YORIS SEBASTIAN. thinking outside the box - execute inside the box

  • Categories

  • Archives

  • Connect!

  • Yoris Sebastian on Facebook
Sunday. February 20, 2011 8:12 - by

Membaca sebuah artikel di Kompas, Mendongkrak Nilai Jual dengan Super Liga.  Saya jadi ingat beberapa tahun lalu sebenarnya saya sudah bersedia membantu PBSI lewat Alan Budi Kusuma untuk membuat konsep Super Liga yang selain berkualitas juga ada unsur entertainment-nya.

Jadi bukan hanya sekedar mengundang para pemain bulutangkis tingkat dunia untuk tampil di Indonesian Super Liga, namun kita juga bikin beberapa terobosan.  Misalnya bikin lomba King Jump Smash dimana para pemain yunior diminta melakukan smes dan diukur kecepatan serta keindahan dari mereka melakukan smes.  Sekaligus memberikan penghargaan untuk salah satu Badminton Legend dunia, Liem Swie King.

Selain itu pakaian juga perlu bekerjasama dengan Nike, yang sudah sukses dengan seragam timnas Sepakbola yang sold saat digelar AFF kemarin.  Dalam beberapa tahun terakhir ini, Nike sudah memberikan seragam timnas dengan bahas quality International.  Sudah saatnya mungkin Nike atau Adidas ikut merancang seragam bulutangkis seindah seragam tenis, namun tetap functional untuk badminton.

Dan masih banyak sekali ide yang sebenarnya menari-nari di tim OMG Consulting waktu itu, itu ditelaah lebih lanjut.  Sayang sekali niat baik Alan Budi Kusuma tampaknya belum berhasil diterima pihak dalam.

But I hope in the future, I can do something for Badminton… satu-satunya olahraga dengan prestasi dunia yang seharusnya kita jaga antusiasme masyarakat.  Salah satunya dengan sedikit lebih out of the box dalam mempersiapkan event bulutangkis tingkat dunia di Indonesia.  Asal jangan out beneran ya… ;)

Yang pasti banyak cara untuk membuat Bulutangkis menjadi exciting game to watch.

”When you have an exciting game, there is an exciting broadcast”

Tuesday. February 15, 2011 8:26 - by

Mungkin komunitas Bike To Work (B2W) sudah lahir dari 6 Agustus 2004.  Saya selalu mengundang perwakilan mereka untuk ikut dalam workshop tentang community yang saya lakukan.  Namun kenapa akhir-akhir ini olahraga sepeda semakin meluas dan akhirnya menurut saya menjadi lifestyle bukan lagi semata olahraga, karena kehadiran Fixed Gear Bike atau di North  America lebih kerap disebut Fixie Bike.

Lagi-lagi terlihat bagaimana good design membuat bisnis penjualan sepeda jadi laris manis.  Seorang sahabat yang sukses jualan berbagai handphone dan accessories di beberapa mall papan atas di Jakarta sekarang pun mulai merambah bisnis jualan sepeda.  Sepeda menjadi good business ;)

Client saya yang biasa ngajak saya main golf tapi gak bisa karena saya tidak bisa.  Sekarang ngajak saya naik sepeda.  Sepeda menjadi gaya hidup.  Dulu sepeda adalah sekedar kesehatan karena design-nya yang sangat functional.  Design merubah hal tersebut.  So, again… Good Design is Good Business!

Saturday. February 12, 2011 10:03 - by

Saya selalu suka membaca kolom hari Sabtu dari sahabat saya Rene Suhardono di harian Kompas, Ultimate-U.

Sabtu kemarin judulnya sungguh menggelitik saya untuk segera menulis blog… Dress for Comfort or Dress for Success?

Kalau saya kebetulan sekarang bisa dua-duanya… karena saya sehari-hari (sejak 3 tahun yang lalu) hanya menggunakan kaos namun celana bahan untuk memberi kesan rapih lengkap dengan Rolling Laptop Backpack warna hitam.  Memang tampilan ini berbeda dan tidak lazim kalau dibanding dengan konsultan kebanyakan.

