Saturday. January 1, 2011 23:19 - by Yoris Sebastian
Membaca di beberapa koran di bulan Desember kemarin, saya mendapat kabar bahwa Upah Minimum Propinsi DKI Jakarta mulai 2011 ditetapkan sebasar Rp 1.290.000 atau naik sebesar 15,38 persen dari UMP Jakarta tahun 2010 sebesar 1.118.009 rupiah.
Saya senang karena berarti rata-rata pekerja di DKI Jakarta akan membawa pulang ke rumah hampir 1,3 juta rupiah per bulan. Berarti ada peningkatan kualitas hidup bagi para pekerja di ibukota.
Namun saya jadi kepikiran dengan para pengusaha di DKI yang punya banyak karyawan, mungkin kenaikan 15,38% persen akan berdampak berat. Kenaikan ini mungkin saja menimbulkan kenaikan harga jual produk atau jasa dari perusahaan. Kalau mereka tidak kuat, maka akan ada efisiensi karyawan. Jadi akan ada domino efek dari kenaikan UMP ini.
Kalau kita study banding (tanpa harus langsung ke luar negri ya… toh ada google) ke Manila, pemerintah disana terus menambah lini pekerjaan yang berpenghasilan tinggi untuk warganya. Salah satunya yang sudah sukses adalah pekerjaan di Call Centre. Seperti yang saya baca di Business Week terbitan 6 Desember 2010, pemerintah Philippines mempermudah approval untuk mereka yang mau membuka Call Centre Business di Manila, mereka memberikan tax breaks, quick clearance for building permits dan exemption from import duties on computer & telecom gears yang diperlukan untuk Call Centre. Sekitar 40.000 pelajar disponsori oleh pemerintah untuk memperbaiki bahasa Inggris mereka dan tentunya communication skill.

Hasilnya? para pekerja muda ini sekarang mendapatkan penghasilan sekitar 300.000 pesos (US$ 6.850) setiap tahunnya. Di negara yang annual GDP nya sekitar 83.000 pesos (US$ 1.900). Sekedar perbandingan saat ini annual GDP Indonesia adalah US$ 2.963. Jadi bayangkan pendapatan US$ 6.850 per tahun ini sebenarnya juga menggiurkan untuk Jakarta sekalipun.
Lagipula, domino efek dengan tingginya pendapatan para pekerja muda itu adalah mulai dibangunnya Mall, Bar, Cinema dan Cafe di sekitar kantor-kantor Call Centre tersebut. Padahal sudah pasti kantor Call Centre dibuka di daerah yang tidak prime tentunya. Sama-sama domino efek namun yang ini sifatnya bagus untuk perekonomian
Genius? Tidak juga… Pemerintah Philippines sebenarnya hanya belajar dari kesuksesan India yang waktu itu sangat terkenal dengan Call Centre Business di Bangalore. Mereka mendapatkan bisnis yang begitu besar dari outsourcing Call Centre dari US, Europe dan Australia. Sekarang Bangalore bersaing ketat dalam business outsourcing ini dengan Manila dan kalau tidak salah sedang diarahkan juga ke Cebu.
So, in my humble opinion… selain menaikkan UMP sebaiknya pemerintah juga memikirkan bagaimana menambah lini pekerjaan yang mendatangkan pendapatan yang besar untuk warganya sehingga punya efek domino yang positif untuk orang banyak. Contoh diatas menurut saya belum merupakan contoh yang kreatif, baru contoh yang baik dan benar.
Dan saya yakin masih banyak peluang lini pekerjaan yang perlu dikembangkan di Indonesia, khususnya di kota-kota sekitar Jakarta sehingga bisa benar-benar menjadi kota mandiri. Jangan penduduknya tinggal disana, namun tetap bekerja di Jakarta. Selain pemborosan bensin untuk transportasi juga pemborosan waktu, sehingga rendahnya kualitas hidup. Saya berharap, akan ada kota mandiri yang secara sistematis memilih beberapa lini pekerjaan baru yang penghasilannya tinggi untuk warganya, sehingga mereka tidak perlu bekerja di Jakarta lagi.
Saturday. January 1, 2011 22:13 - by Yoris Sebastian
Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menulis di blog ini dengan judul Perayaan Tahun Baru. Waktu itu masih dalam bagian kesukaan saya untuk Challenge The Norms dan mulai latihan dengan ber-imaginasi dengan hal-hal yang terjadi di luar negri, mungkinkah saya berbuat sesuatu yang beda sebagai event conceptor? Sesuatu yang kreatif? Jadi bukan sekedar meniru apa yang ada diluar terus diterapkan disini. Toh, lebih baik kita berlatih, bermain imaginasi, supaya (who knows) ketika kesempatan datang untuk berkarya di luar negri, kita sudah siap kan
Oh iya waktu itu saya bilang begini, “Kenapa The Balls is always drop? kenapa setiap tahun bolanya selalu turun saat countdown? Selain beda, dengan bolanya naik keatas kan auranya lebih positive? arahnya keatas bukan ke bawah” demikian komentar saya soal the legendary Ball Drop yang setiap tahun dilakukan secara spektakuler di Times Square, New York.
Tadi siang saat nonton Anderson Cooper’s 360 New Year’s Eve Countdown, saya melihat berbagai celebration di dunia dan yang paling menarik buat saya yang terjadi di Zojoji Temple, Tokyo. Disana semua menuliskan wish list mereka mulai pukul 20:30. Lalu 2 jam setelah itu balon dibagikan dan tepat pukul 23.30 New Year’s Eve ceremony diadakan. Setelah itu sekitar 3000 Balon dilepaskan tepat pada pukul 00.00

