Posted on June 29, 2009 - by Yoris Sebastian

Sungguh menarik, di hari ulang tahunnya ke 44 hari ini Kompas menurunkan berita utama mengenai krisis surat kabar di Amerika Serikat saat ini.
Saya kutip sebagian tulisan dari Yohanes Krisnawan (Litbang Kompas):
Dari data yang dirilis Newspaper Association of America, pada tahun 2008, terjadi kenaikan jumlah pengunjung surat kabar online 12,1 persen. Pada tahun 2007 jumlah pengunjung 60 juta dan tahun 2008 meningkat menjadi 67,3 juta. Situs surat kabar nama besar paling banyak diakses, seperti The New York Times, USA Today, The Washington Post.
Krisis ekonomi juga menghantam industri periklanan, tulang punggung keuangan surat kabar. Pada tahun 2006 jumlah total pendapatan iklan industri surat kabar mencapai 49,5 miliar dollar AS, tahun 2008 anjlok 23 persen menjadi 38 miliar dollar AS. Nilai saham perusahaan surat kabar di bursa juga melorot (lihat tabel).
Dampak lebih jauh akhirnya merambah pada gelombang PHK. Sejak Juni 2007 hingga Mei 2009 jumlah karyawan yang kena PHK sudah mencapai 28.177 orang. Kabar terakhir, manajemen The Boston Globe tengah berunding dengan serikat pekerja terkait rencana pemotongan gaji karyawannya.
Sesuatu yang mungkin belum terjadi di Indonesia, namun Kompas sebagai pemimpin pasar sudah bersiap dan melakukan antisipasi sesuai tulisan dari Pak Jakob Oetama hari ini, Refleksi 44 Tahun Harian “Kompas”
Dua artikel ini menggelitik pemikiran kreatif saya. Apa yang terjadi kalau krisis surat kabar juga sampai ke Indonesia? Kalau tahun lalu saya mengangkat topik “The real convergence between print and digital media” di Kongres Serikat Penerbit Surat Kabar Indonesia, kali ini apa yang bisa saya angkat sebagai kado untuk ulang tahun Kompas ke 44 hari ini?
Seharian saya berpikir dan beberapa menit sebelum hari berganti, saya jadi kepikiran… harusnya Kompas selaku market leader bukan saja mempopulerkan QR code tapi juga mempopulerkan Amazon Kindle.

Di Amerika saat ini Amazon, sedang melakukan napak tilas apa yang dilakukan oleh Steve Jobs lewat iPod disaat krisis industri musik saat Napster dan berbagai sharing files lainnya meraja-rela saat itu.
Dengan adanya Amazon Kindle dan (kalau saja) bisa menjadi populer di Indonesia seperti halnya Blackberry… kita bisa mulai langganan koran lewat Kindle dan bisa beli buku-buku dengan harga murah dan bisa didownload dalam waktu sangat singkat
Jadi jangan biasakan koran gratis
Singapore Strait Times saja tidak memberikan koran gratis
Selamat ulang tahun Kompas… tetaplah mengungkap ”kebenaran” dan menjadi ”kompas” bagi masyarakat.
• Love to hear yours!
Here's your chance to speak.


Visit My Website
June 29, 2009
Permalink
rizal akbar said:
nggak sabar pingin nyobain kindle..
Visit My Website
June 29, 2009
Permalink
Yoris Sebastian said:
saya juga
lagi pesen nih
lebih murah dan lebih cepat… terutama buat buku bisnis yang biasa saya pesan
Visit My Website
June 29, 2009
Permalink
Rediningrum Setyarini said:
Tanpa bermaksud mengecilkan technologi, tapi masih banyak nih orang buta huruf di Indo. Kedua, Menurut lembaga survei Pewter di AS (cuman inget nama belakangnya
) yang hobi akses koran digital dan betul2 meninggalkan koran cetak ‘baru’ kalangan esmud umur 20-30-an. Ketiga, buku murah (gimana caranya tuh Ris?) mudah2an sekian persennya bisa nyumbang konservasi hutan. keempat, udah.
Visit My Website
June 29, 2009
Permalink
Yoris Sebastian said:
yes Inge, if we are talking about the future we targeting 35 and below
buku murah, kalau melihat dari digital distribution harusnya selling price bisa ditekan karena bisa potong ongkos sewa toko yang lumayan mahal kan… belum lagi kalau sistem pre-order sudah berjalan seperti amazon.com mereka bisa confirm order di depan untuk publishing, malah bisa jadi ke depannya amazon.com cetak sendiri untuk menghemat biaya kirim dari publisher ke amazon
Saya sendiri, baca koran masih lebih suka yang sekarang sambil breakfast dan minum teh… thats my ritual…. although Kompas ePaper sudah mulai terbiasa juga sih.
Kalau majalah saya langganan Business Week yang digital and really like it… apalagi nanti kalau ada kindle yang feel nya mirip buku/majalah beneran
sekian persen buat konservasi hutan harusnya memang begitu apalagi di Indonesia kan diatur oleh undang-undang… untuk bisnis yang kegiatan usahanya di bidang
dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
Visit My Website
June 29, 2009
Permalink
Fikri Rasyid said:
Kira-kira, berapa tahun lagi y iklim surat kabar di Indonesia akan seperti di U.S? Siapa dan bagaimana caranya memetik keuntungan dari perubahan ini?
Visit My Website
June 29, 2009
Permalink
Yoris Sebastian said:
wah kalau berapa tahun lagi we will never really know… ini kan tergantung perubahan culture… kalau online dan mobile marketing sudah makin banyak success story nya… plus pengusaha di bidang printed media secara asosiasi tidak melakukan investasi untuk terus menjaga ‘kebiasaan’ baca koran sambil breakfast di pagi hari… mungkin segera kita menjalani yang terjadi di US.
Cara mengambil keuntungan ya biasakan main online dan mobile… so when the time is come… you’ll be ready… just like Kompas
Visit My Website
November 24, 2009
Permalink
Irwan said:
kidle DX ini modelnya simple, tetapi cara pemakaiannya dengan gprs apa jaringan wifi saja ya? & kena biaya bulanan ga seperti bb.
Masuk Indonesia perkiraan kapan ya?
Visit My Website
November 24, 2009
Permalink
Yoris Sebastian said:
Sayang sekali saat ini walau KINDLE sudah punya yang khusus untuk international market tapi pas saya mau beli, Indonesia belum masuk
kayaknya pake wifi ya… kalo gprs takutnya kelamaan untuk download e-book.
Let’s pray Kindle akan masuk 2010 karena begitu masuk, kita juga bisa jualan e-book local
Visit My Website
November 3, 2010
Permalink
Rediningrum Setyarini said:
Just share.. http://www.antarane ws.com/berita/ 1288680901/ jakob-oetama- media-cetak- akan-tetap- eksis
Thx.