Namun itulah message yang ingin saya sampaikan… Saya dan OMG Consulting selalu ingin Challenge The Norms.  Melakukan sesuatu yang tidak lazim namun…. tetap ada makna positif dibalik itu.  Makna yang ingin kami sampaikan adalah sebagai konsultan yang kami jual adalah konsep dan ide kami bukan pakaian kami ;)

Saya teringat kebanyakan tamu saya dulu di Hard Rock Cafe yang memakai pakaian formil dengan alasan, “Kalau nggak pake pakaian kayak gini gimana mau dibayar mahal ris… hehehe”

Sekarang saya dengan bangga bisa bilang “Saya pake kaos dan sangat comfort namun tetap dibayar mahal… hehehe”

Jadi Be Different…  But Be Different with a reason.

Sama seperti saat saya jadi General Manager di Hard Rock Cafe.  Saat hampir semua GM berpakaian casual ala Hard Rock, saya malah menggunakan kemeja rapih lengkap dengan dasi.  Saat ditanya di suatu event Live Telecast HRC se Asia, “Hey Yoris do you aware you were working for Hard Rock? Why you wearing tie?”

Jawaban saya sambil tersenyum, “Remember HRC motto? All is One… Hard Rock very open for anybody with any casual attire… but they also very open to those with tie”  Kadang mereka lupa dengan makna motto HRC sendiri yang dulu menjadi pioneer untuk cafe yang membolehkan orang masuk tanpa pakaian formil namun bukan berarti mereka tidak suka yang pakaian formil. All is One ;)

Tuesday. February 8, 2011 11:27 - by

Foto diatas diambil tanggal 23 Februari tahun 2000, saat saya dan Meuthia Kasim menghadiri 42nd Grammy Award di Staples Centre Los Angeles. Saat itu acara tersebut disiarkan live di 87.6 Hard Rock FM. Selain banyak belajar bagaimana mereka menggelar malam penghargaan yang demikian berpengaruh di dunia, saya juga mendapatkan inspirasi bagaimana penyelenggaraan event memang perlu tahunan dan setiap tahun diperbaiki sehingga semakin baik dan tetap menarik untuk dibicarakan.

Saat itu I Like Monday baru berumur sekian tahun, namun semangat saya mengebu-gebu untuk bisa menyelenggarakannya hingga 42 tahun seperti Grammy waktu itu.  Tentunya bukan oleh saya sendiri namun oleh Hard Rock Cafe Jakarta :) Dan saya sungguh senang karena hingga sekarang I Like Monday masih dijalankan…

I Like Monday juga membawa saya memenangkan banyak penghargaan, salah satunya Young Marketer Award dari IMA (Indonesia Marketing Association), Markplus dan Majalah SWA.  Selain itu ILM juga membawa saya menang di tingkat nasional untuk mewakili Indonesia pertama kali tampil di ajang tingkat dunia bernama International Young Creative Entrepreneur Award di London.

Banyak ikut lomba dan kerap menang baik di tingkat nasional, regional maupun internasional akhirnya membawa saya mulai sering diminta menjadi juri.  Salah satu yang cukup berkesan dan sampai sekarang masih saya lakoni adalah juri Black Innovation Award.  Malah di BIA, setelah saya resign dari MRA Group dan mendirikan OMG Consulting, kami juga dipercaya sebagai Event Consultant.

Akhirnya OMG Consulting pun jadi sering menjadi event consultant khususnya untuk event award tahunan.  Malah belakangan, OMG malah sudah menjadi Award Creator untuk client-client kami.  Misalnya:

- Young Caring Professional Award untuk Caring Colours Martha Tilaar, yang diadakan untuk para wanita professional yang memiliki prestasi di bidang masing-masing.

- Telkom Indigo Fellowship untuk Telkom, yang diadakan untuk para creativepreneur di bidang teknologi digital maupun calon creativepreneur karena para pemenang diberikan modal usaha sesuai presentasi konsep business mereka. Saat itu belum banyak award yang memberikan modal usaha untuk para pemenangnya.

- Clas Music Heroes untuk Clas Mild, yang diadakan untuk para penyanyi atau band yang banyak berbicara melalui prestasi-prestasi mereka.

Untuk CMH ini bahkan menjadi salah satu peraih penghargaan Gold Winner dari majalah Mix (kelompok media SWA) untuk penghargaan The Most Impactful Brand Activation 2010.