Saya senang karena ternyata ada juga kan… yang merayakan tahun baru sesuai dengan yang saya imagine
Slowly but sure, I’m hoping that I can create an OMG signature event abroad. Think positive
Who knows it will really happen in the future…. Happy New Year 2011..!!!
Thursday. December 30, 2010 9:35 - by Yoris Sebastian
Saya memang sudah 3 tahun ini, sengaja Challenge The Norms dengan tidak punya meja dan ruangan sendiri di OMG Consulting. Kalau ke kantor paling saya ke ruang meeting or my favorite is the Fun Room dimana ada PS3 disana.
Saat ini sistim ruangan di OMG Consulting sifatnya meja besar yang bisa dipakai oleh siapa saja. Jadi lebih ke workstation dibanding meja kerja pribadi. Namun kayaknya seru juga kalau di tahun 2011 akan ada kursi seperti ini di kantor

Monday. December 20, 2010 18:54 - by Yoris Sebastian
Pertanyaan ini yang kami berikan untuk para hadirin yang hadir dalam malam penghargaan Juara Social Media yang diadakan oleh majalah SWA, Sitti dan OMG Consulting. Maklum tidak seperti souvenir biasa yang diberikan, OMG memberikan car freshner sesuai dengan logo OMG.

Kenapa?
1. Yang pasti OMG Consulting selalu mencoba (in any possible way) untuk challenge the norms. Kita tidak terjebak memberikan souvenir yang biasa-biasa atau medioker untuk client kita.
2. Kalau kita berikan souvenir untuk di kantor, belum tentu setiap hari dilihat. Belum lagi client kita suka sibuk kalau di kantor. Nah, lebih seru kan logo OMG goyang-goyang di mobil sambil mengingatkan “Every Business is a Creative Business”
3. Tidak hanya sekedar beda dan sekedar branding, menurut beberapa ahli AC mobil (silahkan tanya tukang AC Mobil anda) konon kalau mobil menggunakan pewangi mobil dengan cairan nanti akan menimbulkan bau yang kurang nyaman di AC mobil anda di kemudian hari. Jadi disarankan menggunakan pewangi mobil yang sifatnya bukan cairan. Thinking Out of the Box – Execute Inside The Box dong ya.
4. Last but least, karena beda tapi meaningful jadinya diomongin
So dari berbagai jawaban yang sebenarnya super kreatif. Akhirnya kami di OMG Consulting menetapkan pemenang hadiah Samsung 2View ST 100 adalah twitter dari @Putsgrey
Sent: Dec 14, 2010 23:06
Utk menciptakan brand awareness, krn kl kita taruh di dlm mobil setiap hari OMG yg akn kt liat & ingat
#carfreshner @yoris @JuaraSocMed
Karena Putri Amithya adalah yang pertama memberikan jawaban ini, setelah itu ada beberapa yang mirip di jam-jam berikutnya atau hari berikutnya. Walau sebenarnya kalau ada yang menjawab tentang AC mobil, dialah yang akan menang namun karena sampai saat twitter contest ini ditutup belum ada yang menjawab seperti itu. Berarti Putri Amithya yang berhak mendapat camera tersebut.
Last not least, kenapa hadiah untuk twitter contest ini Samsung 2view?

