagi akan kebagian di Paris Van Java.
Yang sangat menarik bagaimana the power of Word of Mouth did it again! and now from the form of twitter! Saya sendiri pertama kali baca di twitter VeHandojo. Lalu dari beberapa teman di twitter juga mulai membicarakan. Sampai Raditya Dika dan Tika Panggabean yang bela-belain mau nonton di BlitzMegaplex MOI (Mall of Indonesia). Saya juga pengen sih tapi Kelapa Gading kejauhan buat saya. Apalagi cuma ditayangkan 1x sehari yaitu jam 21.30 sementara filmnya 3 jam artinya saya baru selesai pukul 00.30 dan harus naik mobil lagi pulang ke rumah saya di Kebayoran Baru dari Kelapa Gading.
Untungnya saya kenal Pak David Hilman, boss Blitzmegaplex dan saya email dia twitter dari Tika Panggabean yang berbunyi seperti ini:
From: @TikaPanggabean
Sent: Jan 17, 2010 14:29
Oo I know hrsnya begini: #dearSBY plis suruh Blitzmegaplex perpanjang #3idiots di PP dan teraskota, Eymen!
sent via UberTwitter
Sayang kan, film ini ramai dibicarakan orang-orang di Twitter karena bagus namun sedikit yang nonton. Walau tidak berani berjanji akan putar di PP dan Teraskota, Pak David berjanji akan forward ke programming sebagai input.
Akhirnya (setelah tunggu dan menunggu) input disambut baik oleh pihak Blitzmegaplex, 3 Idiots kembali diputar di PP hanya untuk 2 hari (Rabu 3 Feb dan Kamis 4 Feb) dan hanya untuk 2 show 18.30 dan 21.45 minggu lalu. Karena sudah ada meeting malam pukul 19.00, akhirnya saya paksakan nonton tgl 3 Feb jam 21.45 dan it was worth it!
Ceritanya bagus banget.
Well, sama seperti di seminar Food & Beverage yang sering saya hadiri, saya selalu bilang restaurant kalau mau laku ya makanannya harus enak. Film kalau mau laku ya ceritanya harus bagus.
Dan 3 Idiots ceritanya bagus sekali!

Gara-gara 2 hari sold out, film ini akhirnya diteruskan sampai Selasa 9 Feb dengan 4x pemutaran per hari (demikian pesan di twitter blitzmegaplex) dan hari ini (Rabu) saya liat di website blitz ternyata 3 Idiots masih diputar…. Wow tampaknya Bandung harus bersabar menunggu copy film ini sampai ke Paris Van Java
The power of twitter has proven! Let’s wait for another success story from Mobile Marketing
twitter is mobile right? or online? apapun itu… twitter sudah membuktikan mampu menjadi tools untuk spreading the good news (and bad news too)
Mau nonton 3 Idiots lagi ah weekend ini
Posted on February 1, 2010 - by Yoris Sebastian
Saya senang mengamati perkembangan para market leader yang inovatif. Mereka tidak pernah berhenti melakukan terobosan. Seperti tadi siang, saya baru sadar bahwa Nike Sportwear kita tidak semuanya masih menggunakan the iconic swoosh logo lagi. Ternyata Nike Sportwear punya banyak collection dengan logo-logo baru. Salah satunya Polo Shirt super keren dibawah ini.