Namun buat saya yang terpenting bukan sekedar mendapat penghargaan sebagai impactful brand activation atau sekedar menjadi yang pertama yang memberi modal usaha… yang terpenting adalah membuat award yang berguna untuk pemenangnya dan juga memberi inspirasi untuk yang lain…Karena melalui award-award ini kita sebenarnya sharing best practice dari para pemenang sehingga membagi inspirasi positif untuk yang lain.

Last but not least, seperti Grammy Award yang hari ini diselenggarakan untuk ke 53 kalinya… Saya berharap impactful awards yang ada – baik yang kami kerjakan maupun yang bukan – akan terus berlangsung untuk jangka waktu yang panjang…

Friday. February 4, 2011 4:10 - by

Whitney Miller, 22 tahun secara dramatis menjadi orang pertama di Amerika yang menjadi Master Chef! Sungguh mengejutkan semua orang.  MasterChef adalah reality show lomba masak untuk para chef amatir yang ‘dipaksa’ berlomba layaknya Chef Professional.

Pasti di awal acara, Whitney dianggap hanya penggembira… biar finalis-nya juga ada yang muda… namun sebenarnya Whitney sudah memasak sejak berusia 12 tahun.  Jadi walau usia muda, jam terbangnya sudah 10 tahun :)   “Age is just a number and if you have the talent then you have what it takes. That’s the same for anything and I want to inspire everyone to go for their dream no matter how old they are” tutur Whitney mantap.

Saya jadi wartawan majalah sekolah KERIS PL saat masih kelas 1 SMA walau waktu itu biasanya hanya anak kelas 2 dan kelas 3 yang jadi tim majalah sekolah.  Don’t be afraid to start very young… Alanda Kariza bikin novel saat masih SMP, why not?

Dulu saya pikir bikin buku non fiksi nanti kalau saya sudah berusia 50 tahun… tapi ternyata buku saya Creative Junkies bisa sukses di pasaran…

Dan berhubung MasterChef sudah mulai audisi di Indonesia, mungkin kita perlu simak pesan Whitney untuk para calon peserta MasterChef: “Just stick with whatever type of food you love to cook. Don’t venture off too much because you have to stick to what you love to do and what food you love to eat, and for me that’s Southern food and that’s what I stuck to throughout the competition.”

Saya jadi ingat kalau saya wawancara calon chef untuk Hard Rock Cafe maupun cafe-cafe saya lainnya dulu… kebanyakan chef kita bisa segala masakan.  Akhirnya kita tidak punya keahlian yang sangat khusus.  Mungkin karena sistim pendidikan kita yang memang sangat generalis? mungkin.

Padahal kita perlu sesuatu yang Younique… Sesuatu yang menggambarkan who we are… namun unique dibanding yang lain.  Whitney misalnya, sempat mendapat gelar Pastry Princess.  Saking hebatnya di membuat Pastry… don’t just be average on everything… be Younique!

So good luck untuk yang ikutan MasterChef, saya bagian icip-icip aja hehehe… Ingat age is just a number… muda tua tidak masalah… semua bisa ikut MasterChef ;) For more info klik http://masterchefindonesia.com/

Wednesday. February 2, 2011 9:19 - by

Kalau di era 2003, Yamaha sukses dengan inovasi Yamaha Mio yang lebih fokus ke konsumen wanita sehingga motor tersebut bisa dipakai oleh wanita dan pria. Mei tahun lalu, giliran Honda keluar dengan Honda Scoopy yang lebih fokus ke design retro modern seperti layaknya motor legendaris Vespa yang tentunya harganya sangat mahal untuk ukuran konsumen Indonesia.

Sejak diluncurkan, Honda Scoopy sangat laris bahkan sampai harus indent :) Mudah-mudahan ini memulai babak baru di Indonesia untuk tidak hanya fokus ke functional namun juga ke design… akan lebih bagus lagi kalau design-nya dipercayakan pada designer kreatif lokal dari Indonesia yang saya yakin juga sudah mampu asal diberi kesempatan.

Lihat saja gedung Gramedia Expo di Surabaya yang dibuat oleh Ridwan Kamil dari Urbane, langsung penuh sejak dibuka dan juga menunjukkan bahwa Good Design is Good Business.

Starbucks New Logo
Burlesque – Every Big Step Starts With an Inch
Crop Circle Sleman
2010 Tahunnya Social Media