Karena kamera ini memang kamera-nya social media yang sadar bahwa setiap foto yang kadang terpaksa harus kita ambil sendiri, bisa di-intip hasilnya sehingga bila mau di-upload ke twitter, facebook maupun social media lainnya sudah siap tanpa harus di edit lagi
Ah semua memang harus serba matching memang hehehe
Tuesday. December 14, 2010 8:53 - by Yoris Sebastian
KREATIVITAS adalah yang UTAMA! Itulah yang pertama kali gue pikirkan pada saat mengetahui ada lomba fotografi dari Air Asia. Jujur aja gue masih agak ragu-ragu pada saat itu untuk mengikuti lomba itu, karena deadline lombanya adalah malam itu juga, sedangkan gue gak punya foto dengan pernak-pernik Air Asia sedikitpun (salah satu persyaratannya adalah menunjukkan brand Air Asia di fotonya).
Gue gak mau kehabisan akal dan menyerah begitu saja, menurut gue ini kesempatan yang cukup besar untuk mendapatkan tiket perjalanan pulang pergi gratis ke salah satu rute penerbangan internasional Air Asia. Temanya kali itu adalah “Simply the Best”. Gue langsung teringat dengan buku Creative Junkies dari Yoris Sebastian. Kebetulan saja, gue baru aja baca buku itu sebelum gue mengikuti lomba ini, maka ini kesempatan yang bagus untuk “melatih” daya kreatif gue.
Berulang-ulang kali gue mencoba untuk membaca temanya yakni “Simply the Best”. Kemudian gue berusaha untuk memikirkan kira-kira konsep apa yang bisa sesuai dengan temanya, unik, menarik, dan pastinya kreatif. Akhirnya gue menemukan suatu ide kreatif yang langsung gue pergunakan sebagai konsep foto gue.
Temanya terdiri dari 2 kata, yakni simply dan juga best. Nah berarti gue harus membuat hal itu sesederhana mungkin tapi itulah sebenarnya yang terbaik. Maka gue pun menggunakan alat-alat yang juga sangat sederhana namun kreatif sebagai bahan objek foto gue. Gue langsung mencari poster bekas acara organisasi gue yang udah gak dipakai lagi, kemudian gue balik posternya jadilah gue mendapatkan media kosong yang bisa gue pergunakan untuk ide kreatif gue selanjutnya.
Kemudian gue ambil spidol untuk menulis dan juga kertas bekas tiket Air Asia yang udah gue pakai sebelumnya. Kebetulan sebelumnya gue sudah pernah ke Phuket, Singapore, dan juga Ho Chi Minh dan menurut gue itu perjalanan yang sangat luar biasa. Nah gue agak penasaran dengan Kuala Lumpur pada saat itu, maka dari pada itu rasa penasaran dan keinginan ini gue ubah menjadi suatu ide bahwa misi gue selanjutnya adalah berkunjung ke Kuala Lumpur dengan memenangi lomba ini. Maka jadilah poster ciptaan gue seperti berikut.

Kamera yang pakai juga bukan kamera canggih atau SLR, tapi Cuma kamera saku versi yang paling sederhana dari sebuah merk kamera. Gue gak pernah minder duluan karena gue memiliki segala keterbatasan, dari sana gue justru percaya bahwa sebenarnya ide guelah yang memiliki value besar, bukan ada di faktor kameranya atau juga peralatan yang gue pergunakan. Bener banget apa yang ditulis di bukunya Yoris bahwa memang ide kreatif itu memiliki values yang besar dan sangat berharga untuk kita.
Tidak lama berselang dari tanggal pengiriman foto itu, gue cukup merinding setelah mendapatkan email dari kantor Air Asia Pusat yang di Kuala Lumpur. Di email itu diumumkan bahwa ternyata gue menjadi salah satu pemenangnya. Yang lebih bikin merinding lagi adalah ternyata lomba ini levelnya se-Asia Tenggara dan gue adalah pemenang asal Indonesia. Akhirnya tiket perjalanan pulang pergi Jakarta-Kuala Lumpur pun berhasil gue dapatkan, sesuai dengan apa yang gue inginkan sebelumnya.
Disini gue Cuma mau bilang bahwa apa yang dituliskan di buku Creative Junkies bukan suatu teori dan isapan jempol belaka. Apa yang dituliskan disana benar-benar dapat di praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari, asalkan kita memang mau melakukannya. Terkadang banyak orang yang gagal karena tidak mau melakukannya atau justru menyerah begitu saja di tengah jalan.
Kita harus memiliki mimpi dan mimpi itu harus bisa kita wujudkan. Untuk mewujudkan mimpi itu, kita harus kreatif. Tidak menyerah begitu saja ketika keterbatasan menghalangi kita. Gue bukan seorang fotografer, gue juga tidak punya kamera yang profesional, tapi gue punya ide kreatif yang bisa mewujudkan mimpi gue itu. Kalau gue aja bisa, kenapa kalian juga gak bisa sob?
Kisah nyata dari Jonathan Christian Susanto
Mahasiswa STIKOM LSPR Jakarta
@trapjovers89
www.guejojo.com
Thursday. December 9, 2010 13:20 - by Yoris Sebastian