Tag masih Nike namun di dada sudah bukan swoosh logo lagi. Apakah inovasi ini akan berhasil atau tidak? We’ll see in the future. Tapi menurut saya, ini merupakan langkah yang tepat untuk peremajaan brand Nike. Brand ini akan tetap legendaris, namun we might need new icon as well
Dengan harga yang sama-sama Premium, kira-kira lebih laku Polo dengan logo Swoosh yang iconic atau dengan logo baru ini ya?
Posted on November 4, 2009 - by Yoris Sebastian
Itu yang selama ini saya yakini dan hari ini dikonfirmasi lagi oleh Dr. Joseph Michelli dalam seminar sehari “Lessons From The Legends” yang diadakan oleh Result Asia dan BrandI.
Mungkin banyak yang langsung bilang Ritz Carlton kan bisa kasih extra service karena memang harganya sangat premium. Bahkan setiap employee punya otoritas sebesar $2000 tanpa approval selama hal yang dia lakukan demi kenyamanan tamu. Well, itu karena Ritz Carlton memang punya strategy seperti itu, namun dibalik semua itu mereka simply hanya berusaha untuk melakukan service dengan konsep “Create The Home of a Loving Parent”. As simple as that. Apakah seorang ibu akan minta approval dulu kalau anaknya ada yang sakit? dan masih banyak lagi kisah yang diceritakan Dr. Michelli yang memang adalah pengarang buku “The New Gold Standard” yang memang mengupas cara-cara Ritz Carlton menjalankan customer service mereka.
Belum lagi bagaimana Starbucks yang memang fokus menciptakan customer instead of fokus pada profit making. Starbucks menciptakan suasana yang luar biasa berbeda sehingga orang mau membeli coffee dengan harga premium. Dengan customer service yang bagus tak heran bila banyak orang memegang cup starbucks dengan posisi logo keluar karena bangga dengan brand starbucks.
Memang sulit kalau bekerja di tempat yang karyawannya sendiri tidak bangga akan perusahaan tersebut, bagaimana pelanggannya juga mau bangga?
Kembali ke soal budget, hari ini Dr. Michelli juga bercerita bagaimana dia disambut di kamarnya semalam dengan ‘unique welcome notes’ from the GM. Biasanya kan hanya kartu, kali ini dia mendapatkan 3 bukunya dibingkai lengkap dengan welcome notes dari GM Ritz Carlton Jakarta.
Saat makan siang saya bertanya apakah dia mendapatkan hal yang serupa di Singapore or Kuala Lumpur dalam rangkaian tour asia dia kali ini? Ternyata tidak, namun dia sangat impress dengan pemberian welcome notes ini. Dia pasti akan menggantungnya sebagai memorabilia di rumahnya nanti.
So customer service is not only about the budget but about the love and your creativity

Punya pengalaman customer service yang bagus di Indonesia? boleh di share ya…
Posted on September 18, 2009 - by Yoris Sebastian

Melihat produk-produk yang ada di supermarket menjelang Lebaran, jadi kepikiran… kenapa ya Lebaran selalu diisi dengan perang discount? Kenapa tidak diciptakan produk-produk baru yang hanya dijual di Jakarta dan diluncurkan menjelang Lebaran sehingga orang-orang yang pulkam alias mudik bisa membawa produk-produk tersebut sebagai oleh-oleh dari Jakarta.
Jadi by design, produk-produk baru tersebut hanya di jual di Jakarta sehingga kalau dibawa pulang menjadi ’sesuatu’ untuk mereka yang di daerah. Harga bisa sedikit premium khusus menjelang Lebaran dan perlahan setelah Lebaran harga menjadi normal karena sudah disebarkan di seluruh Indonesia. Hitung-hitung ‘Launch’ duluan di Jakarta
Sama seperti uang Rp. 2000 baru yang mungkin akan jadi primadona tahun ini hehehe… di daerah sudah ada belum sih uang pecahan Rp. 2000?
Posted on August 9, 2009 - by Yoris Sebastian

Sabtu kemarin, 8.8.9 Black Innovation Awards (BIA) 2009 sudah mengumumkan nama para pemenang. Saya sebagai juri cukup puas bukan saja karena secara kuantitatif jumlah karya yang layak dinilai juri tahun ini meningkat 10 kali lipat. Tahun lalu para juri menilai 80 karya untuk dipilih 50 semi-finalist, sementara tahun ini ada 800 karya yang harus dipilih menjadi 50 semifinalist.
Karya-karya yang masuk semi-final juga harus ‘tahan banting’ dari komentar-komentar BIA Enthusiast yang tahun ini bisa memberikan komentar mengenai orisinalitas dan kreativitas para karya.
Tahun ini, para juri juga bisa tatap muka dengan para inovator yang masuk final 20 besar sehingga dalam menentukan pemenang, kami bisa memberi nilai tambah untuk mereka yang punya good reason di balik produk temuan mereka.
Dan, inilah wajah para pemenangnya:

Bharoto Yekti, Muhammad Rois Abidin, Arif Kurianto
Yang pertama disebut malam itu adalah Arif Kurianto sang inovator pembuat Blind Gaple. Dengan blind gaple, para tuna netra dapat saling bermain gaple tidak hanya dengan sesama tuna netra tapi juga bisa dilakukan dengan orang normal.
Lalu juri memanggil pemenang berikutnya, Muhammad Rois Abidin dengan produk Bagcamp, dimana tenda dan tas menjadi satu dalam rancangan yang apik.
Pemenang berikutnya adalah produk Templast Sampah yang dirancang oleh Bharoto Yekti S.Ds. Simple namun berguna. Bharoto membuat design tempat sampah yang bisa digabungkan dengan berbagai kantong plastik yang beredar di pasaran, mulai dari yang kecil sampai kantong plastik besar.
Pemenang keempat, sungguh mengejutkan karena ternyata juga dimenangkan oleh Muhammad Rois Abidin. Kali ini dengan produk Cankingz. Satu ide yang sederhana namun dikemas menarik dengan suatu alat yang mampu mempermudah membawa durian agar lebih aman dan nyaman. Bukan saja untuk naik pesawat namun saat ini banyak mobil yang tidak lagi memiliki trunk terpisah, sehingga produk ini akan sangat bermanfaat.
Seperti biasa, kalau para pemenang hadiah utama mendapatkan hadiah masing-masing @ Rp. 25.000.000. Kita juga memiliki 1 hadiah favorit pilihan BIA Enthusiast yang tahun ini jatuh ke E.B.I (Economic Bath Installation) karya Dika Gusti Nugraha.
Yang tidak biasa tahun ini, panitia memberikan grand prize untuk karya yang mendapatkan nilai tertinggi dari dewan juri untuk berangkat ke Sydney, Australia untuk menghadiri shooting program “New Inventors” dari program televisi ABC dan melihat tempat-tempat dan hal-hal yang inovatif yang ada disana. Well, selamat untuk Bharoto Yekti S.Ds yang unggul di total nilai dari seluruh dewan juri. Semoga trip ke Sydney nanti semakin membuka wawasan sebagai seorang innovator.
Posted on June 27, 2009 - by Yoris Sebastian
Kidzania kembali melakukan inovasi. Kali ini menerapkan konsep Word of Mouth Marketing dengan mengadakan pemilihan “Kidzania Congrezz”
KidZania Congrezz adalah salah satu event besar KidZania, untuk mencari dan menyeleksi 14 anggota dewan legislatif yang berkewajiban memberikan masukan dan membantu pemerintah kota KidZania Jakarta selama 1 tahun, dan akan bersidang setiap 2 bulan sekali.
Dewan Legislatif tersebut terdiri dari anak-anak berusia 7-15 tahun, yang berprestasi baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dewan Legislatif juga berhak masuk ke KidZania secara gratis selama 1 tahun dan berkunjung ke pabrik-pabrik atau kantor dan perusahaan sponsor KidZania untuk memperkaya pengalaman dan ilmu pengetahuan.
Dari 2,121 peserta yang mendaftar, mereka harus melalui 3 tahap seleksi ketat, untuk menguji ilmu pengetahuan, wawasan, bakat dan minat, jiwa kepemimpinan, serta visi dan misinya untuk kemajuan kota KidZania.
Jadi saat kita sedang heboh dengan pemilihan anggota legislatif, anak-anak yang bermain ke Kidzania punya chance untuk menjadi anggota kongres juga. Ini salah satu contoh bagus untuk mengikuti Fads yang berkembang di masyrakat.
Mudah-mudahan program ini terus berjalan dengan peserta yang semakin banyak tahun depannya. Jangan sampai Kidzania Congrezz end up seperti program-program lain yang makin lama makin menurun.
Remember the more particpiants, the more talkers you will have

Dan kalau kita lihat anggota kongres yang berjumlah 14 orang ini, ternyata didominasi oleh anak perempuan sebanyak 10 orang. Apakah ini sebagai pertanda bahwa 2014 nanti jumlah anggota legislatif kita juga akan didominasi caleg perempuan? Kalau sekarang kan, walau jumlah anggota legislatif semakin banyak perempuan namun 30% aja kan gak sampe… hehehe
Posted on June 23, 2009 - by Yoris Sebastian
Sungguh senang akhirnya ada juga yang jadi pelopor menggunakan QR code di Indonesia. Teknology ini sebenarnya sudah cukup lama di luar namun tidak masuk-masuk juga ke Indonesia. Diciptakan di tahun 1994 oleh perusahaan bernama Denso-Wave.
Sempat terdengar beberapa perusahaan FMCG yang merancang QR code di produk mereka, namun tidak mencapai kesepakatan harga tampaknya.

Nah, dengan mulainya QR code di Indonesia minggu lalu di harian Kompas, mudah-mudahan akan banyak yang megikutinya. Apalagi Indonesia memiliki populasi yang besar untuk pengguna handphone.

Nantinya bila QR code sudah populer, bisa jadi billboard cukup memasukkan QR code disana sehingga kita dengan mudah mendapatkan details dari program yang ada di billboard ke handphone kita.

Wah nanti kalau sudah makin populer, bisa juga QR code ada di Tee Shirt

Posted on June 18, 2009 - by Yoris Sebastian

Banyak sekali MURI yang bisa kita lihat sehari-hari di media massa, kebanyakan berbentuk iklan karena memang kurang menarik untuk diliput oleh media massa.
Selain kurang menarik, banyak brand yang tidak sadar bahwa penghargaan MURI tanpa relevansi dengan brand/produk mereka percuma saja. Misalnya launching Flavour baru tapi mendapatkan MURI untuk rekor botol terbesar.
Nah, kalau iklan diatas merupakan contoh MURI yang masih tepat. Dalam rangka Pemilu, Antv terus melakukan terobosan dan inovasi. Salah satunya penghargaan MURI untuk Talkshow pertama di tengah pasar mempertemukan para Capres dengan para pelaku pasar.
Nantinya untuk pas pilkada bisa bikin Cagub Turun ke Pasar?
Semoga semakin hari iklan-iklan MURI semakin kreatif dan semakin relevan
pernah lihat iklan MURI yang bagus juga?
Posted on June 4, 2009 - by Yoris Sebastian
Di berbagai seminar dan workshop, saya sering bahas bahwa tema David vs Goliath adalah salah satu tema yang paling sering terjadi dan melesat dengan cepat bak virus.
Contoh legendaris adalah cerita Pepsi Challenge dimana Coca Cola termakan tantangan dari Pepsi yang mengatakan kalau kita ikut blind test maka kita akan memilih Pepsi dibanding Coke dan mereka over-reacted dengan mengeluarkan New Coke yang rasanya lebih manis seperti Pepsi.
Di Indonesia, baru-baru ini hadir kasus Prita melawan Rumah Sakit OMNI International. Prita mempermasalahkan mengapa hasil lab yang menyatakan bahwa dirinya memiliki trombosit 27.000 tidak boleh dilihat. Pihak RS OMNI menyatakan hal tersebut belum divalidasi, jadi masih rahasia.
Prita kecewa dan menulis email ke 10 orang teman. Bayangkan era word of mouth saat ini, dalam waktu singkat berita tersebut tersebar dengan cepat bak virus di berbagai email dan milis.
Goliath (dalam hal ini RS OMNI) over-reacted dengan memasang iklan besar-besaran di 2 koran nasional (Kompas dan Media Indonesia). Hal ini malah membesarkan masalah, yang tidak tau (termasuk saya) jadi tau masalah ini. Saya (dan mungkin banyak orang) malah merasa terjadi pertarungan tak seimbang bak David vs Goliath. Kita cenderung ber-empati pada David yang lemah. Sekarang berita ini malah menjadi headline banyak koran nasional dan ditayangkan di hampir semua tv naisonal… bayangkan damage yang terjadi…

Apalagi setelah RS OMNI melaporkan email ini ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik. Terlebih lagi, Prita lalu ‘dijemput’ secara mendadak untuk ditahan di penjara khusus wanita di Tangerang. (Details mungkin bisa dibaca di detik.com or kompas.com)
Sekarang di berbagai milis dan komunitas serta group di facebook timbul gerakan anti RS OMNI. Malah lebih runyam kan?
Kembali ke workshop yang biasa saya gelar bersama Mavens, disana banyak contoh baik yang bisa dipakai menghadapi customer complaint. Yang paling saya suka bagaimana DELL menghadapi email complaint dari customernya. Michael Dell malah merekrut sejumlah orang khusus untuk memperbaiki keluhan tersebut. Sekarang Dell malah punya www.ideastorm.com untuk mereka yang menyampaikan keluhan atau ide-ide supaya Dell menjadi lebih baik ke depannya.
Atau Apple yang pernah di complain karena iPod mereka awalnya tidak bisa diganti baterenya yang hanya berumur 18 bulan. Sehingga 1 pelanggan membuat website khusus soal compaint ini lengkap dengan video yang upload ke youtube hingga didatangi 2,3 juta visitor dan membuat grafiti di poster-poster milik iPod.

Apakah Steve Jobs menuntut orang tersebut? TIDAK, keluhan tersebut diperbaiki dan sekarang customer yang marah itu malah sangat mendukung Apple
Apa yang dilakukan Prita sangat kecil dibanding apa yang dilakukan Neistatbrothers melawan Apple, namun beda treatment beda juga hasilnya.
So, it’s time to learn about Word of Mouth… better late than never
Posted on April 9, 2009 - by Yoris Sebastian
Menarik, melihat Starbucks secara kreatif terus melakukan promosi untuk mempertahankan posisinya sebagai creative brand yang tidak hanya menjual kopi tapi menjual gaya hidup dan sudut pandang. Mulai dari support mereka terhadap para petani kopi dan hari ini mereka peduli dengan pemilu.Tak heran bila mereka bisa terus menjual kopi secara premium

Tidak ketinggalan Ancol yang belakangan ini juga terus melakukan inovasi, ikut menggunakan momentum Pemilu untuk kegiatan promosinya.

Dan satu lagi masuk dalam radar saya hari ini, melakukan promosi yang memanfaatkan moment pemilu adalah Matahari Dept. Store

Never stop doing creative promo… salah satunya memanfaatkan moment… it will create word of mouth