Akhirnya sempat juga saya menulis tentang Onrop! Musikal yang baru-baru ini dipentaskan di Teater Besar, Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki.
Senang karena akhirnya saya menemukan sebuah tontonan musikal yang komplit dari segi cerita, set & lighting serta pemain yang memang bagus suaranya untuk pertunjukan musikal.
Salut untuk Joko Anwar yang secara kreatif terus menciptakan opportunity dalam ber-kreasi. Masih bersama ‘orang-orang film’ lainnya mereka secara serius menggarap pertunjukan musikal ini, sebut saja Afi Shamara, yang sudah beberapa memproduseri film-film hebat karya anak negeri, di antaranya: Ca Bau Kan, Biola Tak Berdawai, Arisan! dan Badai Pasti Berlalu.
Lalu sebagai Executive Producer ada Dian Mediana dan Philipus Wirjadi yang sempat saya kenal di film Badai Pasti Berlalu.
Yang pasti Onrop! Musikal sukses selama 9 hari. Salah satu kunci sukses karena adanya investasi besar (mungkin sebesar investasi sebuah film) namun karena dibuat selama 9 hari sehingga biaya per hari nya tidak terlalu mahal. Bayangkan dengan pertunjukan musikal atau teater lainnya yang biasanya hanya 3-4 hari.

Mira Lesmana di berbagai media juga sudah siap menggelar pertunjukan musikal Laskar Pelangi dengan biaya tidak lebih kecil dari film Laskar Pelangi. Berarti sekitar 8 Milyar digunakan untuk menggelar pertunjukan yang akan mulai 17 Desember ini. Namun Laskar Pelangi Musikal akan di gelar selama 24 hari sehingga tentu diharapkan bisa mendapatkan revenue yang juga sepadan dengan investasinya. Belum lagi potensi sponsor untuk Laskar Pelangi yang sudah punya brand kuat. Mudah-mudahan sponsornya tidak sekedar logo-logo dan banner ya
Setelah itu akan ada Ali Topan dan saya berharap terus bergulir pertunjukan-pertunjukan berkualitas seperti 3 judul yang saya sebut diatas. Sehingga kita bisa tunjukkan bahwa teater adalah industri yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Saya berharap nantinya ada investor yang akan membangun teater baru di Jakarta, setelah melihat kesuksesan Teater Besar di TIM.
Every Big Step, Starts With an Inch. Onrop! lalu Laskar Pelangi dan Ali Topan adalah langkah kecil untuk menjadikan teater sebagai industri yang populer namun berkualitas. Kita tidak bisa langsung punya Broadway seperti di Amerika, karena semuanya perlu proses. Bayangkan kalau nantinya kita punya pertunjukan musikal yang diputar tahunan.
Broadway yang merupakan salah satu magnet dari kota New York menurut catatan The Broadway League berhasil mengeruk keuntungan lebih dari 1 milyar dolar Amerika dari pertunjukkan-pertunjukkan yang mereka pergelarkan selama tahun 2009-2010.
Dibangun kurang lebih di abad ke 19, pertunjukan pertama yang dipertontonkan adalah karya musikal The Black Crook tahun 1886 (masih dianggap sebagai karya pertunjukkan musikal megah pertama di dunia). Pertunjukkan itu terus dipertunjukkan selama 474 kali.
Namun apabila dibandingkan dengan pertunjukkan kontemporer Broadway sekarang ini, angka itu masih sangat kecil.
Pertunjukkan terpanjang menurut sejarah Broadway adalah Cats, sejak tahun 1982 sampai 2000, dengan total pertunjukkan sebanyak 7.485 kali. Sedangkan yang masih sampai sekarang bertahan adalah The Phantom of the Opera (dipertunjukkan di the Majestic Theatre) dengan 9.491 kali pertunjukkan. Karena itulah set panggung, tata cahaya dan kualitas para pemain sangat luar biasa.
Bahkan banyak bintang besar yang berawal dari panggung teater di antaranya: Jane Krakowski (Ally McBeal, 30 ROCKS), Brooke Shields (Endless Love), Val Kilmer (Batman), David Schwimmer (Friends), Tobey Maguire (Spiderman), Kim Cattrall (Sex and the City), Kevin Spacey (The American Beauty), Judi Dench (James Bond) dan Whoopi Goldberg (Sister Act).
Semoga industri teater di Indonesia akan tumbuh… dan lagi-lagi creative people membuktikan… they’ll find their way… no matter how hard the condition is. Semoga…
Seperti kutipan dari lirik lagu Laskar Pelangi milik Nidji… “Mimpi adalah kunci… untuk kita menaklukkan dunia…”